Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apakah Super Flu Bisa Menyerang Anak? Ini Faktanya!

ilustrasi anak kecil sakit
ilustrasi anak kecil sakit (freepik.com/prostooleh)

Istilah super flu belakangan ramai dibicarakan seiring lonjakan kasus influenza dengan gejala berat yang dilaporkan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua karena anak-anak disebut sebagai kelompok yang paling sering terdampak. Sejumlah laporan media internasional dan nasional menunjukkan bahwa mayoritas pasien berasal dari usia balita hingga anak sekolah.

Kondisi tersebut terjadi saat musim flu berlangsung dengan tingkat penularan yang lebih luas dan durasi sakit yang lebih panjang dibandingkan flu biasa. Situasi ini membuat banyak orang tua bertanya apakah super flu bisa menyerang anak dan seberapa besar risiko komplikasinya. Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini agar orang tua bisa lebih waspada dan memahami cara melindungi anak dari risiko super flu.

1. Super flu merujuk pada lonjakan kasus influenza dengan gejala berat

ilustrasi virus
ilustrasi virus (pexels.com/CDC)

Super flu bukanlah istilah medis resmi yang digunakan dalam dunia kedokteran, melainkan sebutan populer untuk menggambarkan lonjakan kasus influenza yang terjadi secara bersamaan dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi. Dilansir NBC News, musim flu terbaru ditandai dengan peningkatan signifikan jumlah pasien yang mengalami gejala berat hingga harus menjalani perawatan intensif. Lonjakan ini tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi bersifat nasional di beberapa negara.

Meskipun disebut super, virus yang beredar tetap berasal dari keluarga influenza yang sudah lama dikenal. Namun, kombinasi beberapa varian virus yang aktif secara bersamaan membuat penularan menjadi lebih cepat dan sulit dikendalikan. Kondisi ini diperparah oleh menurunnya kekebalan populasi akibat berkurangnya paparan virus selama masa pembatasan sosial beberapa tahun terakhir.

Bagi anak-anak, situasi tersebut menjadi lebih berisiko. Sistem kekebalan tubuh yang belum berkembang sempurna membuat mereka lebih sulit melawan infeksi virus yang agresif. Akibatnya, super flu pada anak sering kali memicu gejala yang lebih berat dan berlangsung lebih lama dibandingkan orang dewasa.

2. Anak-anak menjadi kelompok yang rentan terkena super flu

ilustrasi anak kecil sakit
ilustrasi anak kecil sakit (freepik.com/user18526052)

Menjawab pertanyaan apakah super flu bisa menyerang anak, berbagai laporan menunjukkan bahwa anak justru menjadi salah satu kelompok yang paling banyak terdampak. Dilansir Gizmodo, rumah sakit di sejumlah negara mencatat peningkatan tajam pasien anak dengan kondisi influenza berat. Beberapa di antaranya mengalami komplikasi serius yang membutuhkan penanganan intensif.

Kerentanan anak terhadap super flu dipengaruhi oleh pola aktivitas sehari-hari. Anak-anak cenderung berinteraksi dekat dengan teman sebaya di sekolah, tempat bermain, maupun fasilitas umum lainnya. Selain itu, kebiasaan menyentuh wajah dan kurangnya kesadaran menjaga kebersihan membuat virus lebih mudah berpindah.

Di Indonesia, kondisi ini juga menjadi perhatian. Pasalnya, kasus super flu yang banyak terdata berasal dari kelompok usia anak. Fakta tersebut menunjukkan bahwa perlindungan terhadap anak tidak bisa dianggap sepele, terutama saat terjadi lonjakan kasus flu.

3. Gejala super flu pada anak bisa menyerupai flu biasa, tetapi lebih berat

ilustrasi anak kecil sakit
ilustrasi anak kecil sakit (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Pada tahap awal, gejala super flu pada anak sering kali sulit dibedakan dari flu biasa. Anak umumnya mengalami demam tinggi, batuk, pilek, nyeri otot, serta tubuh yang terasa sangat lemas. Kondisi ini membuat banyak orang tua mengira anak hanya mengalami infeksi ringan.

Namun, pada super flu, gejala tersebut dapat berkembang dengan cepat dan tidak kunjung membaik. Sebagian anak mengalami gangguan pernapasan, muntah berulang, hingga penurunan kondisi yang drastis dalam waktu singkat. Situasi ini tentu membutuhkan kewaspadaan ekstra dari orang tua.

Jika terlambat ditangani, super flu dapat memicu komplikasi yang lebih serius. Pneumonia dan infeksi saluran pernapasan bawah menjadi risiko yang paling sering terjadi. Oleh karena itu, pemeriksaan medis sejak dini sangat disarankan apabila kondisi anak memburuk.

4. Pencegahan super flu pada anak perlu dimulai dari keluarga

ilustrasi anak kecil sakit
ilustrasi anak kecil sakit (pexels.com/Gustavo Fring)

Meski terdengar mengkhawatirkan, risiko super flu pada anak tetap dapat ditekan dengan langkah pencegahan yang tepat. Salah satu upaya utama adalah vaksinasi influenza tahunan yang direkomendasikan tenaga kesehatan. Dilansir Gavi, vaksin flu terbukti membantu mengurangi risiko infeksi berat dan komplikasi serius pada anak.

Selain vaksinasi, penerapan kebiasaan hidup bersih juga memegang peranan penting. Orang tua perlu membiasakan anak mencuci tangan dengan sabun, terutama setelah beraktivitas di luar rumah atau sebelum makan. Kebiasaan sederhana ini dapat menurunkan risiko penularan virus secara signifikan.

Asupan gizi seimbang dan waktu istirahat yang cukup juga berkontribusi pada daya tahan tubuh anak. Lingkungan keluarga yang peduli terhadap kesehatan akan membantu anak lebih terlindungi. Dengan pencegahan yang konsisten, risiko super flu dapat diminimalkan.

Jadi, apakah super flu bisa menyerang anak? Fakta menunjukkan bahwa anak-anak justru menjadi kelompok yang paling rentan terdampak. Dengan kewaspadaan, pencegahan sejak dini, dan penanganan yang tepat, risiko dampak serius super flu pada anak dapat ditekan.

Referensi

“The Super Flu Is Hitting Kids Hard — and Some Aren’t Surviving.” Gizmodo. Diakses Januari 2026.

Superflu or Same Old Flu? How Subclade K Influenza Is Playing Out Worldwide.” Gavi (VaccinesWork). Diakses Januari 2026.

“Flu Surges Nationwide — New Variant Driving Hospitalizations.” NBC News. Diakses Januari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Health

See More

Parainfluenza: Gejala, Penyebab, Pengobatan, Pencegahan

09 Jan 2026, 21:07 WIBHealth