Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apakah Puasa Bisa Detoks Tubuh?
ilustrasi buka puasa bersama (pexels.com/DEEN SALLY)
  • Puasa sering dikaitkan dengan “detoks tubuh”, padahal detoksifikasi adalah proses biologis alami yang terus berlangsung melalui kerja berbagai organ dalam tubuh.

  • Klaim bahwa puasa atau diet tertentu bisa menghilangkan racun belum terbukti ilmiah; tubuh sehat sudah memiliki mekanisme detoks efisien tanpa perlu bantuan eksternal.

  • Puasa tetap bermanfaat bagi metabolisme dan keseimbangan hormon, tetapi manfaatnya bukan karena pembuangan racun, melainkan perubahan fisiologis yang mendukung kesehatan jika dilakukan dengan benar.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Istilah “detoks” sering terdengar saat Ramadan atau ketika seseorang ingin memulai pola hidup sehat. Puasa disebut-sebut sebagai cara alami untuk membersihkan racun yang menumpuk dalam tubuh. Klaim ini terdengar meyakinkan, apalagi dibungkus dengan narasi kembali ke pola hidup yang lebih sederhana dan teratur.

Namun dalam dunia medis, konsep detoks memiliki makna yang berbeda dari yang populer di media sosial. Detoksifikasi bukanlah proses membuang racun lewat jus atau tidak makan selama beberapa hari. Detoks adalah proses biologis yang terus berlangsung setiap detik di dalam tubuh tanpa perlu program khusus.

Pertanyaannya bukan apakah puasa membuat tubuh dalam mode detoks, melainkan apakah tubuh memang membutuhkan bantuan eksternal untuk melakukannya?

1. Apa itu detoksifikasi?

Detoksifikasi merujuk pada proses biologis yang mengubah zat berbahaya menjadi bentuk yang lebih aman agar dapat dikeluarkan dari tubuh. Organ utama dalam proses ini adalah hati (liver), dibantu oleh ginjal, paru-paru, sistem pencernaan, dan kulit.

Hati bekerja melalui dua fase utama: fase I (oksidasi, reduksi, hidrolisis) dan fase II (konjugasi), yang mengubah zat lipofilik menjadi molekul yang lebih larut air agar bisa diekskresikan melalui urin atau empedu. Proses ini terjadi terus-menerus, baik saat kamu makan maupun tidak.

Hati adalah organ sentral metabolisme dan detoksifikasi, memproses obat, alkohol, dan produk limbah metabolik. Ginjal kemudian menyaring darah dan membuang limbah melalui urine. Artinya, tubuh sudah memiliki sistem detoks yang sangat efisien.

2. Dari mana muncul mitos "puasa detoks tubuh"?

ilustrasi pasutri sedang berpuasa (pexels.com/Thirdman)

Konsep detoks populer sering kali menyiratkan adanya “penumpukan racun” yang hanya bisa dibersihkan melalui diet tertentu atau puasa ekstrem. Padahal pada individu sehat, racun metabolik tidak menumpuk secara misterius selama organ bekerja normal.

Sebuah tinjauan menyimpulkan bahwa bukti ilmiah tentang efektivitas diet detoks komersial sangat terbatas, dan sebagian besar klaim tidak didukung penelitian berkualitas tinggi.

Jika terjadi gangguan detoksifikasi, misalnya pada kondisi gagal hati atau gagal ginjal, itu merupakan kondisi medis serius yang membutuhkan intervensi klinis, bukan sekadar perubahan pola makan.

3. Lalu, bagaimana dengan puasa?

Puasa, termasuk intermittent fasting atau puasa Ramadan, memang memengaruhi metabolisme. Saat asupan energi berhenti sementara, tubuh beralih menggunakan cadangan glikogen dan kemudian lemak sebagai sumber energi.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat meningkatkan proses autofagi, yaitu mekanisme “daur ulang” sel yang membantu membersihkan komponen sel rusak. Studi pemenang Nobel oleh Yoshinori Ohsumi memperlihatkan bahwa autofagi berperan dalam menjaga kesehatan sel.

