Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi pandemi.
ilustrasi pandemi (pixabay.com/cromaconceptovisual)

Intinya sih...

  • Virus Nipah memiliki tingkat kematian tinggi, belum ada vaksin atau obat spesifik.

  • Penularan virus Nipah cenderung membutuhkan kontak erat, bukan melalui udara seperti COVID-19.

  • Risiko Nipah menjadi pandemi global dinilai tidak besar karena penularannya yang terbatas, namun mutasi virus tetap perlu diwaspadai.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di tengah kekhawatiran global terhadap penyakit menular baru, virus Nipah kerap disebut sebagai salah satu patogen yang patut diwaspadai. Virus yang berasal dari hewan dan dapat menular ke manusia ini memiliki tingkat kematian yang tinggi, diperkirakan mencapai 40–75 persen, serta hingga kini belum memiliki vaksin maupun obat spesifik.

Meski begitu, para ahli menilai potensi virus Nipah menjadi pandemi global saat ini relatif rendah karena penularannya cenderung membutuhkan kontak erat, bukan melalui udara seperti COVID-19. Namun, karena virus terus berevolusi dan berpotensi berubah sifat, kewaspadaan tetap menjadi kunci dalam menghadapi ancaman penyakit ini di masa depan.

Tergantung karakteristik penularan

Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, Prof. Dominicus Husada, dr., DTM&H., MCTM(TP)., Sp.A., Subsp.IPT., CTH, menyebut pentingnya melihat karakteristik penularan virus secara lebih objektif, bukan hanya dari tingkat kematiannya. Sebab, tidak semua virus dengan fatalitas tinggi otomatis berpotensi menjadi pandemi.

Faktor seperti cara penularan, kecepatan penyebaran, serta kemampuan virus bertahan dalam rantai penularan antarmanusia menjadi penentu utama.

"Kalau pandemi itu berarti menyebar ke seluruh dunia. Untuk bisa sampai ke seluruh dunia, persyaratannya adalah penularan yang cepat dan mudah," ujar Prof. Dominicus.

Tetap waspada

ilustrasi kelelawar buah yang termasuk ke dalam famili Pteropodidae sebagai host alamiah virus Nipah (flickr.com/ANDREA JANDA)

Prof. Dominicus menjelaskan bahwa sebuah penyakit baru bisa berkembang menjadi pandemi jika memiliki kemampuan menular dengan cepat dan mudah di antara manusia, terutama melalui udara atau droplet.

Sementara itu, hingga saat ini virus Nipah lebih sering menular melalui kontak erat dengan cairan tubuh pasien atau paparan dari hewan yang terinfeksi. Karena pola penularan seperti ini cenderung membatasi penyebaran, risiko virus Nipah menyebabkan pandemi global dinilai tidak besar.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa virus tetap dapat mengalami mutasi, sehingga kewaspadaan dan penguatan sistem deteksi dini tetap menjadi hal yang penting.

Risikonya tidak besar

Menurut Prof. Dominicus, penularan virus dominan terjadi melalui kontak dekat, maka risiko berkembang menjadi pandemi global relatif tidak besar. Risiko yang lebih realistis adalah munculnya wabah berskala besar di tingkat lokal, misalnya terbatas pada satu kota, beberapa wilayah, atau satu negara.

"Namun, bukan berarti tidak mungkin. Kita tetap harus waspada karena virus bisa bermutasi. Seperti manusia yang berevolusi, virus juga berusaha mempertahankan kelangsungan hidupnya. Kalau suatu faktor yang sebelumnya tidak ada kemudian muncul, itu bisa mengubah situasi," katanya.

Sebagai gambaran, flu burung memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, bahkan bisa mencapai lebih dari 75 persen pada beberapa kasus. Kabar baiknya, virus Nipah belum mudah menular dari manusia ke manusia. Namun, jika suatu saat virus bermutasi sehingga mampu menular antarmanusia, dampaknya bisa sangat besar. Dengan tingkat kematian yang jauh lebih tinggi dibanding SARS-CoV-2, potensi dampak kesehatan masyarakatnya bisa jauh lebih berat, terlebih jika terapi antivirus yang tersedia memiliki efektivitas terbatas.

Editorial Team