Anak masih bertumbuh, sehingga rencana makan perlu memenuhi kebutuhan gizinya. WHO menyebut penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengetahui dampak jangka panjang diet yang ketat—seperti diet sangat rendah kalori atau keto—terhadap pertumbuhan serta kesejahteraan fisik dan mental.
Panduan tersebut juga meminta tenaga kesehatan menilai risiko gangguan makan dan berkomunikasi tanpa stigma.
WHO menggambarkan pola makan sehat sebagai pola yang cukup, seimbang, moderat, dan beragam, dengan penyesuaian pada usia, kondisi individu, budaya, serta makanan yang tersedia. Dalam penanganan obesitas anak, keputusan untuk mengubah pola makan sebaiknya dibuat bersama tenaga kesehatan yang memahami gizi anak, bukan dengan mengikuti diet orang dewasa atau tren di media sosial.
Referensi
World Health Organization, "WHO Guideline on the Integrated Management of Obesity in Children (Geneva: World Health Organization, 2026)", https://www.who.int/publications/i/item/9789240123397.
Megan L. Gow et al., “Impact of Dietary Macronutrient Distribution on BMI and Cardiometabolic Outcomes in Overweight and Obese Children and Adolescents: A Systematic Review,” Nutrition Reviews 72, no. 7 (2014): 453–70, https://doi.org/10.1111/nure.12111.
Faye Southcombe et al., “Targeted Dietary Approaches for the Management of Obesity and Severe Obesity in Children and Adolescents: A Systematic Review and Meta-analysis,” Clinical Obesity 13, no. 2 (2023): e12564, https://doi.org/10.1111/cob.12564.