Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Orang yang menderita super flu
gambar orang yang menderita super flu (freepik.com/benzoix)

Beberapa hari belakangan ini, penyakit super flu sedang merebak di Indonesia. Sejauh ini, super flu sudah menjangkit puluhan orang dari berbagai daerah, di mana kebanyakan korbannya adalah anak-anak dan perempuan. Situasi ini jelas membuat banyak orang panik, mengingat baru beberapa tahun lalu, kita menghadapi pandemik COVID-19 yang merenggut ribuan nyawa.

Ketika penyakit super flu menyebar, gak sedikit yang bertanya-tanya, apakah penyakit ini juga akan berubah menjadi pandemik? Benarkah super flu lebih parah dari COVID-19? Berikut jawabannya!

1. Super flu bukanlah penyakit baru

ilustrasi virus influenza tipe A (u splash.com/CDC)

Flu merupakan penyakit yang cukup umum diderita. Saking terbiasanya dengan flu, kita bahkan gak lagi menganggap penyakit ini berbahaya. Lalu bagaimana dengan super flu? Dilansir Nuvance Health, super flu merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus subclade K. Meski namanya terdengar asing, subclade K sebetulnya merupakan subkelompok baru dari virus flu musiman influenza A H3N2. Di Indonesia, super flu baru menyebar di akhir tahun 2025 kemarin.

Namun sebetulnya virus ini sudah terdeteksi sejak Juni 2025 di sejumlah negara Eropa, dan Amerika Serikat. Sama seperti flu biasa, super flu juga bisa menular dengan mudah. Umumnya virus ini menyebar melalui udara saat penderitanya batuk maupun bersin. Selain dapat menyebar di udara, virus juga bisa menempel di permukaan benda. Ketika kita menyentuh benda tersebut, virus akan berpindah dan masuk ke tubuh melalui hidung dan mulut.

2. Super flu memiliki gejala yang lebih parah dari flu biasa

gambar seorang perempuan sedang menderita super flu (freepik.com/benzoix)

Gejala super flu umumnya gak berbeda jauh dengan flu yang biasa kita alami. Dilansir Baptist Health, gejalanya meliputi demam tinggi sering kali di atas 38 derajat Celsius, nyeri otot, kelelahan, batuk dan sakit tenggorokan, sakit kepala, dan hidung tersumbat. Berbeda dari flu biasa yang gejalanya muncul secara bertahap, gejala super flu muncul lebih cepat dan berkembang semakin parah dalam hitungan jam. Ketika gejalanya memburuk, pasien akan mengalami sejumlah gejala baru seperti sesak napas, nyeri dada, hingga gejala dehidrasi.

Gak hanya menimbulkan gejala yang lebih parah, super flu juga membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh. Salah satu alasannya karena virus subclade K telah mengalami mutasi dibandingkan dengan varian virus H3N2 lainnya. Ditambah lagi, beberapa tahun terakhir ini, manusia cukup jarang terpapar virus sehingga sistem kekebalan tubuh kurang mengenali, dan merespons virus. Alhasil ketika terinfeksi, pasien butuh waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk bisa pulih sepenuhnya.

3. Benarkah super flu lebih parah dari COVID-19?

gambar seorang perempuan yang menderita COVID-19 (usplash.com/Alexander Grey)

Pandemik COVID-19 yang terjadi beberapa tahun yang lalu memang cukup membuat banyak orang merasa trauma. Mengingat banyaknya korban yang berjatuhan, gak heran jika orang jadi lebih waspada dengan berita tentang penyebaran penyakit. Termasuk juga dengan merebaknya penyakit super flu awal tahun ini. Namun benarkah super flu lebih parah dari COVID-19?

Kedua penyakit ini disebabkan oleh virus yang berbeda. Dilansir Cleveland Clinic, COVID-19 adalah penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, sedangkan super flu disebabkan subclade K. Gejala yang ditimbulkan COVID-19 memang cukup mirip dengan flu. Meski begitu, penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi serius seperti radang paru-paru, acute respiratory distress syndrome (ARDS), bahkan gagal jantung yang berujung pada kematian.

Di sisi lain, gejala super flu memang terasa lebih berat sehingga banyak orang merasa mereka menderita sakit parah saat terjangkit. Namun sebenarnya, super flu adalah penyakit musiman yang merebak saat cuaca dingin atau saat musim hujan. Kasus kematian memang ada, tetapi itu sangat jarang terjadi.

Gak dimungkiri, beberapa kasus super flu memang butuh perawatan intensif di rumah sakit. Namun kebanyakan kasus super flu ringan sebetulnya bisa diobati di rumah. Jika kamu masih khawatir mengenai penyakit ini, kamu bisa berkunjung ke rumah sakit dan melakukan vaksinasi flu. Pada anak-anak, vaksin flu dapat memberikan perlindungan hingga 75 persen, sedangkan pada orang dewasa, vaksin ini dapat melindungi tubuh dari virus influenza tipe A dan B hingga 39 persen.

Referensi

“New Flu Variant May Be Triggering Spike in Severe Disease.” Scientific American. Diakses Januari 2026.

Superflu or Same Old Flu? How Subclade K Influenza Is Playing Out Worldwide.” Gavi (VaccinesWork). Diakses Januari 2026.

“H3N2 Subclade K: New Flu Variant Driving the 2025–26 Global Flu Season.” Public Health News. Diakses Januari 2026.

“Kemenkes Pastikan Influenza A H3N2 Subclade K Tidak Lebih Parah, Situasi Nasional Terkendali.” Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes). Diakses Januari 2026.

“Seasonal Influenza — Global Situation.” World Health Organization (WHO). Diakses Januari 2026.

“New Flu Strain Subclade K — What It Means for This Flu Season.” Baptist Health. Diakses Januari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team