Namun, penting dicatat bahwa autofagi bukanlah proses pembersihan racun, melainkan proses regulasi seluler yang kompleks dan tidak berarti racun menumpuk lalu dibuang drastis saat puasa. Bukti pada manusia masih berkembang, dan sebagian besar data berasal dari studi hewan.

4. Organ-organ yang bekerja nonstop

ilustrasi mempelajari anatomi (pexels.com/RF._.studio _)

Berikut organ-organ yang menjadi pahlawan dalam hal detoksifikasi tubuh:

  • Hati: Hati menyaring darah dari saluran cerna sebelum diedarkan ke seluruh tubuh. Organ ini memetabolisme obat, alkohol, dan zat kimia asing. Tanpa hati yang berfungsi baik, proses ini terganggu.

  • Ginjal: Organ ini menyaring sekitar 180 liter cairan setiap hari, membuang urea, kreatinin, dan produk limbah lainnya melalui urine.

  • Paru-paru: Karbon dioksida, yang merupakan produk limbah metabolisme, dikeluarkan lewat pernapasan.

  • Sistem pencernaan: Empedu membantu mengeluarkan produk sisa metabolisme melalui feses.

Dengan kata lain, tubuh tidak menunggu momen puasa untuk mulai “membersihkan diri” karena sudah melakukannya sepanjang waktu.

5. Apakah puasa bermanfaat?

Puasa dapat memberikan manfaat metabolik tertentu pada individu sehat, seperti perbaikan sensitivitas insulin dan pengaturan berat badan dalam konteks pola makan seimbang.

Namun, menyederhanakan manfaat tersebut menjadi klaim “detoks racun” adalah bentuk oversimplifikasi. Tidak ada bukti kuat yang mendukung klaim diet detoks dalam menghilangkan racun dari tubuh.

Manfaat puasa lebih tepat dipahami sebagai perubahan metabolik dan hormonal, bukan pembersihan zat beracun misterius.

Tubuh dirancang dengan sistem detoksifikasi yang canggih. Hati, ginjal, paru-paru, dan saluran pencernaan bekerja tanpa henti menjaga keseimbangan internal. Pada orang yang sehat, proses ini berlangsung efektif tanpa bantuan program detoks khusus.

Puasa dapat memberikan efek metabolik tertentu dan menjadi bagian dari gaya hidup sehat jika dilakukan dengan tepat. Namun, menyebutnya sebagai cara pembersihan racun adalah kesalahpahaman. Menjaga pola makan seimbang, hidrasi cukup, tidur berkualitas, dan menghindari paparan zat berbahaya adalah cara paling rasional mendukung sistem detoks alami tubuh.

Referensi

Klaassen, Curtis D., and John B. Watkins III. Casarett & Doull’s Essentials of Toxicology. 3rd ed. New York: McGraw-Hill Education, 2015.

Ulrich M. Zanger and Matthias Schwab, “Cytochrome P450 Enzymes in Drug Metabolism: Regulation of Gene Expression, Enzyme Activities, and Impact of Genetic Variation,” Pharmacology & Therapeutics 138, no. 1 (January 16, 2013): 103–41, https://doi.org/10.1016/j.pharmthera.2012.12.007.

"Liver: Anatomy and Functions." Johns Hopkins University. Diakses Februari 2026.

"The Liver and Its Functions." Columbia University Irving Medical Center. Diakses Februari 2026.

“Your Kidneys & How They Work.” National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diakses Februari 2026.

A. V. Klein and H. Kiat, “Detox Diets for Toxin Elimination and Weight Management: A Critical Review of the Evidence,” Journal of Human Nutrition and Dietetics 28, no. 6 (December 18, 2014): 675–86, https://doi.org/10.1111/jhn.12286.

Ruth E. Patterson and Dorothy D. Sears, “Metabolic Effects of Intermittent Fasting,” Annual Review of Nutrition 37, no. 1 (July 18, 2017): 371–93, https://doi.org/10.1146/annurev-nutr-071816-064634.

Noboru Mizushima and Masaaki Komatsu, “Autophagy: Renovation of Cells and Tissues,” Cell 147, no. 4 (November 1, 2011): 728–41, https://doi.org/10.1016/j.cell.2011.10.026.

“Detox Diets.” British Dietetic Association. Diakses Februari 2026.

Editorial Team