Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang ayah menawarkan permen ke anaknya.
ilustrasi seorang ayah menawarkan permen ke anaknya (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Intinya sih...

  • Sugar rush adalah istilah populer yang menyebut lonjakan energi setelah konsumsi gula, tetapi bukti ilmiah tidak mendukung klaim bahwa gula menyebabkan hiperaktivitas pada anak ataupun orang dewasa.

  • Beberapa penelitian menemukan gula bisa memberi efek sejenak pada suasana hati atau relaksasi, tetapi peningkatan aktivitas langsung tidak terbukti konsisten secara ilmiah.

  • Yang nyata secara fisiologis adalah fluktuasi kadar gula darah, termasuk sugar crash, yaitu penurunan energi setelah lonjakan kadar gula, yang bisa membuat seseorang merasa lelah atau rewel.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Gula telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Dari kopi pagi hingga permen di pesta ulang tahun, gula sering dikaitkan dengan sensasi manis yang cepat memuaskan. Namun kepercayaan populer juga mempercayai bahwa gula tidak sekadar memberi rasa manis — melainkan lonjakan energi yang tiba-tiba, yang sering disebut sugar rush.

Istilah sugar rush tidak ditemukan dalam buku medis atau jurnal kedokteran sebagai diagnosis resmi. Ia lebih merupakan sebutan budaya populer untuk fenomena yang dianggap membuat orang, terutama anak-anak, menjadi lebih aktif atau hiperaktif sesaat setelah mengonsumsi banyak makanan atau minuman manis. Hal ini telah menjadi narasi kuat di banyak keluarga dan media sejak beberapa dekade terakhir.

Di sisi lain, komunitas ilmiah telah meneliti hubungan antara konsumsi gula dan perilaku manusia selama puluhan tahun. Pertanyaan utamanya bukan hanya soal ada atau tidaknya lonjakan energi, tetapi apakah fenomena ini benar berasal dari gula itu sendiri — atau lebih karena konteks sosial, ekspektasi, dan proses fisiologis di dalam tubuh kita.

Apa itu gula?

Secara umum, gula adalah istilah untuk karbohidrat sederhana yang rasanya manis, termasuk sukrosa (gula meja), fruktosa (gula buah), dan glukosa (yang dibentuk saat karbohidrat dicerna). Ketika gula dikonsumsi, tubuh cepat memecahnya menjadi glukosa yang masuk ke aliran darah untuk menjadi sumber energi utama bagi sel tubuh.

Namun, kadang orang mengasosiasikan gula dengan lonjakan energi seketika, karena glukosa cepat tersedia untuk digunakan tubuh. Padahal, proses ini tidak identik dengan workflow psikologis atau neurologis yang membuat seseorang menjadi “lebih aktif” secara dramatis.

Dalam konteks nutrisi, istilah sugar rush lebih merupakan label budaya yang muncul karena pengalaman sehari-hari, terutama pada anak yang terlihat lebih “hidup” setelah konsumsi camilan manis, meski penelitian ilmiah tidak dengan tegas menemukan hubungan kausal antara gula dan perilaku hiperaktif.

Apakah gula menyebabkan anak hiperaktif?

ilustrasi anak sedang memakan permen (pexels.com/cottonbro studio)

Kepercayaan bahwa gula membuat anak hiperaktif cukup kuat, terutama di lingkungan keluarga dan sekolah. Namun, metaanalisis penelitian yang dirangkum dalam JAMA tahun 1995 menunjukkan bahwa konsumsi gula tidak memengaruhi perilaku atau kinerja kognitif anak-anak.

Analisis lain juga menyimpulkan bahwa tidak ada bukti konsisten bahwa gula menyebabkan peningkatan perilaku hiperaktif pada anak secara luas. Ekspektasi orang tua dan konteks sosial yang menstimulasi, seperti pesta ulang tahun atau kumpul keluarga, jauh lebih mungkin menjadi faktor yang membuat anak tampak lebih aktif, bukan gula itu sendiri.

