Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Anak Bisa Kekurangan Zat Besi Meski Tidak Anemia, Kok Bisa?
ilustrasi anak bermain dengan ibunya (pexels.com/Jonathan Borba)
  • Cadangan zat besi bisa menipis sebelum hemoglobin turun. Kondisi ini disebut defisiensi besi tanpa anemia.

  • Pemeriksaan hemoglobin saja belum tentu mendeteksi tahap awal. Dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan ferritin untuk menilai cadangan zat besi.

  • Kebutuhan pemeriksaan bergantung pada usia dan faktor risiko anak. Jangan memberi suplemen zat besi tanpa arahan tenaga kesehatan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Seorang anak bisa tampak baik-baik saja, padahal di dalam tubuhnya cadangan zat besi mulai berkurang. Pada tahap ini, kadar hemoglobin belum tentu turun sehingga pemeriksaan yang hanya melihat hemoglobin bisa melewatkan kondisi kekurangan atau defisiensi besi.

“Defisiensi besi itu bukan sekadar anemia. Bahkan sebelum Hb-nya turun, defisiensi besi bisa terjadi. Karena itu, fokus kita bukan hanya ‘ada anemia atau tidak’, tetapi status besi anak secara keseluruhan,” kata Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam seminar media pada Selasa (6/10).

Defisiensi besi tidak selalu berarti anemia

Tubuh menggunakan zat besi untuk berbagai fungsi, termasuk membentuk hemoglobin (Hb)—protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen. Jika asupan atau cadangan zat besi tidak mencukupi, tubuh dapat mengalami defisiensi besi.

Anemia adalah kondisi ketika kadar hemoglobin berada di bawah batas normal sesuai usia dan jenis kelamin. Jika kekurangan zat besi sudah menyebabkan anemia, kondisinya disebut anemia defisiensi besi. Namun, cadangan besi bisa lebih dulu menipis sebelum Hb turun. American Academy of Pediatrics (AAP) mendefinisikan defisiensi besi sebagai status zat besi yang rendah, yang dapat terjadi dengan atau tanpa anemia.

“Defisiensi besi artinya zat besi sudah berkurang, tetapi kondisi ini bisa terjadi dengan atau tanpa penurunan Hb,” jelas Prof. Dr. dr. Murti Andriastuti, Sp.A(K), Subsp.H.Onk.(K), dari Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi IDAI.

Mengapa pemeriksaan Hb saja bisa melewatkan defisiensi besi?

Pemeriksaan Hb membantu mengetahui apakah anak mengalami anemia. Namun, Hb tidak secara langsung mengukur cadangan zat besi. Untuk menilai cadangan tersebut, dokter dapat meminta pemeriksaan ferritin serum, yaitu protein yang mencerminkan simpanan zat besi di tubuh.

Pemeriksaan darah lengkap dan ferritin dapat membantu mengenali defisiensi besi sebelum anemia muncul.

Ferritin juga perlu dibaca dengan hati-hati. Kadarnya dapat meningkat saat terjadi peradangan, sehingga hasilnya perlu ditafsirkan bersama riwayat kesehatan dan pemeriksaan lain. Pedoman AAP 2026 menyebut kadar ferritin 20 ng/mL atau lebih rendah konsisten dengan defisiensi besi pada anak kecil dan anak usia sekolah. Untuk remaja dan orang yang menstruasi, batas yang digunakan adalah 30 ng/mL atau lebih rendah. Walaupun begitu, dokter tetap akan menilai hasil sesuai kondisi pasien.

AAP merekomendasikan skrining defisiensi besi dan anemia pada bayi serta anak kecil dengan pemeriksaan darah lengkap dan ferritin. Waktunya disesuaikan dengan sumber nutrisi utama: usia 9–12 bulan bagi bayi yang terutama mendapat ASI, dan usia 15–18 bulan bagi bayi yang terutama minum formula yang difortifikasi zat besi. Apabila pemeriksaan tersebut tidak bisa dilakukan, setidaknya Hb diperiksa.

Siapa yang lebih berisiko?

ilustrasi bayi makan daging ayam (pexels/Meruyert Gonullu)

Bayi dan balita sedang bertumbuh cepat sehingga kebutuhan zat besinya meningkat. Risiko juga perlu diperhatikan pada bayi prematur atau berat lahir rendah, anak dengan pola makan minim sumber zat besi, serta anak dengan penyakit kronis, gangguan penyerapan, atau kehilangan darah. Pada remaja putri, menstruasi yang banyak atau berlangsung lama dapat menambah risiko kekurangan zat besi.

“Bayi dan remaja termasuk kelompok yang kebutuhan besinya tinggi karena pertumbuhannya berlangsung cepat,” ujar Prof. Murti.

Tanda seperti pucat atau mudah lelah dapat muncul pada anemia, tetapi kondisi anak tidak bisa dinilai hanya dari penampilannya. Keluhan juga bisa tidak khas.

Jika ada faktor risiko—misalnya bayi lahir prematur, asupan zat besi rendah, atau anak mengalami menstruasi berat—orang tua dapat membicarakannya saat pemeriksaan kesehatan rutin.

Kecukupan zat besi perlu diperhatikan sejak dini?

Zat besi mendukung fungsi tubuh dan perkembangan sistem saraf. Tinjauan sistematis pada 2025 yang mengulas 17 studi kohort menemukan kaitan antara defisiensi besi pada awal kehidupan dan sejumlah hasil perkembangan, termasuk aspek kognitif, motorik, verbal, dan perilaku.

Jika orang tua khawatir tentang asupan zat besi atau hasil pemeriksaan anak, langkah berikutnya adalah berdiskusi dengan dokter.

Dokter dapat menilai pola makan dan faktor risiko, lalu menentukan apakah pemeriksaan Hb, ferritin, atau tes lain diperlukan.

Suplemen zat besi sebaiknya diberikan sesuai arahan tenaga kesehatan, karena kebutuhan dan dosisnya bisa berbeda pada setiap anak.

Referensi

Jacquelyn M. Powers et al., “Prevention, Screening, Diagnosis, and Treatment of Iron Deficiency and Iron Deficiency Anemia in Infants, Children, and Adolescents: Clinical Report,” Pediatrics 158, no. 1 (July 2026): e2026077414, https://doi.org/10.1542/peds.2026-077414.

Jason Theola and Murti Andriastuti, “Neurodevelopmental Impairments as Long-term Effects of Iron Deficiency in Early Childhood: A Systematic Review,” Balkan Medical Journal 42, no. 2 (2025): 108–20, https://doi.org/10.4274/balkanmedj.galenos.2025.2024-11-24.

Curated For You

Editorial Team

Related Article