ilustrasi ayam bakar dan sambal (unsplash.com/Brian Fathurohman)
Ada beberapa penjelasan mengapa makanan pedas bisa memicu cegukan:
Kapsaisin mengikat reseptor TRPV1 yang mendeteksi sensasi panas dan nyeri di mulut, esofagus, dan lambung. Paparan kapsaisin ini tidak hanya menimbulkan sensasi panas, tetapi dapat memicu respons saraf yang ikut terhubung dengan jalur refleks cegukan. Ketika reseptor ini aktif, sinyal yang dilepaskan dapat membingungkan saraf seperti frenik dan vagus yang berhubungan dengan diafragma, memicu kontraksi tak terkendali.
Selain itu, kapsaisin dapat mengiritasi esofagus saat makanan pedas lewat. Iritasi ini bisa merangsang saraf vagus, yang menyediakan input sensorik hingga batang otak dan memainkan peran dalam refleks cegukan. Ketika saraf vagus terganggu oleh iritasi kimia (seperti kapsaisin) atau mekanik (seperti refluks asam), diafragma dapat mengalami kontraksi refleks.
Saat kamu menikmati makanan pedas, kamu sering kali cenderung makan dengan cepat dan menelan lebih banyak air liur karena sensasi panas. Kebiasaan ini bisa menyebabkan kamu menelan udara (aerofagia), yang menambah distensi lambung. Distensi perut bisa menekan diafragma dan memicu refleks cegukan melalui jalur saraf yang sama.
Makanan pedas juga dikenal dapat memperburuk refluks asam (GERD) pada sebagian orang dengan saluran pencernaan yang sensitif. Asam lambung yang naik ke esofagus merangsang saraf vagus dan dapat memicu cegukan sebagai respons refleks. Meski mekanisme pasti masih dipelajari, tetapi hubungan antara refluks dan hiperaktivasi saraf refleks sudah dicatat dalam literatur medis tentang cegukan.