- Mengenang kembali hari kamu berhenti, bagaimana perasaan kamu tentang merokok?
- Berapa tahun kamu merokok? Berapa lama ingin berhenti?
- Jika kamu kembali merokok, apakah ingin berhenti lagi? Apakah kamu akan menyesal telah merokok?
- Kapan akan berhenti lagi? Apakah itu beberapa minggu, bulan, tahun, atau ketika sakit menyerang?
- Apa manfaat yang akan ditawarkan merokok buat kamu?
- Apakah merokok sekarang sepadan dengan semua usaha yang telah kamu investasikan dalam upaya berhenti merokok?
- Apakah berhenti akan lebih mudah di lain waktu?
Sudah Berhenti Merokok, Amankah Sesekali Merokok Lagi?

- Berhenti merokok adalah proses yang penuh tantangan, baik secara fisik maupun mental, dan godaan untuk kembali selalu ada.
- Slip merujuk pada kondisi ketika seseorang sempat merokok satu atau dua batang setelah berusaha berhenti, sedangkan relapse adalah kembalinya kebiasaan merokok secara rutin seperti sebelumnya.
- Data dari CDC menunjukkan bahwa kebanyakan orang membutuhkan delapan hingga 11 kali percobaan sebelum benar-benar berhasil berhenti merokok.
Berhenti merokok adalah pencapaian besar, tetapi godaan sering kali datang setelahnya. Banyak mantan perokok mulai bertanya-tanya, “Apakah boleh sesekali merokok setelah berhenti?”
Sekilas, satu batang rokok mungkin terasa sepele. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa keputusan “cuma satu kali” ini justru membawa risiko "kambuh" yang sangat tinggi. Begitu nikotin kembali masuk ke tubuh, peluang untuk kembali merokok dengan jumlah yang sama seperti sebelum berhenti menjadi jauh lebih besar.
Risiko ini makin meningkat ketika mantan perokok berada di lingkungan yang dipenuhi perokok aktif, baik saat berkumpul dengan teman, di tempat kerja, maupun di rumah. Paparan sosial semacam ini terbukti memicu keinginan merokok yang kuat, terutama karena rasa rindu terhadap nikotin bisa muncul tiba-tiba dan intens. Sayangnya, situasi seperti ini tidak selalu mudah dihindari.
Yang perlu dipahami, kecanduan nikotin bukan sesuatu yang bisa “dikendalikan” hanya dengan niat. Begitu tubuh kembali merasakan nikotin, mekanisme kecanduan bisa aktif lagi.
1. Kenali perbedaan slip dan relapse
Dalam proses berhenti merokok, penting untuk memahami bahwa tidak semua kegagalan berarti kembali ke titik nol. Slip merujuk pada kondisi ketika seseorang sempat merokok satu atau dua batang setelah berusaha berhenti, sedangkan relapse adalah kembalinya kebiasaan merokok secara rutin seperti sebelumnya. Perbedaan ini krusial karena slip masih bisa dikendalikan sebelum berkembang menjadi kambuh total.
Perlu diingat, kejadian seperti ini sangat umum. Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa kebanyakan orang membutuhkan delapan hingga 11 kali percobaan sebelum benar-benar berhasil berhenti merokok. Bahkan, ada studi yang menemukan jumlah percobaan bisa mencapai enam hingga lebih dari 30 kali.
Artinya, slip bukanlah tanda kegagalan permanen. Jika sempat merokok satu batang, akui risikonya tanpa menyalahkan diri berlebihan. Fokuslah pada langkah pencegahan agar tidak mengulangi, misalnya dengan menjauhkan pemicu rokok, mencari dukungan sosial, dan segera kembali ke komitmen awal untuk berhenti.
2. Tips berhenti merokok

Jika kamu benar-benar tidak bisa menghilangkan pikiran untuk merokok dan khawatir akan menyerah dan merokok lagi, hentikan semuanya. Duduklah dengan pena dan kertas dan jawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan jujur. Atau, jawab pertanyaan-pertanyaan ini terlebih dahulu dan bawalah untuk ditinjau kembali saat dibutuhkan.
Menelaah pertanyaan-pertanyaan ini dan menjawabnya dengan jujur akan membantu kamu menemukan keseimbangan ketika ingin merokok.
3. Waspadai pola pikir yang menjebak saat berhenti merokok
Berhenti merokok bukan hanya soal menahan diri secara fisik, tetapi juga menghadapi pertarungan di dalam pikiran.
Pada fase awal berhenti merokok, banyak orang mengalami pola pikir adiktif. Mereka biasanya mengalami dialog internal antara keinginan untuk bebas dari rokok dan dorongan kuat dari kecanduan nikotin. Suara di kepala yang membujuk untuk “merokok sedikit saja” bisa terasa sangat terus-menerus, melelahkan, dan mengganggu.
Yang perlu disadari, fase ini bersifat sementara dan merupakan bagian normal dari proses pemulihan akibat putus nikotin. Makin sedikit perhatian yang diberikan pada pikiran-pikiran tidak sehat tersebut, makin cepat dorongan itu mereda.
Dengan memahami sejak awal bahwa gejolak mental ini adalah hal yang wajar, mantan perokok bisa lebih siap menghadapinya tanpa panik atau merasa gagal.
Berhenti merokok adalah proses yang penuh tantangan, baik secara fisik maupun mental, dan godaan untuk kembali selalu ada. Namun, dengan memahami risiko kambuh, mengenali slip sejak dini, dan menyadari bahwa gejolak pikiran adalah hal yang sementara, peluang untuk benar-benar lepas dari rokok menjadi jauh lebih besar.
Referensi
"Get Back on Track After a Setback." Smoke Free. Diakses pada Januari 2026.
Partos, Timea Reka, Ron Borland, Hua-H Yong, James Thrasher, and David Hammond. “Cigarette Packet Warning Labels Can Prevent Relapse: Findings From the International Tobacco Control 4-Country Policy Evaluation Cohort Study.” Tobacco Control 22, no. e1 (April 25, 2012): e43–50.
DiFranza, Joseph R. “Can Tobacco Dependence Provide Insights Into Other Drug Addictions?” BMC Psychiatry 16, no. 1 (October 27, 2016): 365.


















