Jemaah haji mulai lempar jumrah Aqabah usai bermalam di Muzdalifah, Jumat (6/6/2025). (Media Center Haji 2025/Rochmanudin)
Bahan sintetis tertentu tidak memiliki sirkulasi udara yang baik. Akibatnya, keringat terjebak di permukaan kulit dan akhirnya terciptalah lingkungan ideal bagi bakteri.
Penelitian menunjukkan bahwa kain sintetis memiliki kemampuan menyerap dan melepaskan kelembapan yang lebih buruk dibanding serat alami, sehingga meningkatkan retensi bau.
Dalam konteks haji, penggunaan bahan seperti ini dapat mempercepat munculnya bau badan, terutama saat banyak beraktivitas di bawah sinar matahari.
Katun sering dianggap pilihan aman, tetapi tidak semua jenis katun ideal untuk kondisi ekstrem. Katun tebal menyerap keringat dengan baik, tetapi membutuhkan waktu lama untuk kering. Akibatnya, pakaian tetap lembap dalam waktu lama.
Studi menunjukkan bahwa pakaian yang tetap basah dapat meningkatkan ketidaknyamanan termal dan mendukung pertumbuhan mikroba. Untuk kondisi haji, katun tipis atau bahan dengan teknologi moisture-wicking (kain yang dirancang untuk menarik keringat dari kulit ke permukaan kain sehingga cepat menguap, membuat kulit terasa lebih kering dan nyaman saat beraktivitas) lebih disarankan dibanding katun tebal.
Pakaian ketat meningkatkan gesekan dan mengurangi sirkulasi udara. Ini menciptakan area “tertutup” yang lebih hangat dan lembap.
Area kulit yang lembap dan tertutup lebih rentan terhadap iritasi dan pertumbuhan bakteri. Selain bau, kondisi ini juga dapat memicu masalah kulit seperti ruam atau infeksi jamur.
Tidak semua produk deodoran bekerja dengan cara yang sama. Deodoran hanya menutupi bau, sementara antiperspiran mengurangi produksi keringat.
Penelitian menunjukkan bahwa kombinasi bahan antibakteri dan pengontrol keringat lebih efektif dalam mengurangi bau badan dibanding produk parfum saja.
Menggunakan produk yang hanya berfungsi sebagai pewangi tanpa mengontrol bakteri justru bisa memperburuk bau saat bercampur dengan keringat.