Perencanaan kehamilan menjadi kunci bagi penderita talasemia. Sebelum hamil, dokter biasanya akan melakukan berbagai pemeriksaan untuk memastikan kondisi tubuh cukup aman menjalani kehamilan. Pemeriksaan tersebut bisa meliputi:
Fungsi jantung.
Kondisi hati.
Kadar zat besi.
Kadar hormon.
Pemeriksaan kesuburan.
Tes genetik pasangan.
Dokter juga biasanya akan mengatur terapi kelasi besi untuk membantu menurunkan kadar zat besi berlebih sebelum kehamilan dimulai. Penggunaan obat kelasi tertentu umumnya dihentikan sementara pada awal masa kehamilan demi keamanan janin.
Penanganan pasien talasemia yang hamil biasanya melibatkan banyak dokter, seperti hematolog, dokter kandungan, hingga dokter endokrin.
Pasien talasemia tetap bisa hamil dan memiliki anak. Namun, kehamilan perlu direncanakan dengan matang karena termasuk berisiko tinggi, terutama pada talasemia berat yang perlu transfusi rutin.
Dengan pemeriksaan sebelum hamil, kontrol rutin, serta pendampingan dokter yang tepat, banyak perempuan dengan talasemia berhasil menjalani kehamilan dengan aman dan melahirkan bayi sehat. Karena itu, konsultasi sejak awal sangat penting agar kondisi ibu dan janin tetap terpantau dengan baik.
Referensi
Haematologica. Diakses pada Mei 2026. "Pregnancy and β-thalassemia: An Italian Multicenter Experience."
Healthline. Diakses pada Mei 2026. "What’s Pregnancy Like If You Have Thalassemia?"
RSMC. Diakses pada Mei 2026. "Can Thalassemia Patients Get Pregnant? What Should Be Noted?"
Vasundhara IVF. Diakses pada Mei 2026. "How Does Thalassemia Affect Fertility? Meaning, Symptoms, Causes, Tests, and Available Treatments."
WebMD. Diakses pada Mei 2026. "Beta Thalassemia and Pregnancy."