Lesi prakanker jarang menimbulkan gejala, sehingga skrining rutin tetap penting, termasuk pada orang yang sudah mendapat vaksin HPV.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan skrining kanker serviks dengan tes berkinerja tinggi setiap 5–10 tahun mulai usia 30 tahun, sementara perempuan dengan HIV perlu skrining lebih sering, yaitu setiap 3–5 tahun mulai usia 25 tahun.
Vaksin HPV juga berperan besar dalam pencegahan. HPV tipe 16 dan 18 menyebabkan sekitar 70 persen kanker serviks, sementara beberapa tipe HPV risiko tinggi lain menyumbang tambahan sekitar 10–20 persen kasus. Vaksin HPV membantu mencegah infeksi dari tipe-tipe HPV yang paling berisiko, tetapi orang yang sudah divaksinasi tetap perlu skrining sesuai rekomendasi.
Ciri-ciri keputihan yang perlu dicurigai terkait kanker serviks antara lain cair dan banyak, berbau menyengat, bercampur darah, muncul setelah hubungan seksual, muncul setelah menopause, atau disertai nyeri panggul dan nyeri saat berhubungan seksual.
Meski begitu, keputihan tidak normal lebih sering disebabkan oleh kondisi nonkanker, seperti infeksi atau perubahan hormon. Karena gejalanya bisa tumpang tindih, cara paling aman adalah menemui dokter. Kanker serviks jauh lebih mungkin ditangani dengan baik jika ditemukan lebih awal.
Referensi
National Cancer Institute. “Cervical Cancer Symptoms.” Diakses Juli 2026.
American Cancer Society. “Cervical Cancer Symptoms: Signs of Cervical Cancer.” Diakses Juli 2026.
World Health Organization. “Cervical Cancer.” Diakses Juli 2026.
Centers for Disease Control and Prevention. “Screening for Cervical Cancer.” Diakses Juli 2026.
Lim, Anita W. W., Lindsay J. L. Forbes, Adam N. Rosenthal, Kantipati S. Raju, and Amanda-Jane Ramirez. “Measuring the Nature and Duration of Symptoms of Cervical Cancer in Young Women: Developing an Interview-Based Approach.” BMC Women’s Health 13, article 45 (2013).
National Cancer Institute. “Human Papillomavirus (HPV) Vaccine.” Diakses Juli 2026.