Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pasien dan dokter sedang melakukan pemeriksaan
gambar pasien dan dokter sedang melakukan pemeriksaan (freepik.com/DC Studio)

Setelah COVID-19 yang melanda pada tahun 2019 lalu, dunia jadi lebih waspada dengan kemungkinan munculnya wabah penyakit lain. Baru-baru ini, beberapa negara di Asia Tenggara dikagetkan dengan wabah virus Nipah yang melanda Bangladesh. Di Indonesia, kasus virus Nipah memang belum ditemukan, tetapi waspada akan penyakit ini tetaplah diperlukan.

Virus Nipah merupakan virus zoonosis, yang artinya berasal dari hewan sebelum akhirnya menjangkit manusia. Dalam kasus virus Nipah, inangnya adalah kelelawar, sama seperti COVID-19. Lalu jika kedua virus ini berasal dari inang yang sama, apakah virus Nipah juga bisa menyebabkan pandemik? Berikut penjelasannya!

1. Virus Nipah memiliki banyak cara untuk menyebar

gambar seorang pria sedang bersin (unsplash.com/Richard Williams)

Layaknya virus lain yang sudah kita kenal seperti COVID-19 dan influenza, virus Nipah juga memiliki kemampuan untuk menyebar dengan mudah. Dilansir Cleveland Clinic, kelelawar buah merupakan inang dari virus Nipah. Namun pada kelelawar, virus ini gak menyebabkan masalah apapun. Virus kemudian menyebar ke babi dan hewan lainnya melalui cairan tubuh seperti air kencing, tinja, darah, dan air liur. Pada manusia sayangnya, virus ini memiliki lebih banyak cara untuk menyebar.

Pertama, virus Nipah bisa menyebar dari hewan ke manusia melalui makanan. Entah konsumsi buah yang memiliki bekas gigitan, atau ketika kita menyentuh cairan tubuh hewan yang terkontaminasi. Virus kemudian menyebar ke orang lain melalui cairan tubuh. Cairan tubuh di sini gak selalu dalam bentuk air kencing atau liur, bahkan tetesan air yang menyebar melalui udara ketika seseorang bersin atau batuk pun sudah cukup untuk membuat orang lain tertular virus Nipah. 

2. Infeksi virus Nipah juga memiliki tingkat kematian tinggi

gambar pasien di rumah sakit (freepik.com/rawpixel.com)

Setelah seseorang terinfeksi, virus Nipah membutuhkan waktu antara 4 sampai 21 hari masa inkubasi sebelum akhirnya menunjukkan sejumlah gejala. Dilansir laman Kementrian Kesehatan Indonesia, gejala awal virus Nipah sendiri meliputi demam, sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, dan nyeri otot. Gejalanya yang umum membuat banyak orang terkecoh dan menganggap diri mereka hanya menderita flu biasa. Banyak orang juga mengalami pneumonia atau kesulitan bernapas yang membuat mereka terpaksa dilarikan ke rumah sakit.

Namun komplikasi virus Nipah yang paling serius adalah ensefalitis (radang otak) dan meningitis yang biasanya berkembang antara 3 sampai 21 hari setelah gejala awal muncul. Biasanya gejalanya meliputi kebingungan, kantuk, kejang, hingga koma dalam waktu 24-48 jam setelahnya. Gak sampai disitu, infeksi virus ini juga memiliki rate kematian yang cukup tinggi yakni antara 40 hingga 75 persen. Bahkan setelah seseorang dinyatakan sembuh pun, mereka masih memiliki risiko terserang infeksi yang sama di masa mendatang karena virus Nipah yang aktif kembali.

3. Apakah virus Nipah bisa menyebabkan pandemik?

gambar peta sebaran penyakit saat pandemi (unsplash.com/Martin Sanchez)

Virus Nipah pertama kali dideteksi di Malaysia, selama wabah peternakan babi pada tahun 1998. Setelah itu, virus ini juga ditemukan di beberapa negara lain seperti Singapura, Filipina, India, hingga Bangladesh. Dilansir BB Labkesmas Makassar, di Bangladesh, kasus infeksi virus Nipah muncul hampir setiap tahun. Termasuk empat kasus fatal yang terjadi di pertengahan tahun 2025 lalu. Gak hanya Bangladesh, di Barat Bengal India, kasus serupa juga terjadi pada awal tahun 2026.

Lalu apakah virus Nipah juga bisa menyebabkan pandemik? Well, meski virus Nipah memiliki cara untuk menyebar dari manusia ke manusia lain, infeksi virus ini gak tersebar luas secara global seperti virus COVID-19 atau virus lainnya. Alih-alih menyebar luas, virus ini lebih sering menyebabkan outbreak lokal di Asia Selatan terutama di negara seperti India dan Bangladesh. 

4. Bagaimana cara mencegah penyebaran virus Nipah?

gambar buah apel yang sedang dicuci (unsplash.com/Giorgio Trovato)

Mengingat saat ini belum ada vaksin yang disetujui untuk melindungi diri dari infeksi virus, mau gak mau, kita harus melindungi diri sendiri sebaik mungkin. Dilansir UK Health Security Agency, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mencegah penyebaran virus Nipah. Mulai dari menghindari kontak dengan kelelawar serta hewan sakit, menghindari konsumsi buah yang jatuh di tanah atau memiliki bekas gigitan hewan, mencuci semua buah secara menyeluruh dengan menggunakan air bersih, hingga mengupas kulit buah sebelum dikonsumsi. Menggunakan pakaian pelindung dan sarung tangan saat berhadapan dengan hewan sakit, mencuci tangan setelah merawat atau mengunjungi orang sakit, hingga menghindari kontak dengan siapapun yang terinfeksi virus Nipah.

Meski virus Nipah gak menyebabkan pandemik, infeksi virus ini tetaplah berbahaya. Terutama karena penyakit ini memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi. Ditambah belum ada vaksin atau obat untuk mengatasi penyakit ini, membuat infeksi virus Nipah jadi semakin berbahaya.

Referensi

“Nipah Virus Infection.” Better Health Channel (Victoria Health). Diakses Februari 2026.

“About Nipah Virus.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses Februari 2026.

“Nipah Virus — Diseases & Symptoms.” Cleveland Clinic Health. Diakses Februari 2026.

“Nipah Virus — What Is It, Where Is It Found and How Does It Spread?” UK Health Security Agency (UKHSA). Diakses Februari 2026.

“Nipah Virus.” World Health Organization (WHO). Diakses Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team