Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Risiko Minum Es Teh Manis saat Buka Puasa, Pilih Air Putih Saja

7 Risiko Minum Es Teh Manis saat Buka Puasa, Pilih Air Putih Saja
ilustrasi minum es teh manis (vecteezy.com/Chairil Azmi)
Intinya Sih
  • Minuman tinggi gula saat berbuka dapat memicu lonjakan gula darah dan meningkatkan risiko metabolik.

  • Konsumsi gula berlebih dikaitkan dengan obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.

  • Pilihan minuman saat berbuka sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan individu.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Setelah seharian menahan lapar dan haus, segelas es teh manis sering terasa seperti hadiah kecil di meja berbuka. Dingin, manis, dan menyegarkan. Tradisi ini begitu lekat dalam budaya berbuka di banyak keluarga.

Namun, dari sudut pandang kesehatan, minuman tinggi gula saat perut kosong bisa membawa dampak yang tidak sederhana. Literatur ilmiah menunjukkan bahwa asupan gula sederhana dalam jumlah besar—terutama setelah periode puasa—dapat memengaruhi respons metabolik tubuh secara signifikan.

1. Lonjakan kadar gula darah mendadak

Minuman manis mengandung gula sederhana yang cepat diserap. Setelah berpuasa, sensitivitas insulin meningkat, tetapi lonjakan glukosa yang terlalu cepat dapat memicu respons insulin besar dalam waktu singkat.

Sebuah studi menunjukkan bahwa konsumsi minuman berpemanis gula (sugar-sweetened beverages/SSB) berkontribusi pada peningkatan risiko diabetes tipe 2 melalui mekanisme resistansi insulin dan lonjakan glikemik berulang.

2. Meningkatkan risiko diabetes tipe 2

ilustrasi pasien diabetes suntik insulin (IDN Times/Novaya Siantita)
ilustrasi pasien diabetes suntik insulin (IDN Times/Novaya Siantita)

Konsumsi rutin minuman manis dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Menurut studi, asupan minuman berpemanis gula secara signifikan berhubungan dengan peningkatan risiko diabetes, terlepas dari indeks massa tubuh.

Jika kebiasaan es teh manis berlangsung setiap hari selama Ramadan, total asupan gula bisa meningkat drastis.

3. Berkontribusi pada kenaikan berat badan

Minuman manis memberikan kalori tanpa rasa kenyang yang signifikan. Konsumsi gula berlebih berkontribusi pada kelebihan berat badan dan obesitas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan asupan gula bebas kurang dari 10 persen total energi harian, bahkan idealnya di bawah 5 persen untuk manfaat tambahan.

Segelas besar es teh manis, apalagi jika nambah, dapat menyumbang sebagian besar batas tersebut.

4. Risiko penyakit jantung

Segelas es teh manis.
ilustrasi segelas es teh manis (unsplash.com/Crystal Tubens)

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi minuman berpemanis gula berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Mekanismenya melibatkan peningkatan berat badan, tekanan darah, dan profil lipid yang kurang sehat.

5. Gangguan kesehatan gigi

Gula sederhana jadi makanan bagi bakteri di mulut. Bakteri itu menghasilkan asam yang mengikis lapisan luar gigi sehingga gigi bisa berlubang. WHO juga menyebut konsumsi gula bebas berkaitan dengan risiko karies. Berbuka dengan minuman manis dan tidak segera membersihkan mulut membuat risiko ini lebih besar.

6. Memicu asam lambung pada sebagian orang

Ilustrasi gejala asam lambung GERD.
ilustrasi gejala asam lambung GERD (IDN Times/Novaya Siantita)

Teh mengandung kafein, yang dapat merangsang produksi asam lambung. Pada individu dengan gastroesophageal reflux disease (GERD), minuman berkafein dan manis bisa memperburuk gejala. Minuman tertentu dapat memicu gejala refluks pada individu sensitif.

7. Tidak optimal untuk rehidrasi

Saat berbuka, tubuh paling butuh mengganti cairan yang hilang. Minuman yang sangat manis cenderung lebih pekat, sehingga lambung mengosongkan isinya lebih lambat dibandingkan air putih. Para ahli menekankan pentingnya minum cukup air agar fungsi tubuh tetap normal.

Minuman yang lebih disarankan saat buka puasa

Minum air putih saat berbuka puasa.
ilustrasi minum air putih (pexels.com/Thirdman)

Berikut beberapa minuman yang lebih disarankan saat buka puasa:

  • Untuk rehidrasi umum: Air putih tetap pilihan utama. Bisa ditambah infused water tanpa gula untuk variasi rasa.
  • Untuk orang dengan diabetes: Pilih air putih, teh tawar tanpa gula, atau minuman rendah kalori. Batasi minuman berpemanis untuk menjaga kontrol glukosa darah.
  • Jika mengalami dehidrasi ringan: Air putih atau cairan rehidrasi oral sesuai anjuran medis dapat membantu mengganti elektrolit.
  • Jika memiliki masalah asam lambung: Air putih hangat atau minuman non asam tanpa kafein lebih disarankan. Hindari minuman berkafein atau minuman yang sangat manis.

Untuk yang ingin tetap minum teh, sebaiknya pilih teh tawar atau kurangi gula secara bertahap.

Es teh manis memang menggoda setelah seharian berpuasa. Namun, konsumsi gula berlebih, terutama dalam bentuk minuman, berkontribusi pada berbagai risiko metabolik dan kesehatan jangka panjang.

Buka puasa adalah momen penting untuk memulihkan energi dan cairan tubuh secara optimal. Memilih minuman yang lebih bijak akan sejalan dengan kesehatan jangka panjang.

Referensi

Vasanti S. Malik et al., “Sugar-Sweetened Beverages and Risk of Metabolic Syndrome and Type 2 Diabetes,” Diabetes Care 33, no. 11 (August 6, 2010): 2477–83, https://doi.org/10.2337/dc10-1079.

Fumiaki Imamura et al., “Consumption of Sugar Sweetened Beverages, Artificially Sweetened Beverages, and Fruit Juice and Incidence of Type 2 Diabetes: Systematic Review, Meta-analysis, and Estimation of Population Attributable Fraction,” BMJ 351 (July 21, 2015): h3576, https://doi.org/10.1136/bmj.h3576.

“Guideline: Sugars Intake for Adults and Children.” World Health Organization. Diakses Februari 2026.

Teresa T Fung et al., “Sweetened Beverage Consumption and Risk of Coronary Heart Disease in Women,” American Journal of Clinical Nutrition 89, no. 4 (February 12, 2009): 1037–42, https://doi.org/10.3945/ajcn.2008.27140.

“Symptoms & Causes of GER & GERD.” National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Diakses Februari 2026.

Efsa Panel on Dietetic Products Nutrition Allergies And, “Scientific Opinion on Dietary Reference Values for Water,” EFSA Journal 8, no. 3 (March 1, 2010), https://doi.org/10.2903/j.efsa.2010.1459.

Mandeep Bajaj et al., “Summary of Revisions: Standards of Care in Diabetes—2026,” Diabetes Care 49, no. Supplement_1 (December 8, 2025): S6–12, https://doi.org/10.2337/dc26-srev.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Nuruliar F
3+
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono
Follow Us

Latest in Health

See More