- Lemak jenuh, terutama jika LDL tinggi.
- Protein, karena susu almon dan oat bisa jauh lebih rendah daripada susu sapi atau kedelai.
- Gula tambahan, terutama pada produk berperisa.
- Kalsium dan vitamin D, terutama jika mengganti susu sapi sepenuhnya dengan minuman nabati.
Kandungan Kolesterol Berbagai Jenis Susu, Mana Paling Rendah?

Kolesterol hanya ditemukan pada susu hewani. Alternatif susu nabati seperti kedelai, almon, dan oat secara alami tidak mengandung kolesterol.
Makin rendah kadar lemak susu sapi, umumnya makin rendah pula lemak jenuh, kalori, dan kolesterolnya, sementara kandungan protein dan kalsium relatif tetap.
Untuk kesehatan jantung, jangan hanya melihat angka kolesterol. Lemak jenuh, gula tambahan, protein, serta fortifikasi kalsium dan vitamin D juga penting.
Rak susu kini lebih beragam: susu sapi, kedelai, almon, oat, plus varian rendah lemak dan bebas laktosa.
Jika menjaga kolesterol, produk tanpa kolesterol tampak menarik, tetapi kolesterol makanan bukan fokus utama untuk menurunkan risiko kardiovaskular. Yang lebih efektif adalah mengurangi lemak jenuh dan menggantinya dengan lemak tak jenuh untuk menurunkan LDL.
Ada banyak jenis susu. Berikut ini jenis-jenisnya, kandungan nutrisinya, termasuk kandungan kolesterolnya. Diharapkan ini bisa jadi panduan kamu dalam memilih susu yang paling sesuai dengan kebutuhan kamu.
Table of Content
Gambaran singkat per satu gelas
Angka berikut merupakan perkiraan untuk sekitar 240 mL berdasarkan data komposisi USDA. Kandungan aktual dapat berbeda menurut produk, fortifikasi, dan merek.
Jenis
Kolesterol
Protein
Lemak
Lemak jenuh
Kalsium
Susu sapi full cream
~24 mg
~7,6 g
~7,8 g
~4,5 g
~271 mg
Susu sapi 2 persen
~19 mg
~8,4 g
~4,6 g
~2,9 g
~307 mg
Susu sapi 1 persen
~12 mg
~8,1 g
~4,6 g
~1,5 g
~300 mg
Susu skim
~5 mg
~8–9,5 g
<1 g
<0,5 g
~300 mg atau lebih
Susu kambing
~26 mg
~8,5 g
~9,9 g
~6,4 g
~322 mg
Susu kedelai
0 mg
Sangat bervariasi; sering mendekati susu sapi
Bervariasi
Umumnya rendah
Tergantung fortifikasi
Susu almon
0 mg
Biasanya lebih rendah
Bervariasi
Umumnya rendah
Tergantung fortifikasi
Oat milk
0 mg
Biasanya lebih rendah
Bervariasi
Umumnya rendah
Tergantung fortifikasi
*Nilai susu skim dapat berbeda cukup jauh karena sebagian produk ditambah padatan susu atau difortifikasi.
1. Susu sapi full cream: kolesterol dan lemak jenuhnya paling tinggi di antara versi sapi
Susu sapi full cream mengandung sekitar 3,25 persen lemak. Dalam 100 gram, data USDA mencatat sekitar 10 mg kolesterol, 3,25 gram lemak, 1,87 gram lemak jenuh, dan 3,15 gram protein.
Dalam satu gelas sekitar 240 mL, angkanya menjadi kira-kira 24 mg kolesterol dan 4,5 gram lemak jenuh.
Namun, susu full cream tetap menyediakan protein, kalsium, fosfor, kalium, vitamin B12, dan (pada produk yang difortifikasi) vitamin D.
Perbedaan utamanya dibanding versi rendah lemak terletak pada jumlah lemak, lemak jenuh, kalori, dan kolesterol.
2. Susu 2 persen dan 1 persen: nutrisinya mirip

