Ada beberapa langkah sederhana yang bisa membantu:
Hindari paparan aroma makanan berlebihan jika memicu ketidaknyamanan.
Perhatikan pola sahur (hindari makanan terlalu pedas/berlemak jika punya riwayat refluks).
Posisi tubuh tetap tegak menjelang berbuka.
Jika punya GERD, diskusikan pengaturan obat dengan dokter.
Air liur berlebih saat puasa sering kali merupakan respons normal tubuh terhadap lapar, rangsangan makanan, atau perubahan ritme pencernaan. Dalam banyak kasus, ini bukan tanda penyakit serius, melainkan bagian dari mekanisme protektif tubuh. Jadi, tidak perlu langsung panik jika merasa mulut terasa penuh oleh air liur sendiri, ya!
Referensi
Paul Am Smeets, Alfrun Erkner, and Cees De Graaf, “Cephalic Phase Responses and Appetite,” Nutrition Reviews 68, no. 11 (October 20, 2010): 643–55, https://doi.org/10.1111/j.1753-4887.2010.00334.x.
Philip O. Katz et al., “ACG Clinical Guideline for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease,” The American Journal of Gastroenterology 117, no. 1 (November 22, 2021): 27–56, https://doi.org/10.14309/ajg.0000000000001538.
Colin Dawes, “Salivary Flow Patterns and the Health of Hard and Soft Oral Tissues,” The Journal of the American Dental Association 139 (May 1, 2008): 18S-24S, https://doi.org/10.14219/jada.archive.2008.0351.
“Saliva and Your Mouth.” National Institute of Dental and Craniofacial Research. Diakses Maret 2026.
“Acid Reflux (GERD).” American College of Gastroenterology. Diakses Maret 2026.
“Hypersalivation (Sialorrhea).” Cleveland Clinic. Diakses Maret 2026.