Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Studi: Semaglutide Menunjukkan Manfaat bagi Kesehatan Mental

Studi: Semaglutide Menunjukkan Manfaat bagi Kesehatan Mental
ilustrasi pasien menggunakan obat diabetes GLP-1 (IDN Times/Novaya Siantita)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Semaglutide dikaitkan dengan penurunan risiko gangguan mental, termasuk depresi dan kecemasan.

  • Penurunan hingga 42 persen pada rawat inap dan cuti sakit terkait mental ditemukan dalam studi besar berbasis data populasi.

  • Namun, ini masih studi observasional, sehingga uji klinis lebih lanjut tetap diperlukan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Obat diabetes identik dengan kontrol gula darah dan penurunan berat badan. Namun, sebuah studi besar yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Psychiatry membuka kemungkinan baru, bahwa efeknya mungkin juga dirasakan oleh kesehatan mental.

Penelitian yang melibatkan lebih dari 95.000 individu dengan depresi atau kecemasan ini menemukan bahwa penggunaan obat golongan GLP-1 receptor agonist, khususnya semaglutide (bahan aktif Ozempic), berkaitan dengan penurunan kebutuhan perawatan rumah sakit dan cuti sakit akibat masalah mental.

Yang membuat temuan ini menarik adalah desain studinya. Para peneliti membandingkan kondisi orang yang sama saat mereka menggunakan obat tersebut dan saat tidak menggunakannya. Dengan pendekatan ini, efek yang terlihat menjadi lebih kuat karena mengurangi bias antarindividu.

Hasilnya cukup mencolok. Selama periode penggunaan semaglutide, terjadi:

  • Penurunan 42 persen risiko gangguan mental secara keseluruhan.
  • Penurunan 44 persen pada depresi.
  • Penurunan 38 persen pada gangguan kecemasan.
  • Penurunan 47 persen pada gangguan penggunaan zat.

Angka-angka ini memberikan sinyal bahwa efek obat ini mungkin tidak hanya fisik, tetapi juga neurologis dan psikologis.

Mengapa obat diabetes bisa memengaruhi mental?

Hubungan antara diabetes, obesitas, dan kesehatan mental sebenarnya sudah lama diketahui.

Kondisi metabolik ini sering berjalan beriringan dengan depresi dan kecemasan. Namun, yang belum sepenuhnya dipahami adalah bagaimana pengobatannya bisa memengaruhi kondisi psikologis.

GLP-1 receptor agonist bekerja dengan meniru hormon alami yang mengatur:

  • Kadar gula darah.
  • Nafsu makan.
  • Respons insulin.

Namun, reseptor GLP-1 juga ditemukan di otak, terutama di area yang mengatur:

  • Emosi.
  • Sistem reward.
  • Respons stres.

Beberapa hipotesis ilmiah yang muncul dari studi ini meliputi:

  • Perbaikan regulasi gula darah yang berarti stabilisasi mood.
  • Penurunan inflamasi sistemik yang berdampak pada otak.
  • Efek langsung pada jalur neurokimia.

Menariknya, tidak semua obat dalam kelompok ini memberikan efek yang sama.

  • Semaglutide menunjukkan dampak paling kuat.
  • Liraglutide menunjukkan penurunan risiko sekitar 18 persen.
  • Exenatide dan dulaglutide tidak menunjukkan efek signifikan.

Ini mengindikasikan efek terhadap kesehatan mental mungkin sangat spesifik pada molekul tertentu, bukan seluruh kelas obat.

Harapan baru, tetapi belum final

Ilustrasi suasana hati bahagia.
ilustrasi suasana hati bahagia (freepik.com/benzoix)

Walaupun temuanya menjanjikan, tetapi para peneliti menekankan bahwa ini masih studi observasional. Artinya, hubungan yang ditemukan bukanlah sebab akibat.

Beberapa hal penting yang perlu dicatat:

  • Studi ini menggunakan data registri nasional Swedia (2009–2022).
  • Tidak mengontrol semua faktor gaya hidup.
  • Tidak dirancang sebagai uji klinis terkontrol.

Namun, satu temuan penting lainnya adalah bahwa penggunaan GLP-1 secara keseluruhan dikaitkan dengan penurunan risiko melukai diri sendiri. Ini merupakan temuan penting dalam konteks kesehatan mental global.

Peneliti utama, Prof. Jari Tiihonen, menekankan bahwa uji klinis acak tetap diperlukan untuk memastikan apakah obat ini benar-benar memiliki efek terapeutik langsung terhadap kesehatan mental.

Studi terbaru menunjukkan efek menjanjikan semaglutide terhadap kesehatan mental. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan. Obat seperti Ozempic bukanlah solusi instan untuk masalah mental. Perannya, jika terbukti lebih lanjut, kemungkinan besar akan menjadi bagian dari pendekatan yang lebih holistik, bukan pengganti terapi utama.

Referensi

"Diabetes drug Ozempic linked to better mental health." Karolinska Institutet. Diakses April 2026.

Heidi Taipale et al., “Association Between GLP-1 Receptor Agonist Use and Worsening Mental Illness in People With Depression and Anxiety in Sweden: A National Cohort Study,” The Lancet Psychiatry 13, no. 4 (March 18, 2026): 327–35, https://doi.org/10.1016/s2215-0366(26)00014-3.

"Semaglutide Shows Surprising Mental Health Benefits in Massive 100,000-Person Study." SciTechDaily. Diakses April 2026.

Abdallah Alzoubi et al., “The Bidirectional Relationship Between Diabetes and Depression: A Literature Review,” Korean Journal of Family Medicine 39, no. 3 (May 18, 2018): 137–46, https://doi.org/10.4082/kjfm.2018.39.3.137.

Michael A. Nauck and Juris J. Meier, “Incretin Hormones: Their Role in Health and Disease,” Diabetes Obesity and Metabolism 20, no. S1 (January 24, 2018): 5–21, https://doi.org/10.1111/dom.13129.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More