- Air putih dan cairan elektrolit: Air putih adalah prioritas utama untuk mengganti cairan tubuh yang hilang selama berpuasa. Untuk membantu keseimbangan elektrolit, air kelapa atau minuman dengan sedikit garam dan kalium juga bisa berguna tanpa gula berlebih.
- Buah segar atau kurma: Buah segar atau kurma memberikan gula alami yang dilepaskan secara perlahan, memberi energi tanpa lonjakan tajam gula darah sekaligus menyediakan serat, vitamin, dan mineral yang bermanfaat.
- Sup sayuran atau kaldu: Sup hangat yang ringan memberikan hidrasi dan nutrisi sekaligus mendukung pencernaan sebelum makanan utama, tanpa kandungan lemak tinggi.
- Protein ringan: Sumber protein mudah dicerna seperti telur rebus, ikan panggang, atau tahu bisa membantu perasaan kenyang lebih lama tanpa menambah lemak berlebih.
- Yoghurt rendah lemak: Yoghurt rendah lemak dapat menjadi pilihan baik karena memberikan probiotik yang mendukung kesehatan usus, terutama setelah periode puasa sepanjang hari.
7 Risiko Makan Gorengan Setiap Buka Puasa

Gorengan tinggi lemak dan kalori, berpotensi memicu obesitas, diabetes, serta gangguan kolesterol.
Proses penggorengan menghasilkan senyawa oksidatif dan inflamasi yang dapat membebani sistem tubuh.
Pilihan makanan berbuka yang lebih sehat dan bergizi bisa membantu pemulihan energi tanpa dampak negatif bagi kesehatan.
Berbuka puasa adalah momen penuh kelegaan setelah seharian menahan lapar dan haus. Gorengan menjadi pilihan populer saat berbuka: bakwan, cimol, tahu isi, pisang goreng, dan ragam camilan renyah lainnya. Rasanya nikmat dan sering kali jadi makanan pembuka yang memuaskan.
Namun, dari perspektif kesehatan, gorengan menyerap banyak minyak, tinggi lemak dan kalori, serta melalui proses pemanggangan yang dapat menghasilkan senyawa berpotensi merugikan tubuh. Ketika tubuh baru saja keluar dari periode puasa panjang, respons metabolik terhadap makanan berlemak tinggi ini bisa berbeda dari saat makan biasa. Studi menunjukkan adanya kaitan antara konsumsi gorengan dan risiko sejumlah gangguan kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang yang signifikan.
1. Lonjakan kalori dan risiko kelebihan berat badan
Gorengan mengandung lebih banyak kalori daripada versi panggang atau rebus dari bahan yang sama karena minyak yang diserap selama penggorengan. Ini membuat total asupan energi meningkat tajam dengan porsi kecil makanan saja.
Pola makan tinggi kalori berulang dapat berkontribusi pada kelebihan berat badan dan obesitas, yang merupakan faktor risiko utama bagi banyak penyakit kronis.
2. Peningkatan risiko diabetes tipe 2

Konsumsi makanan goreng secara rutin telah dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2. Studi observasi jangka panjang menunjukkan bahwa individu yang makan gorengan beberapa kali per minggu memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami gangguan toleransi glukosa dibandingkan dengan mereka yang lebih jarang makan gorengan.
3. Kolesterol dan penyakit jantung
Gorengan sering dibuat dengan minyak yang mengalami degradasi termal berulang dan dapat mengandung lemak trans atau lemak jenuh. Pola makan tinggi lemak ini dapat meningkatkan LDL (kolesterol jahat) dan menurunkan HDL (kolesterol baik), memicu aterosklerosis dan menambah risiko penyakit jantung atau stroke.
4. Gangguan pencernaan dan ketidaknyamanan

Makanan tinggi lemak seperti gorengan cenderung lebih sulit dicerna, terutama setelah periode puasa. Kondisi ini dapat menyebabkan perut kembung, gas, nyeri, atau gangguan pencernaan lain karena tubuh bekerja ekstra keras untuk memecah lemak.
5. Pro-inflamasi dan stres oksidatif
Minyak yang dipanaskan hingga suhu tinggi mengalami oksidasi dan pembentukan produk pro-oksidatif. Senyawa ini dapat memicu respons inflamasi/peradangan di tubuh dan berkontribusi terhadap stres oksidatif, yakni kondisi ketika sel mengalami kerusakan akibat radikal bebas. Dalam jangka panjang, ini dikaitkan dengan beragam kondisi kronis.
6. Akrilamida dan senyawa berbahaya

Proses pemanggangan tinggi suhu juga dapat menghasilkan akrilamida, senyawa yang dipertimbangkan berpotensi meningkatkan risiko kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah besar dan berkepanjangan.
Walaupun bukti langsung pada manusia masih sedang dipelajari lebih lanjut, tetapi kewaspadaan terhadap paparan jangka panjang tetap dianjurkan oleh para ahli.
7. Meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular umum
Analisis data jangka panjang menunjukkan bahwa konsumsi makanan goreng yang tinggi dikaitkan dengan risiko lebih tinggi mengalami peristiwa kardiovaskular seperti penyakit jantung atau stroke. Makin sering pola makan tinggi gorengan, makin besar risiko yang teramati.
Minuman dan makanan yang lebih disarankan saat buka puasa
Berbuka sebaiknya dimulai dengan minum dan makanan yang ringan serta mudah dicerna, yang memberi energi tanpa membebani perut. Pilihan seperti air putih, buah, atau makanan berkarbohidrat sederhana membantu tubuh beralih dari puasa ke makan kembali dengan lebih nyaman.
Gorengan mungkin terasa nikmat saat berbuka puasa, apalagi yang baru matang. Namun, pilihan ini memiliki sejumlah risiko jangka pendek dan jangka panjang, mulai dari gangguan pencernaan hingga meningkatnya risiko diabetes dan penyakit kardiovaskular. Bukannya melarang, tetapi frekuensi dan porsinya perlu dikontrol.
Pilihan makanan yang memberi hidrasi, energi stabil, dan nutrisi seimbang akan membantu tubuh beradaptasi secara optimal setelah puasa seharian. Menjadikan gorengan sebagai pilihan sesekali, bukan pilihan setiap buka puasa, dapat menjaga kesehatan jangka panjang.
Referensi
“Eating fried foods tied to increased risk of diabetes and heart disease.” Harvard T.H. Chan School of Public Health. Diakses Februari 2026.
“Why Is Fried Food Bad for You?” Cleveland Clinic. Diakses Februari 2026.
“Why Are Fried Foods Bad for You?” Healthline. Diakses Februari 2026.
“Fried food consumption linked to heart disease and stroke.” Diabetes.co.uk. Diakses Februari 2026.
![[QUIZ] Gaya Larimu Bisa Ungkap Cara Kamu Menghadapi Hidup](https://image.idntimes.com/post/20241226/pexels-ketut-subiyanto-5037354-c6e430ffa2ab45408b74e54c6f8d59e3.jpg)












![[QUIZ] Genre Musik Favoritmu Bisa Bocorkan Responsmu saat Tertekan](https://image.idntimes.com/post/20220311/whatsapp-image-2022-03-11-at-112034-am-1-68380bd095c0dd0760a7d48c486cb7e1.jpeg)




![[QUIZ] Dari Kondisi Mentalmu Sekarang, Ini Jenis Journaling yang Paling Pas](https://image.idntimes.com/post/20251029/pexels-keira-burton-6147039_9e3c9828-6693-454f-9691-e7632647e775.jpg)
