Yumi C. Del Rey et al., “Arginine Modulates the pH, Microbial Composition, and Matrix Architecture of Biofilms From Caries-active Patients,” International Journal of Oral Science 17, no. 1 (November 20, 2025): 70, https://doi.org/10.1038/s41368-025-00404-5.
"This natural amino acid could help stop cavities before they start." Science Daily. Diakses Januari 2026.
Rahasia Cegah Gigi Berlubang Ternyata Ada di Air Liur

- Arginin dalam air liur dapat menurunkan keasaman biofilm bakteri di gigi.
- Biofilm yang terpapar arginin menjadi kurang merusak meski terkena gula.
- Efek arginin berbeda pada setiap orang, menandakan peran mikrobioma yang kompleks.
Gigi berlubang bukan semata-mata disebabkan oleh konsumsi makanan/minuman manis. Masalah sebenarnya muncul setelah gula masuk ke mulut dan menjadi makanan bagi bakteri. Mikroorganisme ini kemudian menghasilkan asam yang perlahan mengikis email gigi, terutama ketika mereka membentuk lapisan lengket yang disebut biofilm di permukaan gigi.
Sebuah studi dari Aarhus University, Denmark, mengungkap bahwa keseimbangan ini ternyata bisa dibalik. Peneliti menemukan bahwa peningkatan kadar arginin—asam amino yang secara alami terdapat dalam air liur—dapat mengubah biofilm bakteri dari yang bersifat merusak menjadi lebih protektif.
Arginin bukan senyawa asing bagi tubuh. Senyawa sudah lama dikenal berperan dalam berbagai proses biologis, termasuk kesehatan pembuluh darah. Namun kini, perannya dalam menjaga kesehatan gigi mulai terlihat makin jelas. Bukan cuma di laboratorium, tetapi juga di kondisi nyata dalam mulut manusia.
Arginin mengubah perilaku biofilm bakteri
Penelitian ini melibatkan sepuluh partisipan dengan karies aktif. Mereka mengenakan gigi tiruan khusus selama empat hari. Pada gigi tiruan tersebut terdapat panel kecil tempat biofilm bakteri dibiarkan tumbuh, meniru kondisi alami permukaan gigi.
Tiga kali sehari, panel biofilm direndam dalam larutan gula. Setelah itu, satu sisi diberi perlakuan arginin, sementara sisi lain hanya direndam air suling. Hasilnya cukup konsisten: biofilm yang terpapar arginin menunjukkan pH yang lebih tinggi, artinya tingkat keasamannya lebih rendah meskipun terkena gula.
Analisis lanjutan menunjukkan bahwa arginin tidak hanya menurunkan keasaman, tetapi juga mengubah komposisi biofilm. Kadar gula fukosa—yang berperan dalam struktur biofilm—menurun, sementara galaktosa justru terdorong ke lapisan luar biofilm, menjauh dari permukaan gigi. Ini berarti lingkungan tepat di atas gigi menjadi kurang agresif terhadap email.
Dari sisi bakteri, perlakuan arginin menekan populasi Streptococcus penghasil asam dan sedikit meningkatkan bakteri yang mampu memetabolisme arginin. Dengan kata lain, arginin membantu “mengatur ulang” ekosistem mikroba di mulut.
Potensi besar, tetapi tidak sama pada semua orang

Walaupun hasilnya menjanjikan, tetapi para peneliti mencatat satu hal penting, bahwa respons terhadap arginin sangat bervariasi antarindividu.
Beberapa partisipan menunjukkan perubahan signifikan, sementara yang lain hampir tidak merespons sama sekali. Variasi ini belum bisa dijelaskan sepenuhnya oleh perbedaan jenis bakteri atau komposisi gula dalam biofilm.
Temuan ini menegaskan bahwa mikrobioma mulut bekerja dengan cara yang sangat personal. Faktor genetik, kebiasaan makan, produksi air liur, hingga riwayat kesehatan mulut kemungkinan ikut memengaruhi hasilnya.
Meski begitu, arginin tetap dipandang sebagai kandidat kuat untuk pencegahan karies di masa depan. Zat ini sudah dianggap aman, tersedia secara alami di mulut, dan bahkan digunakan dalam terapi medis lain seperti hipertensi. Ke depannya, arginin berpotensi menjadi bahan tambahan penting dalam pasta gigi atau obat kumur. Bukan sebagai solusi tunggal, tetapi sebagai bagian dari pendekatan yang lebih cerdas dalam menjaga kesehatan gigi.
Kesimpulannya, studi ini memberi tahu bahwa pertahanan terbaik terhadap penyakit sudah ada di dalam tubuh kita sendiri, tinggal bagaimana cara memaksimalkannya.
Referensi


















