ilustrasi menjemur bayi kuning (pexels.com/Canary Islands)
Jika tetap ingin menjemur bayi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk meminimalkan risiko:
Pilih waktu pagi (sebelum jam 09.00).
Durasi singkat (5–10 menit).
Hindari paparan langsung terlalu lama.
Lindungi mata dan wajah bayi.
Pastikan kualitas udara baik (tidak berpolusi).
Namun perlu diingat, ini bukan pengganti pengobatan medis.
Menjemur bayi untuk mengatasi kuning adalah praktik yang berakar dari pemahaman lama, yang sebagian memiliki dasar ilmiah, tetapi tidak cukup kuat untuk dijadikan terapi utama. Dalam dunia medis modern, pendekatan yang lebih aman dan terukur seperti fototerapi jauh lebih diandalkan.
Bagi orang tua, keputusan terbaik adalah yang berbasis bukti. Menjemur bayi mungkin terlihat sederhana, tetapi tanpa kontrol yang tepat, manfaatnya terbatas dan risikonya nyata. Dalam kondisi seperti bayi kuning, konsultasi dengan dokter tetap menjadi langkah terbaik.
Referensi
Alex R. Kemper et al., “Clinical Practice Guideline Revision: Management of Hyperbilirubinemia in the Newborn Infant 35 or More Weeks of Gestation,” PEDIATRICS 150, no. 3 (August 5, 2022), https://doi.org/10.1542/peds.2022-058859.
Tina M. Slusher et al., “A Randomized Trial of Phototherapy With Filtered Sunlight in African Neonates,” New England Journal of Medicine 373, no. 12 (September 16, 2015): 1115–24, https://doi.org/10.1056/nejmoa1501074.
Balk, Sophie J. “Ultraviolet Radiation: A Hazard to Children and Adolescents.” PEDIATRICS 127, no. 3 (March 1, 2011): e791–817. https://doi.org/10.1542/peds.2010-3502.
Reinhard Kaiser et al., “Air Pollution Attributable Postneonatal Infant Mortality in U.S. Metropolitan Areas: A Risk Assessment Study,” Environmental Health 3, no. 1 (May 5, 2004): 4, https://doi.org/10.1186/1476-069x-3-4.