ilustrasi minum susu (magnific.com/garetsvisual) Ketika sebagian lemak susu dihilangkan, protein dan mineralnya tidak ikut menghilang secara proporsional.
Contohnya, susu 2 persen dalam data USDA mengandung sekitar 3,48 gram protein dan 128 mg kalsium per 100 gram, cukup sebanding dengan susu full cream. Namun, lemak jenuhnya turun menjadi sekitar 1,2 gram dan kolesterol sekitar 8 mg.
Pada susu 1 persen, kolesterol turun lagi menjadi sekitar 5 mg per 100 gram, dengan lemak jenuh sekitar 0,63 gram. Protein tetap sekitar 3,37 gram dan kalsium sekitar 125 mg.
Jadi, mengurangi lemak susu tidak berarti otomatis kehilangan sebagian besar protein dan kalsiumnya.
3. Susu skim: paling rendah kolesterol di antara susu sapi
Pada susu skim atau susu bebas atau tanpa lemak, hampir seluruh lemak susu telah dihilangkan.
Contoh data USDA menunjukkan hanya sekitar 2 mg kolesterol dan 0,16 gram lemak jenuh per 100 gram pada produk skim yang difortifikasi protein. Kandungan proteinnya sekitar 3,96 gram dan kalsium 143 mg per 100 gram.
Karena itu, American Heart Association (AHA) merekomendasikan susu rendah lemak atau bebas lemak sebagai pilihan yang lebih rendah lemak jenuh dan kolesterol bagi orang yang ingin mengikuti pola makan yang ramah buat jantung.
4. Susu kambing tidak otomatis lebih rendah kolesterol
Susu kambing kadang dianggap lebih ringan daripada susu sapi, tetapi bukan berarti lebih rendah lemak atau kolesterol.
Data USDA menunjukkan susu kambing mengandung sekitar 11 mg kolesterol, 4,14 gram lemak, dan 2,67 gram lemak jenuh per 100 gram. Protein sekitar 3,56 gram dan kalsium 134 mg.
Jadi, kandungan kolesterol susu kambing mirip—bahkan bisa sedikit lebih tinggi—dibanding susu sapi full cream.
Komposisinya juga dapat berubah menurut ras hewan, pakan, musim, dan sistem peternakan. Studi perbandingan susu kambing dan sapi menunjukkan adanya berbagai perbedaan pada profil asam lemak dan mineral, tetapi tidak ada dasar untuk menganggap susu kambing secara otomatis lebih baik untuk kolesterol.
5. Susu kedelai: bebas kolesterol dan proteinnya paling mendekati susu sapi

ilustrasi susu kedelai, soy milk (pexels.com/Polina Tankilevitch) Susu kedelai secara alami mengandung 0 mg kolesterol karena pada dasarnya tanaman tidak menghasilkan kolesterol seperti hewan.
Dari sisi protein, kedelai merupakan salah satu alternatif nabati yang paling mendekati susu sapi. Analisis 2025 terhadap 219 produk susu nabati dari 21 merek menemukan produk berbasis kedelai yang difortifikasi paling mendekati profil nutrisi susu sapi.
FDA juga menyebut minuman kedelai yang difortifikasi sebagai alternatif nabati yang secara nutrisi cukup mirip dengan susu sehingga dapat dimasukkan dalam kelompok dairy pada pedoman diet Amerika Serikat.
Namun, periksa label. Kalsium, vitamin D, dan vitamin B12 pada susu kedelai sering kali berasal dari fortifikasi, sehingga kadarnya tidak sama pada setiap produk.
6. Susu almon: bebas kolesterol, tetapi protein biasanya jauh lebih sedikit
Susu almon juga mengandung 0 mg kolesterol dan umumnya rendah lemak jenuh. Namun, jumlah almon dalam minuman komersial relatif kecil sehingga kandungan proteinnya sering jauh di bawah susu sapi atau kedelai.
Sementara itu, kadar kalsiumnya sangat dipengaruhi oleh apakah produk tersebut mendapat fortifikasi.
Karena itu, susu almon yang mencantumkan 300–400 mg kalsium pada label tidak berarti almon secara alami mengandung kalsium sebanyak susu. Sebagian besar dapat berasal dari zat kalsium yang ditambahkan saat produksi.
7. Oat milk: bebas kolesterol, tetapi biasanya tinggi karbohidrat
Oat milk juga secara alami tidak mengandung kolesterol. Perbedaannya ada pada karbohidrat.
Proses pembuatan oat milk memecah sebagian pati oat sehingga menghasilkan karbohidrat dan gula yang lebih mudah larut.
Sebuah tinjauan pada 2026 melaporkan oat milk umumnya memiliki sekitar 6,1–6,7 gram karbohidrat per 100 gram, lebih tinggi daripada susu kedelai dan susu almon pada data yang dibandingkan. Protein biasanya hanya sekitar 1,1–1,2 gram per 100 gram.
Namun, angka produk komersial bervariasi. Tinjauan World Allergy Organization menunjukkan kandungan oat milk di pasaran dapat berkisar antara 0,8–3,4 gram protein dan 4,6–10,5 gram karbohidrat per 100 mL.
8. Susu kelapa: nol kolesterol tidak otomatis baik untuk LDL

