Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Cara Meningkatkan Kesehatan Usus Besar, Jangan Diabaikan
ilustrasi mengonsumsi sayur dan buah (pexels.com/Yaroslav Shuraev)
  • Usus besar berperan penting dalam penyerapan air, pengolahan sisa makanan, dan menjaga keseimbangan mikrobiota yang memengaruhi sistem pencernaan serta imun tubuh.

  • Gaya hidup sehat seperti konsumsi serat cukup, hidrasi optimal, olahraga rutin, dan pembatasan daging merah membantu mencegah sembelit serta menurunkan risiko kanker kolorektal.

  • Manajemen stres dan skrining rutin seperti kolonoskopi penting untuk menjaga fungsi usus besar sekaligus mendeteksi dini potensi penyakit serius.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Artikel ini menampilkan sisi positif dari perawatan kesehatan usus besar dengan menekankan bahwa langkah-langkah sederhana sehari-hari dapat memberikan manfaat nyata. Melalui pola makan tinggi serat, hidrasi cukup, aktivitas fisik teratur, dan manajemen stres, tubuh memperoleh dukungan alami untuk menjaga keseimbangan mikrobiota serta mencegah gangguan pencernaan secara berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Usus besar atau kolon sering kali tidak mendapat perhatian sebesar organ lain, padahal perannya vital. Di dalam organ ini air diserap, sisa makanan diproses, dan mikrobiota, yaitu triliunan bakteri baik, berperan menjaga keseimbangan sistem pencernaan dan imun. Ketika kesehatan usus besar terganggu, dampaknya bisa terasa luas, mulai dari sembelit hingga risiko penyakit kronis seperti kanker kolorektal.

Gaya hidup modern yang tinggi makanan olahan, rendah serat, dan minim aktivitas fisik membuat kesehatan usus besar rentan terganggu. Kabar baiknya, ada banyak cara sederhana untuk menjaga dan meningkatkan fungsi usus besar. Yuk, lakukan mulai hari ini!

1. Meningkatkan asupan serat

Serat sangat penting bagi kesehatan usus besar. Ada dua jenis serat, yaitu serat larut dan serat tidak larut. Peran keduanya vital.

Serat tidak larut membantu mempercepat pergerakan usus dan mencegah sembelit, sementara serat larut difermentasi oleh bakteri usus menjadi asam lemak rantai pendek (short-chain fatty acids/SCFA) seperti butirat.

Butirat memiliki peran krusial dalam menjaga kesehatan sel-sel usus besar. SCFA membantu mengurangi peradangan, memperkuat lapisan mukosa usus, dan bahkan memiliki efek protektif terhadap kanker kolorektal.

Para ahli merekomendasikan asupan serat harian yang cukup sebagai bagian dari pola makan sehat. Sayangnya, banyak orang tidak memenuhi kebutuhan ini. Menambahkan sayur, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh secara bertahap bisa menjadi langkah awal yang efektif.

2. Menjaga keseimbangan mikrobiota usus

ilustrasi mikrobiota usus (IDN Times/NRF)

Usus besar adalah rumah bagi mikrobiota, yaitu ekosistem kompleks yang berperan dalam pencernaan, produksi vitamin, hingga modulasi sistem imun. Ketidakseimbangan mikrobiota (disbiosis) dikaitkan dengan berbagai penyakit, termasuk sindrom iritasi usus besar dan kanker kolon.

Penelitian menunjukkan, keberagaman mikrobiota yang tinggi berkorelasi dengan kesehatan metabolik dan pencernaan yang lebih baik. Pola makan tinggi serat dan rendah makanan ultraproses membantu mendukung keberagaman ini.

Selain itu, konsumsi makanan fermentasi seperti yoghurt, kefir, dan kimci dapat memberikan probiotik alami yang mendukung populasi bakteri baik. Namun, efeknya paling optimal jika dikombinasikan dengan prebiotik dari serat.

3. Minum air yang cukup

Asupan air secara cukup penting dalam menjaga konsistensi tinja dan kelancaran pergerakan usus. Tanpa hidrasi yang cukup, serat tidak dapat bekerja optimal, dan risiko sembelit meningkat.

