Seberapa efektif melakukan medical check up untuk mencegah risiko-risiko kesehatan? Tidak ada data yang menunjukkan angka pasti untuk keefektifannya, kata dr. Febryana.
"Jadi sebenarnya 50:50 ya; 50 efektif, 50 tidak efektif. Kalau misalkan pasien sudah melakukan pemeriksaan, kemudian diedukasi, diarahkan untuk mengubah pola hidupnya, olahraga, makan obat, terus dipantau, evaluasi lagi dari pemeriksaan sebelumnya, kemudian diikuti saran tersebut oleh pasien, ternyata cenderung membaik hasilnya. Nah, itu berarti efektivitasnya yang 50, naik 70–80 persen," imbuhnya.
Sebaliknya, jika pasien sudah diedukasi untuk mengubah hidup jadi lebih baik lagi, tetapi tidak mau melakukannya, efektivitasnya dari 50 turun ke 30 persen, nantinya bisa mengembangkan penyakit.
Untuk usia 18 sampai 40 tahun, direkomendasikan melakukan pemeriksaan kesehatan setiap lima tahun sekali. Namun, jika lebih dari 40 tahun, harus melakukan pemeriksaan tiga tahun sekali. Sementara untuk orang-orang yang konsumsi obat rutin, harus lebih sering.
Sebelum melakukan pemeriksaan kesehatan, umumnya pasien harus puasa makan 10–12 jam dan tetap diperbolehkan minum air putih.
Jika ada obat-obatan yang dikonsumsi secara rutin, boleh diminum saat sudah diambil darah atau usai melakukan pemeriksaan. Pasien juga harus tidur yang cukup supaya hasil tensinya tidak meningkat.
Pemeriksaan kesehatan bukan hanya formalitas, tetapi investasi jangka panjang untuk menjaga kualitas hidup. Deteksi dini dapat mencegah risiko penyakit yang lebih serius dan memungkinkan penanganan lebih cepat serta efektif. Dengan rutin memeriksakan kesehatan, kita bisa lebih memahami kondisi tubuh dan mengambil langkah pencegahan yang tepat.