Ramadan memberi momentum, tetapi perubahan perilaku perlu kokoh lebih lama dari sebulan. Setelah Ramadan, pertahankan rutinitas sehat yang kamu bangun, seperti aktivitas fisik ringan, pola makan seimbang, dan keterlibatan sosial positif. Kebiasaan ini membantu menjaga diri dari kembali vaping.
Jika dilema metabolik atau craving kuat tetap muncul, pertimbangkan mencari dukungan profesional atau bergabung dengan kelompok berhenti vaping di komunitas atau online. Penelitian tentang intervensi berhenti vaping menunjukkan bahwa kombinasi strategi perilaku, dukungan sosial, dan—jika perlu—bantuan profesional meningkatkan peluang sukses lebih tinggi dari usaha mandiri tanpa dukungan.
Ramadan menawarkan kesempatan unik bagi pengguna vape yang ingin berhenti. Jeda dari penggunaan nikotin yang terstruktur setiap hari, ditambah motivasi religius dan dukungan sosial, menciptakan lingkungan yang mendukung perubahan perilaku. Dengan persiapan matang, pengelolaan gejala withdrawal yang tepat, dan rencana pasca Ramadan yang jelas, peluang untuk berhenti vaping secara permanen menjadi lebih realistis.
Referensi
Shorouk Mohsen, Abdel-Hady El-Gilany, and Noha Essam, “Effect of Ramadan Fasting on Changes in Smoking and Vaping Behaviors and Withdrawal Symptoms Severity: A Cross-sectional Study,” Journal of Addictive Diseases 43, no. 2 (May 24, 2024): 168–78, https://doi.org/10.1080/10550887.2024.2354565.
Nicola Rahman, Ernesta Sofija, and Bernadette Sebar, “Examining Intention to Quit Vaping Among Australian Young Adults Using Social Cognitive Theory: A Cross-Sectional Survey Analysis,” Youth 4, no. 1 (December 27, 2023): 31–41, https://doi.org/10.3390/youth4010003.
"Apakah Vaping Lebih Aman daripada Merokok?" Kemenkes RI. Diakses Februari 2026.
Ailsa R Butler et al., “Interventions for Quitting Vaping,” Cochrane Database of Systematic Reviews 2025, no. 11 (November 25, 2025): CD016058, https://doi.org/10.1002/14651858.cd016058.pub3.