Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bagaimana Dampak Balita yang Diduga Mengalami Kekerasan di Daycare?
ilustrasi kekerasan pada anak (IDN Times/Sukma Shakti)
  • Kasus dugaan kekerasan di daycare menimbulkan kekhawatiran karena dapat meninggalkan luka fisik dan psikologis pada balita yang sedang berada di fase penting perkembangan emosi dan rasa aman.

  • Psikolog Ratih Ibrahim menjelaskan bahwa pengalaman kekerasan bisa tersimpan sebagai ingatan emosional, memicu trauma yang tampak melalui perubahan perilaku seperti ketakutan, rewel, atau gangguan tidur.

  • Fokus utama penanganan kasus harus pada perlindungan dan pemulihan anak, bukan menyalahkan orang tua, dengan dukungan keluarga serta evaluasi tanggung jawab dari pihak penyedia layanan daycare.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kasus dugaan kekerasan terhadap anak di lingkungan daycare, yang baru-baru ini dilaporkan terjadi di Yogyakarta, kembali memicu kekhawatiran masyarakat. Tempat penitipan anak yang seharusnya menjadi ruang aman bagi tumbuh kembang anak justru bisa meninggalkan luka fisik maupun psikologis ketika terjadi tindakan kekerasan.

Dampaknya pun tidak bisa dianggap sepele, terutama pada balita yang masih berada dalam fase penting perkembangan emosi, rasa aman, dan kepercayaan terhadap lingkungan sekitar.

Menjadi memori yang tersimpan

Dijelaskan oleh Ratih Ibrahim, senior clinical psychologist , Direktur Personal Growth, Tim Ahli Pokja Keswa Kementerian Kesehatan (Kemenkes), berdasarkan sudut pandang psikologi perkembangan, masa balita adalah masa yang sangat penting karena daya kerja kognitif dan emosional anak sedang berkembang pesat, lebih dari tiga kali lipat.

"Pada fase ini, anak belum sepenuhnya mampu memahami atau mengungkapkan pengalaman yang dialaminya, tetapi tubuh dan emosinya akan tetap terpengaruh oleh pengalaman tersebut. Manifestasi lukanya bisa beragam, di mana kita mungkin bisa memperkirakannya, namun persisnya luka itu akan menjadi bagaimana kita tidak tahu," ujarnya kepada IDN Times.

Ini bisa saja berpengaruh pada rasa aman (sense of safety), kepercayaan anak terhadap lingkungan sekitarnya, serta perkembangan emosi. Meskipun anak terlihat belum memahami kejadian secara utuh, tetapi pengalaman tersebut tetap dapat tersimpan dan muncul dalam bentuk perubahan perilaku atau respons emosional tertentu.

Balita bisa alami trauma

ilustrasi kekerasan pada anak (IDN Times/Sukma Shakti)

Ratih mengatakan bahwa trauma tetap bisa muncul meskipun anak belum mampu memahami atau mengingat kejadian tersebut secara sadar.

Pada usia dini, pengalaman tidak selalu disimpan dalam bentuk ingatan verbal, tetapi lebih banyak tersimpan sebagai ingatan emosional dan sensasi tubuh. Di mana, hal ini berarti anak mungkin tidak bisa menceritakan apa yang terjadi, tetapi tubuh dan emosinya tetap merespons pengalaman tersebut.

"Dampaknya dapat terlihat dalam bentuk perubahan perilaku, seperti menjadi lebih mudah takut, rewel, sulit berpisah dengan orang tua, atau mengalami gangguan tidur. Karena itu, penting bagi orang tua untuk tidak hanya menunggu anak bercerita terlebih dahulu, tetapi juga peka terhadap perubahan perilaku atau emosi yang muncul setelah suatu kejadian," imbuh Ratih.

Tanda-tanda yang perlu diwaspadai

Dalam kasus kekerasan, penting untuk diingat bahwa orang tua, khususnya ibu, sering kali berada dalam posisi yang tidak mudah. Tidak semua keluarga memiliki pilihan atau kondisi yang memungkinkan salah satu orang tua untuk selalu berada di rumah.

"Menyalahkan orang tua (atau yang sering disebut sebagai mom-shaming) bukanlah pendekatan yang membantu. Justru, hal ini dapat menambah beban emosional bagi orang tua yang sudah berada dalam situasi sulit," jelas Ratih.

Pengasuhan anak pada dasarnya adalah tanggung jawab bersama, baik antara ayah dan ibu, maupun dengan dukungan dari lingkungan sekitar. Daycare sendiri seharusnya menjadi bagian dari sistem pendukung yang aman dan terpercaya bagi keluarga.

Dalam kasus kekerasan, fokus utama sebaiknya diarahkan pada perlindungan anak, pemulihan kondisi psikologisnya, serta memastikan adanya evaluasi dan akuntabilitas dari pihak penyedia layanan. Bagi orang tua, penting untuk tetap fokus pada kebutuhan anak, saling menguatkan sebagai keluarga, serta memanfaatkan dukungan yang tersedia, termasuk bantuan profesional bila diperlukan.

Editorial Team