- Pes bubonik, yang biasanya menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening.
- Pes septikemik, yang menyerang aliran darah.
- Pneumonik, yang menyerang paru-paru.
Dugaan Wabah Pes Pneumonik di Rusia, Ini 6 Hal yang Perlu Diketahui

Kematian pekerja laboratorium di Rusia belum dikonfirmasi sebagai akibat pes pneumonik. WHO masih meminta informasi tentang pemeriksaan dan penyebabnya.
Pes pneumonik adalah infeksi bakteri yang menyerang paru-paru. Penyakit ini dapat menular melalui percikan pernapasan dari pasien bergejala, terutama saat terjadi kontak dekat.
Penyakit ini dapat berkembang cepat, tetapi antibiotik efektif jika diberikan segera. Pes pneumonik yang tidak ditangani bisa berakibat fatal.
Seorang pekerja di Irkutsk, Siberia, meninggal setelah dirawat karena pneumonia berat pada 2 Oktober 2026. Kabar bahwa kematiannya mungkin terkait pes pneumonik (pneumonic plague) ramai dibicarakan karena ia bekerja di sebuah lembaga penelitian pes.
Namun, penyebab kematiannya belum dikonfirmasi sebagai pes. Dalam keterangan pada 7 Oktober, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan belum memiliki gambaran lengkap dan meminta informasi lebih lanjut mengenai tes laboratorium serta laporan tentang seorang pekerja lain yang mengalami pneumonia. Otoritas Rusia menyampaikan kepada WHO bahwa tidak ada kasus pes yang baru-baru ini dilaporkan di wilayah Irkutsk dan sekitar 200 orang yang pernah berkontak dengan pekerja tersebut dikarantina.
Pada 8 Oktober, Rusia menyatakan pemantauan terhadap para kontak telah selesai dan hampir 5.000 sampel tidak menemukan patogen berbahaya. Namun, penyebab pneumonia yang dialami pekerja itu masih belum dijelaskan secara pasti. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) sebelumnya menyatakan tidak ada laporan kasus sekunder atau bukti penularan antarmanusia yang berkelanjutan.
Berikut fakta medis yang diketahui tentang penyakit ini.
Table of Content
1. Pes pneumonik adalah infeksi bakteri yang menyerang paru-paru
Pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis, yang umumnya hidup pada mamalia kecil dan kutu yang menginfeksi hewan tersebut. Penyakit ini memiliki tiga bentuk utama:
Pes pneumonik dapat terjadi ketika infeksi pes dari bagian tubuh lain menyebar ke paru-paru. Penyakit ini juga dapat muncul setelah seseorang menghirup percikan pernapasan yang mengandung bakteri dari pasien atau hewan yang mengalami pes pneumonik.
2. Penularan antarmanusia biasanya memerlukan kontak dekat
Pes bubonik umumnya berkaitan dengan gigitan kutu yang terinfeksi.
Pes pneumonik berbeda karena dapat menular antarmanusia melalui percikan pernapasan yang keluar ketika pasien batuk. Penularan biasanya membutuhkan kontak dekat dan cukup lama dengan orang yang sudah bergejala.
Ini tidak berarti setiap orang yang berada di ruangan yang sama otomatis tertular. Petugas kesehatan akan menilai jenis dan lama kontak, memeriksa orang yang berisiko, serta menentukan langkah seperti pemantauan atau pemberian antibiotik pencegahan. Pasien pes pneumonik perlu diisolasi untuk mengurangi risiko penularan.
3. Gejala dapat memburuk dengan cepat

ilustrasi pasien dirawat di rumah sakit akibat pes pneumonik (magnific.com/freepik) Gejala pes pneumonik dapat mencakup demam, sakit kepala, tubuh lemah, nyeri dada, sesak napas, dan batuk. Dahak terkadang bercampur darah. Setelah terpapar, gejala dapat muncul dalam waktu singkat, bahkan sekitar satu hari.
Bakteri Y. pestis dapat menekan respons pertahanan alami paru-paru pada tahap awal infeksi. Setelah itu, respons peradangan dapat muncul dengan cepat.
4. Dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani
Pes pneumonik yang tidak diobati dapat berakibat fatal dalam 18–24 jam setelah gejala muncul. Namun, antibiotik dan perawatan suportif bisa efektif jika pasien didiagnosis dan ditangani segera.
Karena penyakit ini berkembang cepat, tenaga kesehatan dapat memulai pengobatan ketika pes dicurigai tanpa menunggu hasil tes konfirmasi. Keputusan tersebut didasarkan pada gejala, riwayat paparan, dan pemeriksaan klinis.
5. Dugaan kasus di Rusia belum membuktikan terjadinya wabah
Pada pembaruan 7 Oktober, WHO menyatakan informasi yang tersedia belum cukup untuk membuat penilaian risiko secara menyeluruh. Otoritas Rusia melaporkan tidak ada kasus pes baru-baru ini di wilayah Irkutsk, sementara ECDC menyebut belum ada laporan kasus sekunder atau penularan berkelanjutan.
Pada 8 Oktober, Rusia juga menyatakan pemantauan kontak telah selesai dan sampel yang diperiksa tidak menunjukkan patogen berbahaya.
Informasi tersebut belum menjelaskan penyebab pasti pneumonia pada pekerja yang meninggal. Namun, sampai pembaruan yang tersedia pada 8 Oktober, kabar itu belum menjadi konfirmasi wabah pes pneumonik.
6. Pes masih ditemukan di beberapa wilayah, tetapi pengobatan tersedia

ilustrasi bakteri Yersinia pestis (wikimedia.org/Ras67) Pes masih ditemukan di sejumlah wilayah, dan WHO mencatat sebagian besar kasus yang dilaporkan pada 2019–2025 berasal dari Republik Demokratik Kongo dan Madagaskar.
Penularannya berkaitan dengan bakteri pada hewan dan kutu. Risiko bagi manusia bergantung pada keberadaan sumber infeksi dan paparan.
Seseorang yang mengalami demam disertai batuk dan sesak setelah kontak dekat dengan pasien pes yang terkonfirmasi atau paparan di wilayah dengan penularan perlu segera mencari pertolongan medis dan memberi tahu tenaga kesehatan tentang riwayat paparannya. Diagnosis memerlukan pemeriksaan laboratorium, sementara penanganan dini sangat penting.
Referensi
World Health Organization, “WHO Director-General’s Opening Remarks at the Media Briefing – 7 October 2026,” 7 Oktober 2026.
Reuters, “Russia Says Checks Following Siberian Plague Lab Death Are Complete,” 8 Oktober 2026.
European Centre for Disease Prevention and Control, “ECDC Closely Monitoring Situation Following Case of Pneumonia of Unknown Origin in Russia,” 6 Oktober 2026.
World Health Organization, “Plague,” diakses 10 Oktober 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Signs and Symptoms of Plague,” diakses 10 Oktober 2026.
Gopinath Venugopal and Roger D. Pechous, “Yersinia pestis and Pneumonic Plague: Insight into How a Lethal Pathogen Interfaces with Innate Immune Populations in the Lung to Cause Severe Disease,” Cellular Immunology 403–404 (2024): 104856, https://doi.org/10.1016/j.cellimm.2024.104856.
Centers for Disease Control and Prevention, “Clinical Care of Plague,” diakses 10 Oktober 2026.
























