Kenapa Nafsu Makan Sulit Dikontrol Saat Buka Puasa? Ini Penjelasannya

- Peningkatan hormon ghrelin selama puasa membuat otak menerima sinyal lapar lebih kuat menjelang waktu berbuka, sehingga dorongan untuk makan dalam jumlah besar meningkat.
- Tubuh masuk ke mode survival akibat penurunan glukosa darah dan berusaha memulihkan energi dengan meningkatkan sinyal nafsu makan saat berbuka puasa.
- Faktor psikologis seperti rasa ingin memberi “hadiah” pada diri sendiri dan ekspektasi terhadap makanan lezat turut memperkuat dorongan makan berlebih saat berbuka.
Bagi banyak orang, momen buka puasa memang sering kali terasa seperti kesempatan untuk membalas dendam setelah seharian menahan lapar dan haus. Saat mendengar adzan maghrib, rasanya kamu pasti ingin langsung makan apa saja yang ada di depan mata, dari yang manis sampai yang gutih. Hal tersebut terkadang membuatmu jadi mengonsumi makanan lebih banyak dari biasanya tanpa sadar.
Hal ini ternyata bukan sekadar soal timbulnya keinginan atau kurangnya kontrol di dalam diri kita, tetapi ada penjelasan ilmiah di baliknya, lho. Nah, biar gak makin penasaran, kamu bisa langsung menyimak penjelasan lengkapnya dalam artikel ini ya!
1. Adanya peningkatan hormon ghrelin setelah menjalankan puasa

Selama berpuasa, tubuh akan mengalami defisit energi karena tidak ada asupan makanan dan minuman yang diberikan selama berjam-jam. Kondisi ini membuat lambung meningkatkan produksi hormon ghrelin sebagai sinyal biologis bahwa tubuh membutuhkan energi. Ghrelin diproduksi yang diproduksi di lambung akan mengirimkan sinyal ke hipotalamus pada otak untuk meningkatkan keinginan makan.
Hal tersebut tentunya akan mengkibatkan peningkatan produksi hormon ghrelin jika durasi puasa semakin panjang. Tingginya ghrelin dalam darah bisa memunculkan sensasi lapar yang terasa lebih kuat menjelang waktu berbuka, sehingga hal ini juga berkontribusi pada peningkatan nafsu makan. Ketika waktu berbuka tiba, lonjakan hormon ghrelin ini membuat otak menerima sinyal yang besar untuk segera mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak guna memulihkan energi tubuh dengan cepat.
2. Tubuh mengalami mode survival untuk mengembalikan energi

Kadar glukosa dalam darah secara bertahap akan menurun karena tubuh tidak mererima asupan karbohidrat sebagai sumber energi selama berpuasa. Untuk mempertahankan fungsi vital agar bisa tetap bekerja secara optimal, tubuh beralih memakai cadangan energi dari otot dan lemak sebagai sumber energi alternatif. Kondisi ini memicu tubuh melakukan mode survival sebagai suatu respon adaptasi untuk menghemat energi saat berpuasa.
Oleh karena itu, ketika waktu berbuka puasa tiba, tubuh akan meningkatkan produksi hormon pemicu lapar seperti ghrelin dan mengaktifkan sinyal nafsu makan di hipotalamus. Mekanisme ini bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan energi, menormalkan kadar glukosa darah, serta mengisi kembali cadangan energi yang telah digunakan selama puasa. Hal ini tentunya akan membuat seseorang ingin menikmati banyak makanan dalam waktu singkat.
3. Adanya faktor psikologis yang berperan dalam peningkatan nafsu makan

Selain perubahan hormon dan metabolisme, faktor psikologis juga ternyata berperan penting dalam peningkatan nafsu makan saat berbuka puasa. Setelah menahan lapar dan haus selama berjam-jam, otak secara otomatis membentuk persepsi bahwa tubuh telah melalui kondisi sulit, sehingga muncul dorongan mental untuk memberikan hadiah berupa makanan. Respon ini melibatkan serangkaian sistem di otak, khususnya peningkatan hormon dopamin yang memperbesar dorongan untuk mengonsumsi makanan, terutama yang tinggi gula, lemak, atau berkalori tinggi.
Selain itu, ekspektasi terhadap sajian berbuka yang selalu lezat dan beragam, juga bisa memperkuat keinginan makan dalam jumlah besar. Hal ini dikarenakan otak kita memang tidak hanya dirancang untuk merespon kebutuhan energi, tetapi juga rangsangan emosional, visual, dan kebiasaan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Fenomena ini dikenal sebagai compensatory eating behavior, yaitu kecenderungan makan lebih banyak setelah periode pembatasan makan, sebagai bentuk kompensasi biologis dan psikologis untuk memulihkan kepuasan.
Dengan mengetahui beberapa alasan di atas, kamu akan semakain paham bahwa peningkatan nafsu makan secara drastis saat berbuka merupakan respon alami tubuh yang dipengaruhi oleh faktor hormon, metabolisme, dan juga psikologis. Pemahaman yang dibagikan dalam artikel ini sangat penting untuk diketahui agar kita dapat mengontrol pola makan saat berbuka dengan lebih bijak, seperti memulai makan dengan porsi kecil, secara perlahan, dan memilih makanan bergizi seimbang.
Referensi:
How Ghrelin and Leptin Affect Hunger and Weight. Very Well Health. Diakses pada 26 Februari 2026.
Alogaiel, D. M., Alsuwaylihi, A., Alotaibi, M. S., Macdonald, I. A., & Lobo, D. N. (2025). Effects of Ramadan intermittent fasting on hormones regulating appetite in healthy individuals: A systematic review and meta-analysis. Clinical Nutrition, 45, 250-261. Diakses pada 26 Februari 2026.
Nuttall, F. Q., Almokayyad, R. M., & Gannon, M. C. (2016). The ghrelin and leptin responses to short-term starvation vs a carbohydrate-free diet in men with type 2 diabetes; a controlled, cross-over design study. Nutrition & metabolism, 13(1), 47. Diakses pada 26 Februari 2026.
Al-Rawi, N., Madkour, M., Jahrami, H., Salahat, D., Alhasan, F., BaHammam, A., & Al-Islam Faris, M. E. (2020). Effect of diurnal intermittent fasting during Ramadan on ghrelin, leptin, melatonin, and cortisol levels among overweight and obese subjects: A prospective observational study. PloS one, 15(8), e0237922. Diakses pada 26 Februari 2026.






![[QUIZ] Genre Musik Favoritmu Menunjukkan Cara Tubuhmu Menghadapi Stres Fisik](https://image.idntimes.com/post/20250601/pexels-cottonbro-6875743-535a16e7fb7bdc23245ff21afd8e8c4f-8d474d21ca64c6270a28cc912387b000.jpg)







![[QUIZ] Dari Kebiasaan Saat Bukber, Kami Tahu Kecenderungan NPD dalam Dirimu](https://image.idntimes.com/post/20240322/kuis-kecenderungan-narsisme-cf334c99630e8453e01ee01e0ebbaaf3.jpg)



