Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bahaya Campak pada Anak: Gejala, Risiko, dan Cara Pencegahannya
gambar seorang anak sedang bermain di kamar (unsplash.com/Kyle Nieber)
  • Campak adalah penyakit menular akibat virus Morbillivirus yang sangat berisiko bagi anak-anak di bawah lima tahun, terutama yang belum divaksinasi.
  • Penyakit ini dapat memicu komplikasi serius seperti infeksi paru-paru, kebutaan, pembengkakan otak, hingga kematian pada penderita dengan daya tahan tubuh lemah.
  • Vaksin MMR dan MMRV menjadi langkah pencegahan paling efektif terhadap campak, diberikan sejak usia balita dalam dua dosis untuk perlindungan jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Campak adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus. Pada orang dewasa, virus ini umumnya bukan masalah besar. Mengingat mayoritas orang dewasa saat ini sudah mendapatkan vaksinasi lengkap saat mereka masih kecil. Namun sayangnya hal itu gak berlaku bagi anak-anak.

Dilansir World Health Organization (WHO), pada tahun 2024 lalu, terdapat sekitar 95.000 kematian di seluruh dunia yang disebabkan oleh campak. Lebih ironisnya lagi, sebagian besar dari korban penyakit ini adalah anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Campak pada anak memang bukan penyakit sembarangan. Lantas apa yang membuat penyakit ini begitu berbahaya? Berikut penjelasannya!

1. Anak-anak merupakan salah satu kelompok paling rentan

ilustrasi virus campak (unsplash.com/National Institute of Allergy and Infectious Disease)

Salah satu yang bahaya dari campak bukan hanya soal gejala atau komplikasi yang mungkin terjadi. Melainkan karena virus penyebab penyakit ini sangat mudah menyebar. Dilansir Cleveland Clinic, virus campak menyebar melalui berbagai cara. Namun yang paling umum adalah lewat udara ketika seseorang yang terinfeksi bernapas, bicara, batuk, dan bersin. Seseorang bahkan bisa terinfeksi campak hanya karena menyentuh barang-barang yang sudah terpapar virus.

Layaknya penyakit lain, campak sebetulnya gak pilih-pilih dalam mencari mangsanya. Namun dari semua orang, anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun dan belum divaksinasi adalah yang paling rentan terkena campak. Termasuk juga bayi, yang bisa tertular dari ibu atau orang sekitarnya. Terakhir, campak bahkan bisa menular dari ibu ke janin yang dikandungnya selama proses kehamilan berlangsung.

2. Campak bisa menyebabkan berbagai komplikasi berbahaya

gambar seorang anak perempuan sedang demam (freepik.com/user18526052)

Gejala campak biasanya muncul sekitar 10-14 hari setelah terpapar virus dari orang yang terinfeksi lebih dulu. Di awal, gejala campak akan terlihat seperti flu biasa, dengan gejala meliputi demam tinggi, merasa gak enak badan, batuk parah, mata merah, pilek, hingga munculnya bintik-bintik putih di mulut atau yang biasa disebut koplik. Gejala lain yang jadi ciri khas adalah munculnya ruam berwarna merah yang menyebar ke seluruh tubuh. Biasanya ruam muncul antara 3-5 hari setelah gejala awal. Dengan penanganan yang tepat, campak biasanya dapat disembuhkan.

Namun dalam kasus tertentu seperti orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, campak bisa aja menyebabkan sejumlah komplikasi. Dilansir Cleveland Clinic, komplikasinya meliputi infeksi telinga, dehidrasi yang disebabkan oleh diare parah, bronkitis, radang tenggorokan, radang paru-paru, kebutaan, pembengkakan otak, bahkan kematian. Gak hanya itu, pada kasus tertentu, campak juga bisa menyebabkan komplikasi serius seperti panensefalitis sklerosis subakut, yakni infeksi sistem sistem saraf langka dan fatal. Berbeda dengan komplikasi lain yang muncul saat seseorang terinfeksi campak, komplikasi ini justru terjadi bertahun-tahun setelah seseorang terinfeksi campak.

3. Vaksinasi menjadi cara terbaik untuk mencegah campak

gambar vaksin yang akan disuntikkan (unsplash.com/Mufid Majnun)

Mengingat betapa mudahnya virus campak menular dari satu orang ke orang lain, perlindungan sejak dini merupakan cara terbaik untuk mengatasi campak. Untuk kasus campak, memakai masker atau membatasi sentuhan jelas gak cukup. Sejauh ini, vaksin merupakan salah satu cara terbaik untuk mencegah campak. Dilansir Mayo Clinic, terdapat dua jenis vaksin berbeda yang bisa dijadikan pilihan. Pertama ada vaksin MMR yang digunakan untuk melindungi diri dari penyakit campak, gondok, dan rubella.

Vaksin kedua dikenal dengan nama MMRV yang berfungsi melindungi diri dari campak, gondok, rubella, dan varicella. Vaksin campak sendiri diberikan saat masih balita. Terdiri dari dua tahap, dosis pertama umumnya diberikan saat anak berusia 12 bulan dan dosis kedua diberikan saat berusia 18 bulan.

Pada orang dewasa, vaksin campak dianjurkan bagi mereka yang bekerja di bidang perawatan anak, lansia, perawa kesehatan, hingga bepergian ke negara yang memiliki risiko infeksi campak yang tinggi. Satu yang perlu diingat, gak semua orang diperbolehkan mendapatkan vaksin campak. Vaksin ini gak boleh diberikan pada ibu hamil, mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah karena pengobatan penyakit tertentu, atau mereka yang mengalami reaksi buruk setelah mendapatkan vaksin dosis pertama.

Campak umumnya memang bisa disembuhkan dengan penanganan medis. Namun alih-alih mengobati, akan jauh lebih bijak jika kita melakukan pencegahan sejak awal. Pencegahannya pun bisa dilakukan, dengan perlindungan yang bertahan seumur hidup.

Referensi

“Measles.” World Health Organization (WHO). Diakses pada April 2026.

“Measles — Symptoms and Causes.” Mayo Clinic. Diakses pada April 2026.

“Measles.” Cleveland Clinic. Diakses pada April 2026.

“Measles.” Healthdirect Australia. Diakses pada April 2026.

“Measles: Symptoms, Causes, and Treatment.” Medical News Today. Diakses pada April 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team