Selama ini, darah menstruasi lebih sering dipandang sebagai limbah biologis—sesuatu yang harus dibuang, ditutup, atau disembunyikan. Namun, studi observasional terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal The BMJ menunjukkan bahwa darah menstruasi ini menyimpan potensi besar sebagai alat skrining human papillomavirus (HPV), virus penyebab sekitar 90 persen kasus kanker serviks di dunia.
Dalam studi ini, peneliti di China menguji apakah darah menstruasi dapat digunakan untuk mendeteksi HPV dengan akurasi yang sebanding dengan metode konvensional. Lebih dari 3.000 perempuan berusia 20–54 tahun dengan siklus menstruasi teratur diminta mengumpulkan darah menstruasi menggunakan mini pad khusus, yaitu berupa strip kapas steril yang ditempelkan pada pembalut biasa. Pada waktu yang sama, mereka juga menjalani skrining serviks standar yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Hasilnya cukup mencolok. Tes HPV dari darah menstruasi mendeteksi 92–95 persen lesi prakanker, angka yang sebanding dengan metode skrining serviks konvensional. Selain itu, kemampuan metode ini untuk mengidentifikasi sampel tanpa prakanker juga serupa, dengan tingkat akurasi sekitar 89–90 persen. Dari sudut pandang epidemiologi, ini menunjukkan darah menstruasi bukan sekadar alternatif, tetapi kandidat serius untuk skrining berbasis populasi.
Para peneliti menekankan bahwa metode ini bersifat noninvasif, tidak memerlukan spekulum atau pengambilan sampel dari serviks, dan secara potensial lebih dapat diterima oleh banyak perempuan. Mereka menyebut pendekatan ini dapat meningkatkan acceptability dan feasibility untuk skrining skala besar, yang mana itu merupakan dua faktor yang sering menjadi penghambat utama dalam program pencegahan kanker serviks.