ilustrasi susu kelapa (vecteezy.com/rudoelena312083) Produk nabati berbasis kelapa tidak mengandung kolesterol, tetapi kelapa kaya akan lemak jenuh. Minyak kelapa, kelapa sawit, dan minyak inti sawit merupakan sumber lemak jenuh yang dapat meningkatkan LDL.
Kandungan dalam minuman kelapa komersial berbeda-beda karena biasanya sangat diencerkan dan dapat ditambah minyak atau bahan lainnya.
Karena itu, selalu cek kandungan lemak jenuh pada kemasan.
Bagaimana dengan susu bebas laktosa dan UHT?
Bebas laktosa menjelaskan jenis karbohidratnya, bukan kadar lemaknya. Susu lactose-free dapat tersedia dalam versi full cream, low-fat, atau skim. Kandungan kolesterolnya terutama mengikuti jumlah lemak susu.
Begitu pula dengan UHT dan pasteurisasi. Istilah tersebut menjelaskan cara susu dipanaskan agar lebih aman dan tahan lama. Susu UHT full cream tetap berbeda dengan UHT skim karena komposisi lemaknya, bukan semata-mata karena proses UHT.
Jadi, apa pilihan susu terbaik untuk mengelola atau menjaga kolesterol?
Kalau cuma membandingkan angka kolesterol, semua susu nabati memiliki 0 mg kolesterol, sementara di antara susu sapi, susu skim jumlah kolesterolnya paling sedikit.
Namun, itu tidak bisa dijadikan satu-satunya strategi untuk menjaga kesehatan jantung.
Pedoman AHA 2026 menekankan bahwa untuk kebanyakan orang, sebaiknya lebih perhatikan pola makan secara keseluruhan dan jumlah lemak jenuh, bukan cuma menghindari kolesterol dari makanan.
Karena itu, saat memilih susu, cek setidaknya empat hal ini:
Studi tahun 2025 terhadap 219 produk menunjukkan hanya sekitar 70 persen alternatif susu nabati yang difortifikasi dengan kalsium sekaligus vitamin D, dan kandungan zat gizinya sangat bervariasi bahkan dalam kategori yang sama.
Tidak ada satu jenis susu yang otomatis paling sehat untuk semua orang. Susu skim menawarkan protein dan kalsium dengan lemak jenuh sangat rendah, susu kedelai yang difortifikasi paling mendekati profil nutrisi susu sapi di antara pilihan nabati, sementara susu almon dan oat dapat menjadi pilihan sesuai kebutuhan, tetapi label gizinya perlu diperiksa lebih teliti.
Referensi
Alice H. Lichtenstein et al., “2026 Dietary Guidance to Improve Cardiovascular Health: A Scientific Statement from the American Heart Association,” Circulation (2026), doi:10.1161/CIR.0000000000001435.
U.S. Department of Agriculture, Agricultural Research Service, FoodData Central, entry for whole cow’s milk, 3.25% milkfat. Nutrient values reproduced from USDA FoodData Central data.
U.S. Department of Agriculture, Agricultural Research Service, FoodData Central, entry for reduced-fat cow’s milk, 2% milkfat.
U.S. Department of Agriculture, Agricultural Research Service, FoodData Central, entry for cow’s milk, 1% milkfat.
U.S. Department of Agriculture, Agricultural Research Service, FoodData Central, entry for fat-free/skim cow’s milk.
U.S. Department of Agriculture, Agricultural Research Service, FoodData Central, entry for fluid goat milk.
Young W. Park, “Comparison of Mineral and Cholesterol Composition of Different Commercial Goat Milk Products Manufactured in USA,” Small Ruminant Research 37, no. 1–2 (2000): 115–124.
Sokratis Stergiadis et al., “Comparative Nutrient Profiling of Retail Goat and Cow Milk,” Nutrients 11, no. 10 (2019): 2282.
Abigail J. Johnson et al., “Assessing the Nutrient Content of Plant-Based Milk Alternative Products Available in the United States,” Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics 125, no. 4 (2025): 515–527.e8, doi:10.1016/j.jand.2024.06.003.
Tania Craig and Ujué Fresán, “A Scoping Review of the Environmental Impacts and Nutrient Composition of Plant-Based Milks,” Advances in Nutrition 14, no. 1 (2023): 81–95.
“Can Plant-Based Milk Alternatives Fully Replicate UHT Cow Milk? A Review of Sensory and Physicochemical Attributes,” Beverages 11, no. 6 (2026): 171.
World Allergy Organization, “DRACMA Guidelines Update XVI: Nutritional Management of Cow’s Milk Allergy,” 2024.
U.S. Food and Drug Administration, “Milk and Plant-Based Milk Alternatives: Know the Nutrient Difference.”
American Heart Association, “Dairy Products: Milk, Yogurt and Cheese,” reviewed May 14, 2026.







![[QUIZ] Mitos atau Fakta: Seberapa Paham Kamu soal Dunia Lari?](https://image.idntimes.com/post/20260625/pexels-eddson-lens-748406628-29400388_6e217a3a-5fd2-437a-9b64-22454064b7f3.jpg)





![[QUIZ] DOMS atau Cedera? Kenali dari Pola Nyeri Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260715/upload_1f4fad55d736c0857d28717d4f5ad568_9f044a0b-3a74-43ca-bf9f-4bb408840b9c.png)







