Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Berapa Lama Perlindungan dari Vaksin Campak? Seumur Hidup?

Berapa Lama Perlindungan dari Vaksin Campak? Seumur Hidup?
Program imunisasi Campak di Klungkung. (Dok. IDN Times/istimewa)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Dua dosis vaksin campak umumnya memberikan perlindungan jangka panjang, bahkan bisa seumur hidup.

  • Sebagian kecil orang bisa kehilangan atau tidak membentuk kekebalan optimal, sehingga tetap berisiko.

  • Booster tidak rutin untuk semua orang, tetapi dianjurkan pada kondisi tertentu seperti risiko tinggi atau imunisasi tidak lengkap.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Banyak orang menganggap vaksin memberikan perlindungan seumur hidup. Akan tetapi, realitasnya tidak sesederhana itu. Setiap vaksin memiliki durasi perlindungan yang dipengaruhi oleh cara kerja sistem imun, jenis vaksin, dan kondisi individu.

Pada vaksin campak, di satu sisi vaksin ini dikenal sangat efektif dan tahan lama. Di sisi lain, masih ada pertanyaan penting mengenai apakah perlindungannya benar-benar bertahan seumur hidup untuk semua orang?

Table of Content

1. Cara kerja vaksin campak

1. Cara kerja vaksin campak

Vaksin campak, yang biasanya diberikan dalam bentuk MMR (measles, mumps, rubella), menggunakan virus yang dilemahkan untuk melatih sistem imun.

Setelah divaksinasi, tubuh akan:

  • Membentuk antibodi terhadap virus campak.
  • Mengembangkan memori imun jangka panjang.
  • Siap merespons cepat jika terpapar di masa depan.

Dua dosis vaksin memberikan perlindungan sekitar 97 persen terhadap infeksi campak.

2. Lama perlindungan vaksin campak dan hal-hal terkait

Ilustrasi penyuntikan vaksin.
ilustrasi penyuntikan vaksin (IDN Times/Halbert Caniago)
  • Perlindungan jangka panjang, bahkan seumur hidup

Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa vaksin campak memberikan perlindungan jangka panjang yang sangat kuat.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), individu yang menerima dua dosis vaksin biasanya memiliki kekebalan yang bertahan puluhan tahun, bahkan berpotensi seumur hidup.

Menurut penelitian, antibodi campak tetap terdeteksi lebih dari 20–30 tahun setelah vaksinasi, tanpa penurunan signifikan pada sebagian besar individu. Ini menjadikan vaksin campak sebagai salah satu vaksin dengan durasi perlindungan terbaik.

  • Sudah divaksinasi, kenapa ada yang masih bisa terinfeksi?

Meski perlindungannya kuat, tetapi tidak semua orang memiliki respons imun yang sama. Ada dua kemungkinan utama.

Pertama adalah kegagalan vaksinasi primer (primary vaccine failure), yang terjadi ketika tubuh tidak membentuk kekebalan setelah vaksinasi pertama.

Kedua adalah kegagalan vaksinasi sekunder (secondary vaccine failure/penurunan kekebalan pasca vaksinasi/waning immunity), yang berarti kekebalan menurun seiring waktu, meskipun ini relatif jarang pada vaksin campak.

Menurut penelitian, sekitar 3–7 persen orang mungkin tidak sepenuhnya terlindungi setelah satu dosis, yang menjadi alasan pentingnya dosis kedua.

  • Peran paparan alami dalam mempertahankan imunitas

Di masa lalu, virus campak beredar luas, sehingga orang yang sudah divaksinasi tetap terpapar virus secara alami—tanpa sakit—yang secara tidak langsung menguatkan imunitas mereka. Namun, dengan menurunnya sirkulasi virus akibat vaksinasi global, boosting/penguat alami ini makin jarang terjadi.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang apakah imunitas bisa menurun pada sebagian kecil populasi dalam jangka sangat panjang.

3. Apakah perlu booster vaksin campak?

Untuk kebanyakan orang, jawabannya: tidak perlu rutin. Namun, booster dapat direkomendasikan dalam situasi tertentu, seperti:

  • Tidak memiliki bukti vaksinasi lengkap.
  • Berisiko tinggi (tenaga kesehatan, pelancong).
  • Tinggal di area wabah.
  • Kondisi imunitas tertentu.

Orang yang sudah menerima dua dosis vaksin MMR umumnya tidak memerlukan tambahan dosis, kecuali dalam kondisi khusus.

4. Faktor-faktor yang memengaruhi durasi perlindungan dari vaksin campak

Ilustrasi vaksin campak.
ilustrasi vaksin campak (freepik.com/freepik)

Beberapa faktor yang dapat memengaruhi lamanya perlindungan antara lain:

  • Jumlah dosis vaksin: Dua dosis memberikan perlindungan jauh lebih stabil dibanding satu dosis.
  • Usia saat vaksinasi: Vaksin yang diberikan terlalu dini (sebelum sistem imun matang) mungkin kurang optimal.
  • Kondisi sistem imun: Individu dengan gangguan imun mungkin memiliki respons yang berbeda.
  • Paparan virus: Paparan alami dapat memperkuat kekebalan, meskipun ini kini lebih jarang terjadi.

5. Apa kata penelitian?

Ada tiga penelitian penting dari penelitian:

  • Vaksin campak adalah salah satu vaksin paling efektif dengan perlindungan jangka panjang.
  • Antibodi dapat bertahan selama beberapa dekade.
  • Kegagalan vaksin lebih sering terjadi karena tidak lengkapnya imunisasi, bukan karena hilangnya efek vaksin.

Vaksin campak menawarkan perlindungan yang tidak hanya kuat, tetapi juga tahan lama. Bagi sebagian besar orang, dua dosis sudah cukup untuk memberikan kekebalan jangka panjang, bahkan seumur hidup.

Namun, tidak semua orang memiliki respons yang sama. Memastikan status vaksinasi lengkap tetap menjadi langkah paling penting. Dalam konteks penyakit yang sangat menular seperti campak, perlindungan individu juga berarti perlindungan bagi komunitas.

Referensi

Centers for Disease Control and Prevention. “Measles Vaccination.” Diakses Maret 2026.

World Health Organization. “Measles Vaccines: WHO Position Paper.” Diakses Maret 2026.

National Institute of Allergy and Infectious Diseases. “Measles Immunity.” Diakses Maret 2026.

Moss, William J. “Measles.” The Lancet 390, no. 10111 (July 1, 2017): 2490–2502. https://doi.org/10.1016/s0140-6736(17)31463-0.

M. Kontio et al., “Waning Antibody Levels and Avidity: Implications for MMR Vaccine-Induced Protection,” The Journal of Infectious Diseases 206, no. 10 (September 10, 2012): 1542–48, https://doi.org/10.1093/infdis/jis568.

Francesco Paolo Bianchi et al., “Long-term Immunogenicity After Measles Vaccine Vs. Wild Infection: An Italian Retrospective Cohort Study,” Human Vaccines & Immunotherapeutics 17, no. 7 (January 27, 2021): 2078–84, https://doi.org/10.1080/21645515.2020.1871296.

Peter M. Strebel and Walter A. Orenstein, “Measles,” New England Journal of Medicine 381, no. 4 (July 10, 2019): 349–57, https://doi.org/10.1056/nejmcp1905181.

Peter M. Strebel et al., “Measles Vaccine,” in Vaccines, 2008, 353–98, https://doi.org/10.1016/b978-1-4160-3611-1.50022-2.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More