Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pes, Penyakit Kuno, Masih Terdeteksi di 6 Negara

3 min read
Pes, Penyakit Kuno, Masih Terdeteksi di 6 Negara
Mikrofoto elektron pemindaian yang menggambarkan massa bakteri Yersinia pestis (penyebab penyakit pes). (commons.wikimedia.org/Rocky Mountain Laboratories, NIAID, NIH)
  • WHO mencatat 2.646 kasus pes terkonfirmasi di enam negara selama periode 2019–2025.

  • Republik Demokratik Kongo dan Madagaskar menyumbang 97,7 persen dari kasus terkonfirmasi yang dilaporkan.

  • Indonesia tercatat melaporkan nol kasus pada tahun-tahun yang datanya diserahkan kepada WHO.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Nama pes lekat dengan wabah besar dalam sejarah. Namun, bakteri penyebabnya, Yersinia pestis, masih bersirkulasi di antara hewan dan kutu, dan sesekali menginfeksi manusia.

Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang terbit pada 25 September 2026 merangkum kasus pes manusia selama 2019–2025.

  1. 1. Enam negara melaporkan kasus terkonfirmasi

    Selama tahun 2019–2025, kasus pes terkonfirmasi dilaporkan di enam negara:

    • Republik Demokratik Kongo (RDK)
    • Kenya
    • Madagaskar
    • Uganda
    • China
    • Mongolia

    WHO mencatat total 2.646 kasus terkonfirmasi di negara-negara tersebut.

    Empat negara berada di wilayah Afrika menurut pembagian WHO, sementara China dan Mongolia berada di Wilayah Pasifik Barat.

    Secara keseluruhan, sepuluh negara melaporkan kasus yang dicurigai atau terkonfirmasi. Empat negara lainnya—Brasil, Ekuador, Qatar, dan Arab Saudi—melaporkan 13 kasus suspek tanpa kasus terkonfirmasi.

  2. 2. Sebagian besar kasus terkonsentrasi di Kongo dan Madagaskar

    RDK melaporkan 1.893 kasus terkonfirmasi, sedangkan Madagaskar melaporkan 693. Jika digabung, keduanya mencakup 97,7 persen dari seluruh kasus yang dilaporkan sebagai terkonfirmasi selama periode tersebut.

    Ada catatan penting pada angka RDK: jumlah kasus suspek dan terkonfirmasi yang dilaporkan sama setiap tahun. WHO mengingatkan bahwa kesamaan angka tersebut tidak berarti setiap kasus suspek telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium. Angka-angka lintas negara perlu dibaca dengan memperhatikan perbedaan pelaporan dan klasifikasi kasus.

  3. 3. Di empat negara lain, laporan kasusnya lebih sedikit

    Data WHO merangkum kasus pes pada manusia yang dilaporkan menurut negara selama periode 2019 hingga 2025.
    Kasus pes pada manusia yang dilaporkan ke WHO, menurut negara, tahun 2019 hingga 2025. (WHO/Weekly epidemiological record No. 38, 2026, 101, 221)

    Kenya melaporkan 22 kasus terkonfirmasi, China 19, Mongolia 17, dan Uganda dua kasus sepanjang 2019–2025.

    WHO menyebut kasus terkonfirmasi di negara-negara ini dilaporkan secara berkala, sementara kasus di RDK dan Madagaskar tercatat lebih konsisten.

  4. 4. Pes terutama berawal dari hewan dan kutu

    Pes adalah penyakit zoonosis, yaitu infeksi yang dapat berpindah dari hewan ke manusia. Penularan paling umum terjadi melalui gigitan kutu yang terinfeksi. Seseorang juga dapat terpapar melalui kontak langsung dengan hewan yang sakit atau jaringan tubuhnya.

    Penyakit ini memiliki beberapa bentuk:

    • Pes bubonik, bentuk yang paling sering ditemukan, menyerang kelenjar getah bening dan dapat menimbulkan benjolan yang nyeri.
    • Pes septikemik menyerang aliran darah, sedangkan pes pneumonik menyerang paru-paru.

    Bentuk pneumonik dapat menular antarmanusia melalui partikel pernapasan saat terjadi kontak dekat dengan orang yang terinfeksi. Penularan antarmanusia bukan jalur umum untuk semua bentuk pes.

  5. 5. Memahami angka kematian pes dalam laporan WHO

    WHO mencatat 423 kematian dan 3.847 kasus suspek pes di enam negara, sehingga diperoleh angka fatalitas kasus sekitar 11 persen. Namun, laporan tersebut tidak membedakan kematian pada kasus yang sudah terkonfirmasi dan yang masih suspek.

    WHO juga menjelaskan bahwa data ini berasal dari laporan negara-negara yang berpartisipasi, sehingga tidak mencerminkan seluruh kasus pes di dunia.

    Selain itu, perbedaan cara menemukan, menguji, dan menggolongkan kasus dapat memengaruhi perbandingan data antarnegara.

  6. 6. Indonesia melaporkan nol kasus pada periode tertentu

    Indonesia termasuk negara yang melaporkan tidak ada kasus pes manusia pada periode pelaporan tertentu. Namun, ini berarti tidak ada kasus yang dilaporkan untuk periode pelaporan tersebut. WHO mengingatkan bahwa tidak adanya laporan tidak selalu berarti nol kasus.

    Pes tetap perlu diwaspadai, terutama di daerah yang memiliki hewan atau kutu pembawa bakteri penyebab penyakit ini. Diagnosis dini dan pengobatan antibiotik yang tepat dapat menyelamatkan nyawa.

    Segera temui dokter jika mengalami demam disertai pembengkakan kelenjar getah bening yang nyeri atau gangguan napas setelah kontak yang berisiko, terutama jika tinggal atau baru bepergian ke daerah endemik.

    Referensi

    World Health Organization, “Human Plague, 2019 to 2025,” Weekly Epidemiological Record 101, no. 38 (September 25, 2026): 244–251, https://www.who.int/publications/journals/weekly-epidemiological-record/wer101-38.

    World Health Organization, “Plague,” diakses Oktober 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Diagnosing Plague,” diakses Oktober 2026.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More