Keduanya bisa bermanfaat jika dijalankan dengan pola makan seimbang. Namun, pendekatan kesehatan tidak bisa dilepaskan dari konteks individu, yang mencakup kondisi medis, kebutuhan energi, dan gaya hidup.
Bagi individu dengan diabetes, penyakit ginjal, atau kondisi kronis lain, konsultasi dengan dokter sangat dianjurkan sebelum menjalani IF atau berpuasa. Perubahan pola makan signifikan harus diawasi pada pasien dengan gangguan metabolik.
Intermittent fasting dan puasa Ramadan sama-sama melibatkan pembatasan waktu makan, tetapi perbedaan tujuan, aturan cairan, serta konteks pelaksanaannya membuat keduanya tidak sama. Dari sudut pandang kesehatan, kualitas makanan dan keseimbangan gizi tetap menjadi kunci. Tanpa pola makan yang tepat, manfaat metabolik bisa tidak optimal, baik pada IF maupun puasa Ramadan. Pendekatan yang bijak dan sesuai kondisi individu sangat penting.
Referensi
Hamish A. Fernando et al., “Effect of Ramadan Fasting on Weight and Body Composition in Healthy Non-Athlete Adults: A Systematic Review and Meta-Analysis,” Nutrients 11, no. 2 (February 24, 2019): 478, https://doi.org/10.3390/nu11020478.
Rafael De Cabo and Mark P. Mattson, “Effects of Intermittent Fasting on Health, Aging, and Disease,” New England Journal of Medicine 381, no. 26 (December 25, 2019): 2541–51, https://doi.org/10.1056/nejmra1905136.
Dylan A. Lowe et al., “Effects of Time-Restricted Eating on Weight Loss and Other Metabolic Parameters in Women and Men With Overweight and Obesity,” JAMA Internal Medicine 180, no. 11 (September 28, 2020): 1491, https://doi.org/10.1001/jamainternmed.2020.4153.
“Healthy Diet.” World Health Organization. Diakses Februari 2026.
Valter D. Longo and Mark P. Mattson, “Fasting: Molecular Mechanisms and Clinical Applications,” Cell Metabolism 19, no. 2 (January 16, 2014): 181–92, https://doi.org/10.1016/j.cmet.2013.12.008.
Mandeep Bajaj et al., “Summary of Revisions: Standards of Care in Diabetes—2026,” Diabetes Care 49, no. Supplement_1 (December 8, 2025): S6–12, https://doi.org/10.2337/dc26-srev.