ilustrasi kelelawar buah (pexels.com/Laura Meinhardt)
Melindungi diri dari penyakit zoonotik yang dibawa oleh kelelawar melibatkan pemahaman tentang cara virus bisa berpindah dari kelelawar ke manusia atau hewan lain:
Hindari kontak langsung dengan kelelawar atau bangkai hewan yang mungkin terinfeksi.
Tidak mengonsumsi satwa liar atau produk dari kelelawar, serta waspada terhadap buah yang mungkin terkontaminasi urine atau feses mereka.
Jaga kebersihan tangan dan lingkungan terutama jika tinggal dekat habitat kelelawar atau sering beraktivitas di area hutan.
Surveilans kesehatan hewan dan manusia oleh otoritas setempat penting untuk deteksi dini dan respons cepat terhadap wabah.
Pencegahan juga berarti menjaga habitat alami kelelawar tetap utuh dan meminimalkan perusakan lingkungan yang meningkatkan kontak antara manusia dan satwa liar. Karena, makin intens interaksi ini, makin tinggi risiko spillover virus.
Kelelawar adalah reservoir yang penting bagi berbagai virus zoonotik yang mampu menyebabkan penyakit pada manusia. Virus-virus seperti rabies, henipavirus, filovirus, dan coronavirus menunjukkan bahwa interaksi antara manusia dan kelelawar bisa berkonsekuensi serius jika tidak dikelola dengan baik.
Namun, penting juga diingat bahwa tidak semua kelelawar membawa virus berbahaya, dan mamalia ini memainkan peran ekologis yang besar. Upaya pencegahan harus seimbang antara konservasi satwa liar dan kesehatan masyarakat, ditopang oleh edukasi yang tepat serta praktik yang meminimalkan risiko spillover.
Referensi
Letko, M., et al. “Bat-borne Virus Diversity, Spillover and Emergence.” PLoS Pathogens, 2020. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7289071/.
Han, H. J. et al. “Bats as Reservoirs of Severe Emerging Infectious Diseases.” Emerging Infectious Diseases, 2015. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7132474/.
“Nipah Virus Fact Sheet.” World Health Organization. Diakses Februari 2026.
"Kelelawar dan Virus Zoonotik." Universitas Negeri Semarang. Diakses Februari 2026.