- Kehilangan darah (paling sering)
- Menstruasi berlebihan (menoragia)
- Perdarahan saat persalinan
- Keguguran
- Kebutuhan akan zat besi meningkat
- Kehamilan
- Menyusui
- Asupan nutrisi kurang
- Kurang konsumsi zat besi
- Defisiensi vitamin B12 atau asam folat
- Pola makan vegetarian tanpa pengganti nutrisi yang tepat
- Gangguan penyerapan
- Penyakit saluran cerna (misalnya gastritis, penyakit celiac)
- Penyakit kronis
- Infeksi kronis
- Penyakit ginjal
- Penyakit autoimun
- Faktor gaya hidup
- Diet ketat ekstrem
- Kurang konsumsi protein
- Kebiasaan minum teh/kopi berlebihan (menghambat penyerapan zat besi)
Mitos atau Fakta: Anemia Cuma Dialami Perempuan

Anemia bukan hanya dialami perempuan; kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja ketika tubuh kekurangan sel darah merah atau hemoglobin.
Data menunjukkan anemia lebih sering menyerang perempuan usia produktif dan ibu hamil, namun sekitar 12,7 persen laki-laki dewasa juga mengalaminya.
Penyebab anemia berbeda antar gender: perempuan rentan karena menstruasi dan kehamilan, sedangkan laki-laki sering terkait penyakit kronis atau perdarahan saluran cerna.
Anemia sering dianggap sebagai penyakit "eksklusif" perempuan. Banyak orang percaya bahwa hampir semua perempuan pasti pernah mengalami anemia, terutama karena menstruasi. Namun, apakah benar anemia cuma dialami oleh perempuan, atau ini sekadar mitos yang berkembang di masyarakat?
Anemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah atau hemoglobin, dan bisa terjadi pada siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki.
Anemia adalah kondisi ketika jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin (Hb) dalam darah berada di bawah normal, sehingga kemampuan darah untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh menjadi berkurang. Hemoglobin sendiri adalah protein dalam sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh.
Secara global, data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memang menunjukkan bahwa anemia lebih sering terjadi pada perempuan, terutama usia produktif dan ibu hamil. Sekitar 30 persen perempuan usia 15–49 tahun dan 37 persen ibu hamil mengalami anemia. Namun, bukan berarti laki-laki kebal. WHO juga mencatat sekitar 12,7 persen laki-laki dewasa di dunia mengalami anemia.
Table of Content
Penyebab kesenjangan angka
Perbedaan angka antara laki-laki dan perempuan ini lebih disebabkan oleh faktor biologis. Sementara itu, pada laki-laki, anemia sering berkaitan dengan kondisi medis tertentu, seperti perdarahan saluran cerna (misalnya akibat tukak lambung atau kanker), penyakit ginjal kronis hingga gangguan penyerapan zat besi.
Prevalensi anemia pada laki-laki dewasa memang lebih rendah, sekitar 1–4 persen. Namun, angkanya bisa meningkat signifikan pada laki-laki usia lanjut atau yang memiliki penyakit kronis. Bahkan, studi menunjukkan angka anemia pada laki-laki di kelompok tertentu bisa mencapai lebih dari 20 persen, tergantung kondisi kesehatan dan faktor risiko.
Perbedaan penyebab anemia pada laki-laki dan perempuan

Beberapa penyebab anemia pada perempuan antara lain:
Faktor ini dijelaskan dalam laporan WHO bahwa proses biologis seperti menstruasi dan kehamilan meningkatkan risiko anemia pada perempuan.
Sementara pada laki-laki, anemia sering berkaitan dengan kondisi medis seperti:
Perdarahan kronis
Perdarahan saluran cerna (maag, tukak lambung)
Kanker usus atau lambung
Penyakit kronis
Penyakit ginjal kronis
Penyakit hati
Infeksi kronis
Kekurangan nutrisi
Jarang, tetapi bisa terjadi pada pola makan buruk
Gangguan sumsum tulang
Leukemia
Aplasia sumsum tulang
Penyakit genetik
Talasemia
Anemia sel sabit
Bahkan, anemia pada laki-laki dewasa, terutama usia lanjut, perlu dievaluasi lebih lanjut karena bisa menjadi indikator penyakit serius.
Gejala umum anemia
Orang dengan anemia umumnya mengalami gejala seperti di bawah ini:
Lelah.
Pusing.
Sesak napas.
Kulit pucat.
Gejala ini tidak spesifik gender, sehingga bisa dialami siapa saja.
Menyebut anemia hanya dialami perempuan itu tidak benar. Perempuan memang lebih berisiko, tetapi data menunjukkan laki-laki juga terdampak dalam jumlah yang tidak sedikit, dengan penyebab yang sering kali berbeda, bahkan lebih serius.
Kapan harus berobat?

Segera berkonsultasi ke dokter jika mengalami:
Gejala ringan tapi menetap
Lelah terus-menerus tanpa sebab jelas
Pucat yang tidak hilang
Menstruasi tidak normal
Darah sangat banyak
Menstruasi lebih dari 7 hari
Kehamilan
Semua ibu hamil sebaiknya skrining anemia
Gejala berat
Pusing sampai hampir pingsan
Sesak napas
Jantung berdebar hebat
Kelompok risiko tinggi
Remaja putri
Perempuan hamil
Perempuan dengan diet ketat
Referensi
"Anaemia Fact Sheet". World Health Organization (WHO). Diakses Maret 2026.
"Iron-Deficiency Anemia". NIH StatPearls. Diakses Maret 2026
"Anemia Prevalence US". CDC. Diakses Maret 2026.
Asma A Alboueishi et al., “An Examination of Iron-Deficiency Anemia and Its Associated Risk Factors Among Libyan Workers and Their Families,” Cureus 17, no. 2 (February 6, 2025): e78606, https://doi.org/10.7759/cureus.78606.

![[QUIZ] Warna Outfit Favoritmu Bisa Ungkap Cara Kamu Menghadapi Stres](https://image.idntimes.com/post/20250507/1000344956-3159a2704e4b6062c72c7e3be406df32-fff34f8ff180b130eb70c4bcc95165ea.jpg)







![[QUIZ] Pilih Workout Station HYROX Tersulit, Kami Tebak Kondisi Mentalmu](https://image.idntimes.com/post/20251209/upload_3d6c2660299615dc7370ee9897f59de5_2bf142e8-ba76-4e2a-bd73-c5087d60da0d.jpg)








![[QUIZ] Dari Cara Kamu Mengatasi Sakit Kepala, Ini Tingkat Stres Tubuhmu](https://image.idntimes.com/post/20250506/pexels-anthonyshkraba-production-8374281-1bf597d5bcf3c62d3c3224d16c5ab0ce-7ce977d22d416f9f609177bfa758a9c1.jpg)