Kebutuhan cairan harian bervariasi, tetapi secara umum orang dewasa membutuhkan sekitar 2–3 liter per hari tergantung aktivitas dan kondisi tubuh.

Hidrasi yang baik juga membantu menjaga lapisan mukosa usus tetap sehat, yang berfungsi sebagai pelindung terhadap patogen dan zat berbahaya.

4. Aktif bergerak dan berolahraga

ilustrasi berolahraga di taman (pexels.com/hartono subagio)

Aktivitas fisik tidak hanya baik untuk jantung dan otot, tetapi juga untuk usus besar. Olahraga membantu merangsang peristaltik, yakni gerakan otot usus yang mendorong makanan melalui saluran pencernaan.

Studi menunjukkan bahwa individu yang aktif secara fisik memiliki risiko lebih rendah mengalami sembelit dan kanker kolorektal. Bahkan, aktivitas sederhana seperti berjalan kaki secara rutin dapat memberikan manfaat signifikan bagi kesehatan usus besar. Kuncinya adalah konsistensi, bukan intensitas ekstrem.

5. Membatasi konsumsi makanan olahan dan daging merah

Pola makan tinggi daging merah dan makanan olahan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal. Hal ini sebagian disebabkan oleh senyawa seperti nitrit dan produk sampingan pemasakan suhu tinggi.

Konsumsi berlebihan daging merah dan olahan dapat meningkatkan risiko kanker usus besar secara signifikan.

Mengganti sebagian asupan dengan protein nabati seperti kacang-kacangan atau ikan dapat membantu mengurangi risiko sekaligus meningkatkan asupan serat.

6. Mengelola stres dengan baik

ilustrasi journaling (pexels.com/Monstera Production)

Hubungan antara otak dan usus dikenal sebagai gut-brain axis. Stres kronis dapat memengaruhi fungsi usus, termasuk motilitas dan komposisi mikrobiota.

Penelitian menunjukkan bahwa stres dapat memicu peradangan dan memperburuk kondisi seperti sindrom iritasi usus besar.

Teknik manajemen stres seperti meditasi, tidur cukup, dan aktivitas relaksasi dapat membantu menjaga keseimbangan ini.

7. Rutin skrining

Kesehatan usus besar tidak hanya soal pencegahan, tetapi juga deteksi dini. Skrining seperti kolonoskopi dapat membantu menemukan polip atau tanda awal kanker sebelum berkembang lebih lanjut.

Para ahli merekomendasikan skrining rutin mulai usia tertentu atau lebih awal jika memiliki faktor risiko.

Deteksi dini terbukti secara signifikan meningkatkan tingkat keberhasilan pengobatan dan menurunkan angka kematian akibat kanker kolorektal.

Menjaga kesehatan usus besar adalah hasil dari kebiasaan sehari-hari yang konsisten. Dari asupan serat hingga manajemen stres, setiap langkah berkontribusi besar terhadap fungsi usus besar yang optimal.

Referensi

World Health Organization. "Healthy Diet." Diakses Maret 2026.

World Cancer Research Fund. "Diet, Nutrition, Physical Activity and Colorectal Cancer." Diakses Maret 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. "Colorectal Cancer Screening." Diakses Maret 2026.

Kassem Makki et al., “The Impact of Dietary Fiber on Gut Microbiota in Host Health and Disease,” Cell Host & Microbe 23, no. 6 (June 1, 2018): 705–15, https://doi.org/10.1016/j.chom.2018.05.012.

Peter J. Turnbaugh et al., “The Human Microbiome Project,” Nature 449, no. 7164 (October 17, 2007): 804–10, https://doi.org/10.1038/nature06244.

Frank W. Booth et al., “Reduced Physical Activity and Risk of Chronic Disease: The Biology Behind the Consequences,” European Journal of Applied Physiology 102, no. 4 (November 6, 2007): 381–90, https://doi.org/10.1007/s00421-007-0606-5.

Emeran A. Mayer, Karina Nance, and Shelley Chen, “The Gut–Brain Axis,” Annual Review of Medicine 73, no. 1 (October 20, 2021): 439–53, https://doi.org/10.1146/annurev-med-042320-014032.

National Academies of Sciences. "Dietary Reference Intakes for Water." Diakses Maret 2026.

Editorial Team