TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

IDAI Catat 192 Kasus Gangguan Ginjal Akut Misterius

Masih belum ada penyebab tunggal konklusif

ilustrasi ginjal (freepik.com/jcomp)

Melalui Zoom, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Selasa (18/10) menyampaikan informasi terbaru mengenai gangguan ginjal akut misterius (AKIUO) di kalangan anak. Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), memaparkan temuan IDAI mengenai AKIUO.

Dokter Piprim mengatakan bahwa per 18 Oktober, IDAI mencatat total kasus AKIUO di Indonesia adalah 192, naik 40 kasus dari sebelumnya, yaitu 152 kasus pada Jumat (14/10) minggu lalu. Kasus ini diakumulasikan dari 20 provinsi di Indonesia.

1. Masih didominasi balita

ilustrasi anak sakit (freepik.com/lifeforstock)

Bagaimana IDAI mencatat 192 kasus? Dokter Piprim menjelaskan bahwa ini bukanlah lonjakan kasus yang terjadi tiba-tiba. Jumlah kasus ini adalah berdasarkan data yang baru dilaporkan ke IDAI. Ia juga mengatakan bahwa data ini bersifat kumulatif, dari Januari 2022 hingga 18 Oktober 2022 sore.

"Yang kita tahu, data IDAI ini dari laporan anggota, sehingga update-nya tiba-tiba naik. Yang sudah terkumpul adalah 192 kasus dari 20 provinsi di Indonesia," tutur dr. Piprim secara daring.

Dari segi komposisi pasien, dr. Piprim menyatakan masih sama, yaitu sebagian besar adalah balita (1–5 tahun) yang menunjukkan gejala klinis sesuai dengan kriteria gangguan ginjal progresif cepat. Dari segi peringkat kasus, dr. Piprim menjabarkan bahwa kasus AKIUO tertinggi adalah di daerah:

  • DKI Jakarta (50 kasus).
  • Jawa Barat dan Jawa Timur (24 kasus).
  • Sumatra Barat (21 kasus).
  • Aceh (18 kasus).
  • Bali (17 kasus).

Baca Juga: Kasus Gangguan Ginjal Akut Anak Naik dalam 2 Bulan Terakhir

2. Dilema MISC sebagai penyebab AKIUO

Berbicara penyebab, dr. Piprim meluruskan bahwa belum ditemukan penyebab AKIUO tunggal secara konklusif. IDAI masih melakukan investigasi karena dinamika kasus, seperti ada yang membaik saat diobati, ada juga yang tidak; ada yang menjalani cuci darah dan membaik, serta ada juga yang tidak.

Meluruskan kecurigaan multisystem inflammatory syndrome in children (MISC), dr. Piprim juga mengatakan bahwa kondisi tersebut tidak bisa dijadikan biang kerok. Ia mengatakan bahwa ada yang diobati secara MISC, tetapi tidak mempan.

"Kalau MISC yang seperti biasa, kita sudah pengalaman dengan obatnya. Namun, ada yang diobati secara MISC, juga tidak membaik."

3. Meluruskan etilene glikol dan AKIUO

ilustrasi obat sirop (pexels.com/cottonbro)

Dokter Piprim mengatakan bahwa selain Indonesia dan Gambia, tidak ditemukan kasus AKIUO. Pada Sabtu (15/10) dan belajar dari kasus di Gambia, BPOM RI melarang penggunaan dietilen glikol (DEG) dan etilen glikol (EG) dalam obat batuk anak. Meski tidak memiliki datanya, dr. Piprim mengatakan bahwa IDAI tengah memeriksa hal ini.

"Ada juga kecurigaan obat-obatan yang mengandung etilene glikol. Ini sedang diperiksa," kata dr. Piprim.

Kemudian, ia menceritakan pengalaman seorang ibu di Yogyakarta dengan empat anak. Tiga anak tertua mengalami batuk pilek dan adiknya tertular. Saat tiga anak tersebut diobati sirop parasetamol, mereka membaik. Namun, sang adik yang tak diobati kemudian terkena AKIUO dan tidak tertolong.

"Jadi, belum konklusif apakah ini karena sirop parasetamol. Belum sepenuhnya ke situ juga karena ada yang juga terkena AKI berat tetapi bukan karena sirop parasetamol," dr. Piprim menekankan.

Setuju dengan BPOM RI, dr. Piprim mengatakan bahwa dari kasus Gambia tersebut, IDAI tidak merekomendasikan penggunaan sirop parasetamol. Meski begitu, ia meluruskan bahwa ini bukanlah larangan, melainkan hanya untuk kewaspadaan dini.

"Melarang atau menarik obat bukan wewenang kami. Hanya untuk kewaspadaan dini," tambah dr. Piprim.

4. Kesulitan menangani AKIUO anak

ilustrasi alat cuci darah (ANTARA FOTO)

Turut hadir di webinar tersebut, Sekretaris Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nefrologi IDAI, dr. Eka Laksmi Hidayati, SpA(K), mengatakan bahwa pasien AKIUO harus sedini mungkin mencari pertolongan. Hal ini bisa terlihat dari penurunan kadar urine dalam 6 jam.

"Di rumah sakit, kita akan memeriksa parameter fungsi ginjal. Karena ginjal mengeluarkan sisa metabolisme tubuh, maka ketika ginjal terganggu fungsinya, ureum dan kreatinin meningkat. Dari sini, bisa terlihat fungsi ginjal terganggu berapa besar," papar dr. Eka.

Kemudian, jika memang terganggu hingga stadium 3 (ureum dan kreatinin sangat tinggi), berarti terjadi gangguan fungsi ginjal karena sisa metabolisme tidak terbuang. Kalau begitu, dr. Eka mengatakan bahwa cuci darah atau hemodialisis harus dilakukan.

Berbeda dengan pasien dewasa hingga lansia, pasien AKIUO anak mengalami kesulitan karena tak tersedia di semua tempat. Sementara mesin cuci darah ada di seluruh Indonesia, mayoritas diperuntukkan oleh pasien dewasa hingga lansia.

Dalam skenario normal, kondisi anak yang memerlukan hemodialisis jauh lebih sedikit, sehingga tidak efisien jika disediakan di semua tempat. Namun, menakar kondisi lonjakan kasus AKIUO anak di Indonesia, dr. Eka mengatakan bahwa sudah ada beberapa fasilitas kesehatan yang menawarkan hemodialisis untuk anak.

"Di Jakarta, ada di RSCM dan Harapan Kita. Silakan, boleh datang langsung kalau memang ada gangguan seperti ini agar tidak melalui proses lebih panjang ... Kalau kondisi masih dini, semoga respons pengobatan jadi lebih baik." kata dr. Eka.

Baca Juga: 8 Cara Menurunkan Kreatinin secara Alami, Cegah Gangguan Ginjal

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya