Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
American Academy of Pediatrics Serukan Larangan Penjualan Raw Milk
ilustrasi susu mentah atau raw milk (pixabay.com/congerdesign)
  • American Academy of Pediatrics (AAP) menyerukan larangan penjualan dan distribusi susu mentah beserta olahannya di AS, serta menganjurkan keluarga memilih produk yang dipasteurisasi.

  • Susu mentah berisiko membawa bakteri penyebab infeksi serius; wabah Salmonella 2023–2024 terkait produk komersial mencatat 171 kasus, sekitar 70 persen dialami pasien di bawah 18 tahun.

  • AAP menilai klaim manfaat gizi atau pencegahan alergi dari raw milk belum cukup terbukti; pasteurisasi mempertahankan gizi sebanding dan efektif menginaktivasi H5N1.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Segelas susu mentah (raw milk) dan segelas susu pasteurisasi mungkin terlihat sama. Akan tetapi, ada satu perbedaan penting pada proses pengolahannya. Susu pasteurisasi dipanaskan pada suhu dan durasi tertentu untuk mengurangi kuman penyebab penyakit.

Perbedaan itu menjadi dasar pernyataan kebijakan terbaru American Academy of Pediatrics (AAP). Dalam dokumen yang terbit dalam jurnal Pediatrics pada 5 Oktober 2026, organisasi dokter anak Amerika Serikat (AS) tersebut menganjurkan keluarga memilih susu yang telah dipasteurisasi. AAP juga menyerukan agar penjualan dan distribusi susu mentah serta produk olahannya dilarang di seluruh AS.

Apa itu raw milk?

Raw milk adalah susu yang belum melalui proses pasteurisasi. Istilah ini juga mencakup produk yang dibuat dari susu mentah, seperti keju, yoghurt, es krim, atau krim.

Dalam pasteurisasi, susu dipanaskan dengan suhu dan waktu tertentu, lalu didinginkan. Proses ini mengurangi kuman berbahaya, tetapi tidak membuat susu steril sepenuhnya. Karena itu, susu pasteurisasi tetap perlu disimpan dan ditangani sesuai petunjuk pada kemasan. Kontaminasi juga masih dapat terjadi setelah proses pasteurisasi.

Susu mentah dapat terkontaminasi dari hewan, lingkungan, atau proses pemerahan dan pengolahan. Kebersihan peternakan dapat membantu mengurangi risiko, tetapi tidak menjamin susu bebas kuman. Pendinginan pun tidak menghilangkan kuman yang sudah ada.

Kuman dalam susu mentah bisa menyebabkan sakit berat

Sejumlah kuman dapat ditemukan dalam susu mentah, termasuk Listeria monocytogenes, Campylobacter jejuni, Salmonella, Brucella, dan Escherichia coli O157. Infeksi dapat terjadi pada orang sehat maupun mereka yang daya tahan tubuhnya lemah.

Gejalanya bisa berupa diare, kram perut, muntah, dan demam. Pada sebagian orang, infeksi dapat berkembang menjadi komplikasi berat. Salah satunya adalah sindrom uremik hemolitik yang dapat merusak ginjal serta sindrom Guillain-Barré yang dapat menyebabkan kelemahan hingga kelumpuhan. Risiko penyakit berat lebih tinggi pada anak di bawah 5 tahun, ibu hamil, lansia, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Kehamilan memerlukan perhatian khusus karena beberapa infeksi yang berasal dari makanan dapat membahayakan ibu dan janin. AAP mengingatkan bahwa infeksi tertentu yang berkaitan dengan susu mentah dapat menimbulkan penyakit berat, termasuk risiko keguguran.

Menurut investigasi wabah Salmonella yang terkait dengan produk susu mentah yang dijual secara komersial di California dan empat negara bagian lain di AS, tercatat ada 171 kasus pada periode 2023–2024; sekitar 70 persen pasien berusia di bawah 18 tahun. Investigasi juga menemukan bakteri wabah pada susu mentah dan keju mentah yang diproduksi oleh peternakan terkait.

Bagaimana dengan klaim manfaat raw milk?

ilustrasi susu mentah atau raw milk (pixabay.com/NoName_13)

Sebagian pendukung raw milk mengklaim bahwa produk ini lebih bernutrisi atau dapat membantu mencegah alergi. AAP menyatakan klaim manfaat tersebut belum memiliki dasar bukti yang cukup untuk mengimbangi risiko infeksi. Susu pasteurisasi tetap memberikan manfaat gizi yang sebanding tanpa risiko tambahan dari kuman dalam susu mentah.

Pasteurisasi memang dapat menurunkan kadar beberapa vitamin yang peka terhadap panas. Namun, tinjauan sistematis terhadap 40 studi menyimpulkan bahwa dampak keseluruhan proses tersebut terhadap nilai gizi susu tergolong kecil. Tinjauan yang sama juga menilai bukti tentang manfaat raw milk untuk mencegah alergi masih terbatas dan berpotensi dipengaruhi faktor lain.

Alasan lain untuk berhati-hati: risiko paparan H5N1

Kekhawatiran lain berkaitan dengan virus flu burung H5N1 yang ditemukan pada sapi perah dan dalam susu dari hewan yang terinfeksi. Namun, AAP mencatat bahwa sejauh ini belum ada bukti kasus pada manusia yang berasal dari konsumsi susu mentah. Oleh karena itu, klaim bahwa H5N1 terbukti menular ke manusia melalui raw milk tidak didukung oleh bukti yang ada saat ini.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menyatakan belum diketahui apakah H5N1 dapat menular kepada manusia melalui konsumsi susu mentah dari sapi terinfeksi. Namun, proses pasteurisasi yang digunakan secara komersial efektif menginaktivasi virus.

Dengan kata lain, keberadaan virus pada susu mentah menjadi alasan kehati-hatian, sementara risiko penularan melalui konsumsi pada manusia masih belum bisa dipastikan.

Cara memilih produk susu dengan lebih aman

AAP menganjurkan ibu hamil, orang tua menyusui, bayi, dan anak-anak hanya mengonsumsi susu serta produk susu yang dipasteurisasi.

Periksa label kemasan dan cari keterangan “pasteurized” atau “dipasteurisasi”.

Perhatikan juga informasi pada label keju dan produk olahan lainnya, karena bahan bakunya mungkin susu mentah. Jika informasinya tidak jelas, tanyakan kepada penjual atau pilih produk lain.

Pasteurisasi menurunkan risiko, tetapi tetap perhatikan kebersihan dan cara penyimpanannya. Ikuti petunjuk penyimpanan pada kemasan dan buang produk yang sudah kedaluwarsa atau menunjukkan tanda kerusakan.

Jika setelah mengonsumsi raw milk kamu mengalami diare berdarah, diare lebih dari tiga hari, demam tinggi, muntah berulang hingga sulit minum, atau tanda dehidrasi, segera cari bantuan medis. Ibu hamil yang mengalami demam atau gejala seperti flu juga sebaiknya menghubungi tenaga kesehatan.

Referensi

Adam J. Ratner, Anne Sardi, Mark R. Corkins, and American Academy of Pediatrics Committee on Infectious Diseases and Committee on Nutrition, “Consumption of Unpasteurized (Raw) Milk and Milk Products by Pregnant People and Children: Policy Statement,” Pediatrics, published October 5, 2026, https://doi.org/10.1542/peds.2026-079036.

Centers for Disease Control and Prevention, “Raw Milk,” diakses 7 Oktober 2026.

Eva Weinstein et al., “Outbreak of Salmonella Typhimurium Infections Linked to Commercially Distributed Raw Milk—California and Four Other States, September 2023–March 2024,” Morbidity and Mortality Weekly Report 74, no. 27 (July 24, 2025): 433–38, https://www.cdc.gov/mmwr/volumes/74/wr/mm7427a1.htm.

Lauren E. Macdonald et al., “A Systematic Review and Meta-Analysis of the Effects of Pasteurization on Milk Vitamins, and Evidence for Raw Milk Consumption and Other Health-Related Outcomes,” Journal of Food Protection 74, no. 11 (November 2011): 1814–32, https://doi.org/10.4315/0362-028X.JFP-10-269.

U.S. Food and Drug Administration, “Investigation of Avian Influenza A (H5N1) Virus in Dairy Cattle,” diakses 7 Oktober 2026.

Centers for Disease Control and Prevention, “Food Poisoning Symptoms,” diakses 7 Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article