TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

8 Hal Penting yang Perlu Diketahui tentang Sunat

Karena urusan kesehatan, sunat saat dewasa tak jadi masalah

ilustrasi sunat (njurology.com)

Praktik sunat umum dilakukan pada laki-laki di berbagai belahan dunia. Lebih dari sekadar ritual atau tradisi, sunat atau khitan memang membawa manfaat bagi kesehatan.

Inilah yang menjadi topik perbincangan live Instagram Health Talk antara IDN Times dengan narasumber Dr. dr. Tubagus Odih R Wahid, MKM, SpBA(K)Dig dari Eka Hospital Pekanbaru pada Kamis (4/11/2021) lalu. Mau tahu apa saja yang diperbincangkan? Simak di bawah ini, ya!

1. Apa, sih, sunat itu?

ilustrasi alat kelamin (stellar.ie)

Sunat adalah prosedur melepaskan kulit atau kulit yang menyelubungi ujung penis. Dokter Odih menjelaskan kalau ada dua teknik untuk sunat, yaitu teknik sirkumsisi atau memotong melingkar, dan teknik dorsumsisi yang memotong bagian punggung penis saja.

Teknik dorsumsisi dikatakan sebagai teknik tradisional, sementara teknik sirkumsisi adalah yang direkomendasikan dalam ranah medis. Dilansir Nemours Kids Health, sirkumsisi akan menghilangkan kepala bagian luar yang mengekspos kepala penis.

2. Perkembangan alat sunat

ilustrasi alat operasi (Pixabay.com/Engin_Akyurt)

Dijelaskan oleh Dr. Odih bahwa teknik sunat berhubungan dengan kemajuan alat operasi. Dulunya, teknik sunat di Indonesia menggunakan alat kayu yang tajam, lalu beralih ke pisau. Setelah itu, dipakailah gunting, clamp, hingga laser.

“Semua alat ini mempunyai tujuan yang sama: yakni memotong secara melingkar kulit kelamin. Akan tetapi, setiap alat punya kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri. Saya sendiri dalam menyunat mengombinasikan alat-alat tersebut. Setelah dipotong menggunakan gunting, saya lanjutkan memotongnya dengan laser atau electro cutter. Ia memotong sekaligus menghentikan darah sehingga lebih cepat kering,” Dr. Odih menjelaskan.

3. Tidak ada pantangan khusus untuk sunat

ilustrasi sunat (reliefweb.int)

Beberapa prosedur medis punya pantangan tersendiri agar pasien bisa sembuh atau pulih lebih cepat. Nah, pada prosedur sunat, tidak ada pantangan spesifik. Pasien bisa langsung mengenakan cela setelah disunat. 

"Tidak ada pantangan secara aktivitas," kata Dr. Odih.

Bagi pasien yang mengalami nyeri, itu biasa diatasi dengan minum obat pereda nyeri. Hanya ada satu catatan penting dari Dr. Odih, yaitu jangan sampai penis terendam air.

“Kalau anak-anak, jangan bermain rendam-rendaman air dulu. Kalau kecipratan air misalnya setelah buang air kecil itu tidak masalah. Ini penting agar penyembuhan secara sel bagus,” terangnya.

Baca Juga: 5 Manfaat Sunat Bagi Kehidupan Seksual, Tak Cuma Bikin Hot

4. Selain kebersihan, sunat bermanfaat untuk menghindari penyakit seperti kanker

IDN Times / Mardya Shakti

Alasan utama sunat bukan cuma untuk kebersihan penis, melainkan untuk kesehatan pula. Penis yang tidak disunat memiliki kulup. Di balik kulup ini, terdapat banyak kotoran yang menempel misalnya sisa air kencing dan hal lain. Kotoran-kotoran yang menempel di balik kulit tersebut sebetulnya bisa dibersihkan, tetapi memang butuh usaha lebih.

Beda halnya dengan penis yang sudah disunat. Tanpa adanya kulup, penis bisa dibersihkan lebih mudah.

“Alasan yang kedua adalah kulit kelamin itu ada kelenjar. Namanya lison dan menghasilkan smegma. Menurut beberapa penelitian, smegma diprediksi menjadi pemicu tumor pada penis,” kata Dr. Odih.

5. Sunat juga lebih baik untuk urusan seks

ilustrasi pasangan (psychologytoday.com)

Dokter Odih juga menerangkan kalau sunat juga bisa membantu aktivitas seksual menjadi lebih baik. Pasangan bisa terhindar dari penyakit yang berasal dari kotoran di kulup penis yang tidak disunat.

Menurut studi berjudul “Does male circumcision affect sexual function, sensitivity, or satisfaction?--a systematic review” dalam The Journal of Sexual Medicine tahun 2013, sunat tidak memiliki efek samping pada fungsi seksual. Selain itu, tidak ada pula efek samping pada sensasi seksual, sensitivitis, hingga kenikmatan dalam berhubungan seks/

6. Sunat tetap perlu memperhatikan beberapa kondisi medis

ilustrasi check-up dokter (everydayhealth.com)

Ada beberapa catatan tambahan dari Dr. Odih mengenai sunat. Pertama-tama, perlu diketahui terlebih dulu apakah seseorang layak disunat atau tidak.

“Beberapa orang ada yang mendapat kontraindikasi tidak boleh disunat dan umumnya ini diketahui sang dokter,” ujarnya.

Kontraindikasi ini meliputi penyakit seperti diabetes dan lainnya.

Seseorang harus disunat bila dokter melihat adanya indikasi fimosis. Fimosis adalah kondisi kulit kelamin lengket. Saat lengket, risiko radang dan infeksi meningkat.

Fimosis ini ada level-levelnya. Mana yang perlu disunat, mana yang cukup dilepas dulu secara manual,” katanya lagi.

7. Prosedur sunat jarang memunculkan masalah

ilustrasi operasi (theconversation.com)

Layaknya prosedur medis lainnya, tentu ada kemungkinan komplikasi pada sunat. Misalnya adalah gangguan penyembuhan luka.

“Bisa terbentuk jaringan ikat pada luka. Maka, itu bisa terjadi pengerutan atau mengerasnya kulit itu. Akan tetapi, ini sangat jarang terjadi.”

Risiko lainnya adalah luka berlebih.

“Pasti pernah mendengar terpotong penisnya, ya, kan?” celetuk dr. Odih

Ia menjelaskan kalau itu merupakan indikasi adanya potongan berlebih selain kulit penih. Inilah yang perlu diperhatikan. 

“Makanya itu ada teknik tersendiri dalam memotong kulit. Mulai dari dilepaskan dulu lengket kulitnya sampai aman untuk dilakukan pemotongan,” terangnya lebih lanjut.

Baca Juga: Dari Sisi Medis, Ini 7 Risiko yang Dihadapi Laki-laki yang Tidak Sunat

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya