Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
20 Anak di Filipina Dirawat karena Komplikasi Campak Ini
ilustrasi anak dirawat di rumah sakit (magnific.com/DCStudio)
  • Subacute sclerosing panencephalitis (SSPE) adalah komplikasi campak yang langka, tetapi dapat muncul beberapa tahun setelah anak tampak pulih.

  • Studi di Filipina meninjau 20 anak di satu rumah sakit; jumlah ini tidak dapat dipakai untuk menghitung risiko SSPE di seluruh populasi.

  • Pencegahan utamanya adalah melindungi anak dari campak melalui imunisasi sesuai jadwal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setelah pulih dari campak, seorang anak mungkin kembali bermain dan menjalani aktivitas seperti biasa. Namun, dalam kasus yang langka, infeksi campak dapat memicu komplikasi otak yang baru terlihat bertahun-tahun kemudian, saat keluarga sudah mengira penyakitnya berlalu.

Komplikasi itu disebut subacute sclerosing panencephalitis (SSPE). Penyakit ini menyebabkan penurunan fungsi otak dan saraf secara progresif, serta hampir selalu berakibat fatal. SSPE dapat muncul setelah anak tampak sembuh dari campak, karena virus menetap di sistem saraf pusat.

Studi meninjau 20 anak di satu rumah sakit

Laporan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases meninjau catatan 20 anak yang dirawat dengan SSPE di sebuah rumah sakit anak di Quezon City, Filipina, pada 2007–2022. Usia rata-rata mereka saat dirawat adalah 6,2 tahun, sedangkan usia rata-rata saat dilaporkan mengalami campak adalah sekitar 8 bulan.

Empat anak diperkirakan terinfeksi saat wabah campak 2018–2019. Mereka dirawat pada 2020–2022, sekitar 2–3 tahun setelah infeksi. Peneliti menduga kasus-kasus ini mungkin menjadi awal dari gelombang kasus pascawabah, sebab SSPE dapat memiliki jeda bertahun-tahun.

Perubahan perilaku bisa menjadi tanda awal

ilustrasi anak tidur (pexels.com/RDNE Stock project)

SSPE biasanya berkembang secara bertahap. Pada tahap awal, anak dapat mengalami perubahan perilaku atau kemampuan berpikir. Selanjutnya, bisa muncul gerakan menyentak yang tidak terkendali, kejang, gangguan gerak, hingga penurunan kesadaran.

Gejala tersebut tidak otomatis berarti seorang anak mengalami SSPE. Namun, perubahan kemampuan yang makin memburuk, terutama jika disertai gerakan menyentak atau kejang, perlu diperiksa oleh dokter.

Riwayat campak yang tidak diketahui juga tidak selalu menyingkirkan kemungkinan SSPE. Dalam laporan kasus ini, riwayat campak tidak diketahui atau tidak tercatat pada sekitar seperempat anak.

Sebagian anak dalam laporan itu pernah menerima vaksin campak. Peneliti menegaskan bahwa SSPE berkaitan dengan infeksi virus campak alami, bukan virus campak yang dilemahkan dalam vaksin.

Imunisasi membantu mencegah campak dan komplikasinya

Pencegahan utama SSPE adalah mencegah infeksi campak. Di Indonesia, jadwal imunisasi rutin campak-rubela pada usia 9 dan 18 bulan, serta imunisasi lanjutan pada anak usia sekolah. Orangtua dapat mengecek buku KIA atau berkonsultasi dengan puskesmas untuk memastikan anak mendapat imunisasi sesuai jadwal dan mengejar dosis yang terlewat.

Referensi

Maela P. Palisoc, Maridel S. Ramones, and Roland Dominic G. Jamora, “Subacute Sclerosing Panencephalitis after Measles Outbreaks, the Philippines, 2007–2022,” Emerging Infectious Diseases 32, no. 11 (November 2026), early release October 13, 2026, https://doi.org/10.3201/eid3211.261395.

CIDRAP, “New Report Details Deadly Toll of Delayed Measles Complication in Kids,” diakses 18 Oktober 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Clinical Overview of Measles,” diakses 18 Oktober 2026.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Seputar Imunisasi,” diakses 18 Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article