gambar vaksin untuk pengobatan (unsplash.com/Nappy)
Dalam beberapa kasus, kadang sulit untuk membedakan Nipah dengan penyakit lainnya. Untuk itu, petugas kesehatan akan mengidentifikasi komplikasi yang ada, dan melakukan tes untuk mendapatkan hasil yang sesuai. Dilansir WHO, real time polymerase chain reaction (RT-PCR) merupakan tes yang digunakan untuk mendiagnosis virus Nipah. Tes ini dilakukan dengan menggunakan sampel dari pernapasan, darah, atau cairan serebrospinal (pungsi lumbal) pasien.
Sampel dari pasien kemudian akan diuji di laboratorium dengan pengamanan maksimal dan dilengkapi dengan peralatan yang sesuai standar. Sayangnya vaksin untuk virus Nipah sendiri belum tersedia. Jika seseorang mengalami infeksi karena virus ini, tenaga kesehatan akan melakukan pengobatan pada sejumlah gejala serta komplikasi yang dialami pasien, dan memastikan bahwa kondisi pasien tetap dalam keadaan stabil.
Meski gejala awalnya ringan, infeksi virus Nipah jelas bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Terutama jika kamu memiliki riwayat perjalanan ke negara dengan kasus infeksi virus tinggi seperti Bangladesh atau India. Semakin cepat kamu memeriksakan diri ketika mengalami gejala awal, semakin cepat juga kamu akan mendapatkan pengobatan.
Referensi
“About Nipah Virus.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses Februari 2026.
“Nipah Virus — What Is It, Where Is It Found and How Does It Spread?” UK Health Security Agency (UKHSA). Diakses Februari 2026.
“Nipah Virus.” World Health Organization (WHO). Diakses Februari 2026.
“Nipah Virus — Diseases & Symptoms.” Cleveland Clinic Health. Diakses Februari 2026.
“Nipah Virus — Emerging Zoonotic Disease.” Bangkok Hospital. Diakses Februari 2026.