- Mengalami sunburn (kulit terbakar sinar matahari).
- Dehidrasi.
- Kerusakan DNA kulit yang berdampak jangka panjang
Bayi Perlu Dijemur atau Tidak? Ini Faktanya

Paparan sinar matahari memang membantu pembentukan vitamin D, tapi kulit bayi sangat sensitif sehingga risiko sunburn dan kerusakan kulit lebih besar dibanding manfaatnya.
Menjemur bayi bukan terapi utama untuk mengatasi kuning; fototerapi dan suplementasi vitamin D 400 IU per hari lebih aman.
Menjemur bayi di area berpolusi tinggi bisa meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan perkembangan, sehingga keamanan lingkungan harus jadi pertimbangan utama orang tua.
Praktik menjemur bayi di pagi hari sudah lama menjadi bagian dari budaya di banyak negara, termasuk Indonesia. Banyak orang tua percaya sinar matahari bisa memperkuat tulang, mencegah penyakit, bahkan membantu mengatasi kuning pada bayi baru lahir. Keyakinan ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya tepat.
Ilmu kedokteran modern melihat praktik ini dengan pendekatan yang lebih hati-hati. Sinar matahari memang memiliki manfaat biologis, tetapi pada bayi, yang kulitnya masih sangat sensitif, paparan langsung juga membawa risiko yang tidak bisa diabaikan.
Table of Content
Manfaat paparan sinar matahari
Sinar matahari membantu tubuh memproduksi vitamin D, yang penting untuk penyerapan kalsium dan pembentukan tulang. Pada orang dewasa dan anak-anak yang lebih besar, ini adalah sumber utama vitamin D. Namun, pada bayi situasinya berbeda.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), paparan sinar matahari bukanlah metode yang direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan vitamin D bayi. Kulit bayi jauh lebih tipis dan rentan terhadap kerusakan akibat sinar ultraviolet (UV).
Penelitian menyebut, risiko paparan UV pada bayi, termasuk sunburn dan kerusakan kulit jangka panjang, lebih besar dibanding manfaatnya jika tidak dilakukan dengan sangat hati-hati.
Risiko paparan langsung sinar matahari pada bayi

Kulit bayi belum memiliki perlindungan optimal terhadap sinar UV. Bahkan, paparan singkat bisa meningkatkan risiko bayi:
Para ahli menekankan bahwa paparan sinar UV di usia dini berkontribusi pada peningkatan risiko kanker kulit di masa depan. Karena itu, bayi di bawah usia 6 bulan umumnya tidak dianjurkan terpapar sinar matahari langsung, terutama pada waktu intensitas UV tinggi.
Apakah menjemur bayi bisa mengatasi kuning?
Salah satu alasan paling umum bayi dijemur adalah untuk mengatasi ikterus neonatorum (bayi kuning).
Sinar matahari memang mengandung spektrum cahaya yang dapat membantu memecah bilirubin. Namun, metode ini tidak bisa menggantikan terapi medis seperti fototerapi. Paparan sinar matahari sulit dikontrol intensitasnya, sehingga tidak konsisten dan berisiko.
Artinya, menjemur bayi bukan terapi utama yang direkomendasikan secara medis untuk kondisi ini.
Alternatif yang lebih aman

Karena risiko paparan sinar matahari, banyak ahli merekomendasikan pendekatan yang lebih aman.
AAP menyarankan bayi yang mendapatkan ASI eksklusif sebaiknya menerima suplementasi vitamin D sebesar 400 IU per hari sejak lahir.
Pendekatan ini dianggap lebih terukur, lebih aman, dan tidak bergantung pada faktor cuaca atau paparan UV.
Ada juga risiko dari polusi udara
Selain paparan sinar matahari, kondisi lingkungan tempat bayi dijemur juga sangat menentukan keamanan. Di banyak wilayah perkotaan atau daerah dengan kualitas udara buruk, menjemur bayi di luar rumah bisa meningkatkan paparan terhadap polusi udara.
Bayi termasuk kelompok yang sangat rentan terhadap polutan seperti particulate matter (PM2.5 dan PM10). Menurut penelitian, paparan polusi udara pada awal kehidupan berkaitan dengan peningkatan risiko kematian bayi sebesar sekitar 4 persen untuk setiap kenaikan konsentrasi PM10.
Penelitian lainnya menemukan bahwa paparan polusi juga berkaitan dengan berat badan lahir rendah dan gangguan perkembangan awal.
Lebih jauh, paparan polusi pada bayi tidak hanya berdampak jangka pendek. Polutan udara dapat memengaruhi perkembangan organ, sistem pernapasan, bahkan otak bayi, karena partikel halus dapat masuk ke dalam tubuh dan menyebar ke berbagai organ.
Artinya, jika bayi dijemur di lingkungan dengan kualitas udara buruk, misalnya dekat jalan raya yang padat atau area berpolusi tinggi, risikonya bisa lebih besar dibanding manfaat dari sinar matahari itu sendiri.
Bagaimana jika orang tua tetap mau menjemur bayinya?