Penelitian lain juga menemukan bahwa meskipun orang tua sering melaporkan perilaku hiperaktif setelah konsumsi gula, tetapi ketika studi dilakukan secara double-blind (ketika tidak ada yang tahu apakah anak diberi gula atau placebo), perbedaan perilaku yang signifikan tidak ditemukan, yang menunjukkan efek ekspektasi dan bias pengamatan.

Jika sugar rush adalah mitos, lalu apa yang sebenarnya terjadi?

Meskipun sugar rush sebagai lonjakan energi yang tiba-tiba dan hiperaktif tidak terbukti secara ilmiah, tubuh memang mengalami perubahan fisiologis setelah mengonsumsi gula. Ketika kadar glukosa darah meningkat, pankreas melepaskan insulin untuk membantu sel-sel tubuh menyerap glukosa tersebut.

Jika gula dikonsumsi dalam jumlah besar dan glukosa darah meningkat cepat, respons insulin juga cepat, yang kadang menurunkan kadar gula darah secara relatif lebih rendah setelah lonjakan awal. Fenomena ini sering disebut sugar crash, kondisi seseorang merasa lelah, lesu, atau kurang tenang setelah efek gula sementara berkurang.

Jadi, alih-alih mengalami rush yang meningkatkan energi drastis, tubuh lebih sering mengalami penurunan energi jangka pendek setelah puncak kadar gula darah, yang bisa membuat seseorang tampak lelah atau sensitif emosional, dan ini kadang salah dikira sebagai efek sebaliknya dari sugar rush.

Perbedaan sugar rush dan sugar crash

ilustrasi anak berbagi permen (unsplash.com/Sophie Elvis)

Istilah sugar rush dan sugar crash sering dibicarakan bersamaan, tetapi keduanya secara mekanisme berbeda.

Sugar rush adalah istilah budaya untuk lonjakan energi yang tidak didukung bukti ilmiah kuat sebagai efek konsisten konsumsi gula. Sementara itu, sugar crash didukung oleh mekanisme fisiologis yang jelas: ketika kadar glukosa darah naik tajam lalu turun cepat akibat respons insulin, orang bisa merasa lelah, lesu, atau kurang fokus. Ini adalah fenomena nyata yang dijelaskan oleh pemahaman metabolisme tubuh.

Perbedaan pentingnya adalah bahwa rush merujuk pada persepsi subjektif yang sering tidak konsisten dengan bukti ilmiah, sedangkan crash adalah respons tubuh yang konkret terhadap perubahan kadar gula darah.

Dalam diskusi ilmiah modern, sugar rush lebih banyak dianggap sebagai mitos budaya populer yang lahir dari ekspektasi dan konteks sosial, bukan sebagai fenomena fisiologis yang konsisten. Bukti dari berbagai studi, termasuk tinjauan metaanalisis, mendukung bahwa gula tidak secara langsung menyebabkan hiperaktivitas pada anak maupun orang dewasa.

Namun, penting juga memahami bahwa konsumsi gula yang berlebihan tetap memiliki dampak kesehatan nyata, seperti risiko obesitas, diabetes, dan sugar crash yang membuat tubuh merasa lesu dan tidak stabil secara energi. Perbedaan antara mitos dan realitas ini membantu kamu memutuskan bagaimana mengatur asupan gula secara bijak dalam kehidupan sehari-hari untuk kesehatan jangka panjang.

Referensi

Fritz Schiltz and Kristof De Witte, “Sugar Rush or Sugar Crash? Experimental Evidence on the Impact of Sugary Drinks in the Classroom,” Health Economics 31, no. 1 (November 2, 2021): 215–32, https://doi.org/10.1002/hec.4444.

"Sugar doesn’t actually make kids hyper—here’s why so many believe it does." National Geographic. Diakses Desember 2025.

"Busting the Sugar-Hyperactivity Myth." WebMD. Diakses Desember 2025.

"Sugars and hyperactivity research." Sugar Nutrition Research Center. Diakses Desember 2025.

Editorial Team