Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Virus Kelelawar Lain Ditemukan pada Pasien Suspek Virus Nipah

Kelelawar buah.
ilustrasi kelelawar buah (pexels.com/Laura Meinhardt)
Intinya sih...
  • Peneliti menemukan virus Pteropine orthoreovirus (PRV) pada lima pasien dengan gejala mirip infeksi virus Nipah yang sebelumnya hasil tes Nipah-nya negatif.
  • Semua pasien memiliki riwayat konsumsi nira kurma mentah, jalur penularan yang juga dikenal sebagai sumber spillover virus dari kelelawar.
  • PRV berpotensi berevolusi melalui reassortment genetik, yang dapat meningkatkan risiko penularan dan keparahan penyakit pada manusia.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di Bangladesh, setiap kasus ensefalitis akut dan gangguan pernapasan berat selalu memicu kewaspadaan terhadap virus Nipah, patogen zoonotik mematikan yang menjadi ancaman kesehatan publik. Namun, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa tidak semua kasus mirip infeksi virus Nipah benar-benar disebabkan oleh virus Nipah.

Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases milik Centers for Disease Control and Prevention (CDC), para peneliti menganalisis swab tenggorokan dan kultur virus dari lima pasien yang dirawat antara Desember 2022 hingga Maret 2023. Awalnya, kelimanya diduga terinfeksi Nipah karena gejalanya khas, seperti demam, gangguan kesadaran, gangguan berjalan, dan kesulitan bernapas.

Hasil tes PCR dan serologi untuk virus Nipah ternyata negatif. Namun, saat dilakukan sekuens genetik beresolusi tinggi, parapeneliti menemukan patogen lain, yaitu Pteropine orthoreovirus (PRV), virus yang juga berasal dari kelelawar dan sebelumnya jarang terdeteksi pada manusia.

Pteropine orthoreovirus dan jalur penularannya

PRV termasuk keluarga Reoviridae, kelompok virus RNA bersegmen yang dikenal mampu menginfeksi berbagai spesies. Beberapa kerabat dekatnya, seperti Nelson Bay virus, telah dikonfirmasi bersifat zoonotik sejak kasus manusia pertama di Malaysia pada tahun 2006.

Dalam studi ini, virus PRV bahkan berhasil dikultur hidup dari sampel tiga pasien, memperkuat bukti bahwa virus tersebut benar-benar menginfeksi, bukan sekadar kontaminan laboratorium.

Secara klinis, para pasien menunjukkan spektrum penyakit yang luas: dari pemulihan penuh hingga kelelahan neurologis berkepanjangan, bahkan satu pasien meninggal dunia hampir dua tahun kemudian akibat gangguan saraf yang tidak dapat dijelaskan.

Benang merah yang menghubungkan kelima kasus ini adalah konsumsi nira kurma mentah (raw date-palm sap), minuman tradisional yang juga menjadi sumber makanan kelelawar buah. Jalur ini sudah lama dikenal sebagai rute utama penularan virus Nipah, dan temuan ini menegaskan bahwa risikonya tidak berhenti pada satu virus saja.

Ancaman evolusi virus dan implikasinya

Kelelawar buah.
ilustrasi kelelawar buah (unsplash.com/Karl Callwood)

Analisis genetik menunjukkan bahwa PRV yang ditemukan punya kemiripan genetik tinggi (91–100 persen), tetapi setiap segmen RNA-nya berkerabat dengan virus dari wilayah berbeda di Asia Tenggara. Ini mengindikasikan reassortment, proses pertukaran segmen genetik yang umum pada virus RNA bersegmen.

Reassortment bukan cuma fenomena biologis. Pada virus seperti influenza, mekanisme ini dikenal dapat mengubah daya tular dan tingkat keganasan. Para peneliti memperingatkan bahwa PRV memiliki potensi serupa, terutama mengingat jangkauan terbang kelelawar buah yang luas dan lintas negara.

Karena gejala PRV dapat meniru Nipah, peneliti merekomendasikan agar tenaga kesehatan di wilayah endemis memasukkan PRV dalam diagnosis banding untuk pasien dengan ensefalitis, gangguan pernapasan, atau demam tak jelas sebabnya, terutama jika ada riwayat konsumsi nira kurma mentah. Surveilans molekuler dinilai krusial untuk mendeteksi ancaman sebelum meluas.

Inti temuan studi ini adalah, virus zoonotik tidak datang satu per satu. Di ekosistem yang sama, beberapa patogen bisa beredar secara diam-diam, memanfaatkan jalur penularan yang serupa, dan menimbulkan penyakit yang sulit dibedakan secara klinis. Deteksi dini, surveilans genetik, dan pendekatan lintas patogen adalah kunci menghadapi ancaman zoonosis masa depan.

Referensi

Mishra, Nischay, et al. “Detection of Pteropine Orthoreovirus in Patients with Suspected Nipah Virus Infection, Bangladesh.” Emerging Infectious Diseases 31, no. 12 (2025). https://wwwnc.cdc.gov/eid/article/31/12/25-0797_article.

Sharmin Sultana et al., “Bat Reovirus as Cause of Acute Respiratory Disease and Encephalitis in Humans, Bangladesh, 2022–2023,” Emerging Infectious Diseases 31, no. 12 (December 1, 2025): 2302–7, https://doi.org/10.3201/eid3112.250797.

"Emerging bat virus found in stored throat swabs from 5 patients with suspected Nipah virus infection." CIDRAP. Diakses Februari 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

7 Efek Samping Obat Darah Tinggi atau Hipertensi

03 Feb 2026, 15:41 WIBHealth
Ilustrasi barre exercise.

Apa Itu Barre Exercise?

03 Feb 2026, 05:05 WIBHealth