ilustrasi berbuka puasa (freepik.com/freepik)
Aturan praktis yang baik adalah berbuka dengan makanan tinggi protein, lemak sehat, dan karbohidrat rendah glikemik. Ini akan membantu menstabilkan gula darah dan mendukung tingkat energi dan nafsu makan sepanjang hari.
Berikut tips menghindari lonjakan gula darah saat berbuka puasa:
Setelah berpuasa, tubuh cenderung dehidrasi ringan. Memulai dengan air putih membantu rehidrasi tanpa langsung membebani sistem metabolik. Rehidrasi bertahap disarankan sebelum konsumsi makanan besar.
Mengonsumsi porsi kecil lebih dulu memberi waktu bagi tubuh untuk menyesuaikan diri. Penelitian menunjukkan bahwa ukuran porsi besar berkontribusi pada respons glukosa yang lebih tinggi setelah makan.
Secara praktis, berbuka dengan air dan satu atau dua kurma (tidak terlalu banyak), lalu jeda sebelum makan utama, dapat membantu mengurangi lonjakan mendadak.
Urutan makan terbukti memengaruhi respons glikemik. Studi menunjukkan mengonsumsi sayuran dan protein sebelum karbohidrat secara signifikan menurunkan lonjakan glukosa pascamakan.
Serat dalam sayuran memperlambat pengosongan lambung dan penyerapan glukosa. Protein juga meningkatkan rasa kenyang dan memodulasi pelepasan insulin.
Artinya, memulai iftar dengan salad atau sayuran berkuah ringan, dilanjutkan sumber protein, baru kemudian karbohidrat bisa menjadi strategi.
Tidak semua karbohidrat bereaksi sama di tubuh. Biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan umbi-umbian memiliki indeks glikemik lebih rendah dibanding nasi putih atau roti putih.
Menurut penelitian, diet rendah indeks glikemik membantu memperbaiki kontrol gula darah dan profil lipid pada individu dengan diabetes.
Mengganti nasi putih dengan nasi merah atau menambahkan kacang-kacangan dalam menu iftar dapat membantu menjaga kenaikan glukosa lebih stabil.
Menggabungkan karbohidrat dengan lemak tak jenuh dan protein memperlambat penyerapan glukosa.
Lemak sehat seperti minyak zaitun atau kacang-kacangan membantu menurunkan kecepatan lonjakan.
Protein juga meningkatkan sekresi hormon kenyang seperti GLP-1, yang berperan dalam regulasi gula darah.
Menu seimbang, misalnya nasi merah dengan ikan panggang dan sayuran, lebih ramah secara metabolik dibanding seporsi besar mi goreng manis tanpa protein yang memadai.
Minuman berpemanis adalah sumber gula yang diserap sangat cepat karena berbentuk cair. Batasi konsumsi gula tambahan untuk mencegah risiko penyakit metabolik.
Minuman manis menyebabkan peningkatan glukosa lebih cepat dibanding makanan padat karena tidak memerlukan proses pencernaan kompleks.
Mengganti sirop manis dengan infused water atau teh tanpa gula dapat secara signifikan mengurangi beban glikemik saat berbuka.
Jangan jadikan buka puasa sebagai momen "balas dendam", tetapi lihatlah ini sebagai momen untuk keseimbangan metabolik tubuh. Lonjakan gula darah memang respons alami, tetapi besar kecilnya sangat dipengaruhi oleh pilihan dan cara kamu makan. Strategi sederhana seperti mengatur urutan makan, memilih sumber karbohidrat yang tepat, serta membatasi gula tambahan dapat membantu menjaga stabilitas energi hingga waktu sahur.
Referensi
Bajaj, Mandeep, Rozalina G. McCoy, Kirthikaa Balapattabi, Raveendhara R. Bannuru, Natalie J. Bellini, Allison K. Bennett, Elizabeth A. Beverly, et al. “Summary of Revisions: Standards of Care in Diabetes—2026.” Diabetes Care 49, no. Supplement_1 (December 8, 2025): S6–12. https://doi.org/10.2337/dc26-srev.
“Glycemic Index and Glycemic Load.” Harvard T.H. Chan School of Public Health. Diakses Maret 2026.
Shilpa N Bhupathiraju et al., “Glycemic Index, Glycemic Load, and Risk of Type 2 Diabetes: Results From 3 Large US Cohorts and an Updated Meta-analysis,” American Journal of Clinical Nutrition 100, no. 1 (May 1, 2014): 218–32, https://doi.org/10.3945/ajcn.113.079533.
Antonio Ceriello et al., “Postprandial Hyperglycaemia and Cardiovascular Complications of Diabetes: An Update,” Nutrition Metabolism and Cardiovascular Diseases 16, no. 7 (August 25, 2006): 453–56, https://doi.org/10.1016/j.numecd.2006.05.006.
Louis Monnier, Claude Colette, and David R. Owens, “Glycemic Variability: The Third Component of the Dysglycemia in Diabetes. Is It Important? How to Measure It?,” Journal of Diabetes Science and Technology 2, no. 6 (November 1, 2008): 1094–1100, https://doi.org/10.1177/193229680800200618.
Louis Monnier et al., “Activation of Oxidative Stress by Acute Glucose Fluctuations Compared With Sustained Chronic Hyperglycemia in Patients With Type 2 Diabetes,” JAMA 295, no. 14 (April 11, 2006): 1681, https://doi.org/10.1001/jama.295.14.1681.
“Healthy Diet.” World Health Organization (WHO). Diakses Maret 2026.
Nicole Diliberti et al., “Increased Portion Size Leads to Increased Energy Intake in a Restaurant Meal,” Obesity Research 12, no. 3 (March 1, 2004): 562–68, https://doi.org/10.1038/oby.2004.64.
Alpana P. Shukla et al., “Food Order Has a Significant Impact on Postprandial Glucose and Insulin Levels,” Diabetes Care 38, no. 7 (June 11, 2015): e98–99, https://doi.org/10.2337/dc15-0429.
D. E. Thomas and E. J. Elliott, “The Use of Low-glycaemic Index Diets in Diabetes Control,” British Journal of Nutrition 104, no. 6 (April 27, 2010): 797–802, https://doi.org/10.1017/s0007114510001534.
Jens Juul Holst, “GLP-1 Physiology in Obesity and Development of Incretin-based Drugs for Chronic Weight Management,” Nature Metabolism 6, no. 10 (August 19, 2024): 1866–85, https://doi.org/10.1038/s42255-024-01113-9.
“Guideline: Sugars Intake for Adults and Children.” WHO. Diakses Maret 2026.