Jika orang tua tetap ingin menjemur bayi, ada beberapa prinsip penting:
- Waktu aman: sebelum pukul 09.00 pagi.
- Durasi singkat: sekitar 5–10 menit.
- Hindari paparan langsung terlalu lama.
- Lindungi area sensitif seperti wajah dan mata.
Namun perlu ditekankan, ini bukan kebutuhan wajib, melainkan pilihan yang harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Menjemur bayi di bawah sinar matahari bukan kewajiban. Walaupun paparan sinar matahari memberi manfaat, tetapi risiko yang menyertainya tidak bisa diabaikan. Pendekatan modern lebih mengutamakan cara yang aman dan terkontrol, seperti suplementasi vitamin D.
Bagi orang tua, keputusan yang paling bijak adalah yang mempertimbangkan keamanan jangka panjang. Jika masih bingung, sebaiknya konsultasikan dengan dokter spesialis anak.
Referensi
Carol L. Wagner and Frank R. Greer, “Prevention of Rickets and Vitamin D Deficiency in Infants, Children, and Adolescents,” PEDIATRICS 122, no. 5 (October 31, 2008): 1142–52, https://doi.org/10.1542/peds.2008-1862.
Sophie J. Balk, “Ultraviolet Radiation: A Hazard to Children and Adolescents,” PEDIATRICS 127, no. 3 (March 1, 2011): e791–817, https://doi.org/10.1542/peds.2010-3502.
World Health Organization. “Ultraviolet Radiation and the INTERSUN Programme.” Diakses April 2026.
Alex R. Kemper et al., “Clinical Practice Guideline Revision: Management of Hyperbilirubinemia in the Newborn Infant 35 or More Weeks of Gestation,” PEDIATRICS 150, no. 3 (August 5, 2022), https://doi.org/10.1542/peds.2022-058859.
Reinhard Kaiser et al., “Air Pollution Attributable Postneonatal Infant Mortality in U.S. Metropolitan Areas: A Risk Assessment Study,” Environmental Health 3, no. 1 (May 5, 2004): 4, https://doi.org/10.1186/1476-069x-3-4.
Payam Dadvand et al., “Maternal Exposure to Particulate Air Pollution and Term Birth Weight: A Multi-Country Evaluation of Effect and Heterogeneity,” Environmental Health Perspectives 121, no. 3 (February 6, 2013): 267–373, https://doi.org/10.1289/ehp.1205575.
IQAir. “Air Pollution and Your Baby’s Brain Development.” Diakses April 2026.






![[QUIZ] Kalau Punya Anak, Kamu Bakal Jadi Tipe Bapak Seperti Apa?](https://image.idntimes.com/post/20250517/premium-photo-1664279990106-9f5c41bd7f5a-b87dbf88049ea09327ded00ec8bf5046-e7f7326c95d633244190a220a2836080.jpeg)
![[QUIZ] Cara Kamu Ngemil di Kantor Ungkap Risiko Kesehatanmu](https://image.idntimes.com/post/20250805/1000437091_25e33428-64c8-41c2-8596-b0832973e9d5.jpg)






![[QUIZ] Playlist Favoritmu Bisa Menunjukkan Cara Kamu Melawan Rasa Malas](https://image.idntimes.com/post/20250514/pexels-viralyft-16897649-8ed9de860b0ace40589a8766fe9a17d0-bcead74174e00b2d4a0e1455f0676a42.jpg)




