Comscore Tracker

Kenali Gangguan Kepribadian Skizotipal, Sering Dianggap Eksentrik

Mungkin menunjukkan pola pikir dan perilaku yang tidak biasa

Gangguan kepribadian skizotipal atau schizotypal personality disorder adalah gangguan kepribadian yang secara informal dikenal sebagai "eksentrik". Orang-orang dengan gangguan kepribadian ini sering kali terlihat aneh di mata orang lain. Mereka mungkin menunjukkan pola pikir dan perilaku yang tidak biasa.

Mereka juga bisa tampak sebagai individu yang kaku dan mudah curiga ataupun paranoid terhadap orang lain, sehingga cenderung mendorong orang menjauh dan menciptakan lebih banyak isolasi diri.

Orang-orang dengan gangguan kepribadian skizotipal sulit untuk membangun hubungan sosial maupun hubungan dekat. Mereka mengalami ketidaknyamanan yang luar biasa ketika berinteraksi sosial, meskipun dilakukan dengan orang yang sama dan dari lingkungan yang sama.

Apa saja ciri atau tanda dari gangguan kepribadian skizotipal yang perlu diketahui? Simak faktanya di bawah ini, ya!

1. Seseorang dengan gangguan kepribadian skizotipal tampak aneh di mata orang lain, baik dari perilaku, penampilan, maupun cara bicaranya

Kenali Gangguan Kepribadian Skizotipal, Sering Dianggap Eksentrikilustrasi seseorang duduk sendiri (pexels.com/John Diez)

Gangguan kepribadian skizotipal dapat terbentuk saat masa kanak-kanak, remaja, maupun dewasa. Menurut panduan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM-5), gejala harus dimulai pada awal masa dewasa dengan setidaknya mengalami lima dari gejala berikut:

  • Kesulitan membangun hubungan sosial. Mereka cenderung kaku dan canggung saat berhubungan dengan orang lain
  • Emosi datar atau respons emosional terbatas atau tidak pantas
  • Kecemasan sosial yang terus-menerus dan berlebihan
  • Penafsiran yang salah tentang peristiwa, misalnya suatu peristiwa yang sebenarnya tidak berbahaya atau menyinggung, justru memiliki makna pribadi langsung
  • Pemikiran, kepercayaan, atau tingkah laku yang aneh, eksentrik, atau tidak biasa
  • Pikiran mudah mencurigai, paranoid, dan keraguan terus-menerus pada orang lain
  • Percaya pada kekuatan khusus, seperti takhayul
  • Persepsi yang tidak biasa, seperti merasakan kehadiran orang yang tidak hadir atau memiliki ilusi
  • Berpakaian yang aneh, terkadang bisa sangat rapi atau mengenakan kombinasi pakaian yang tidak pas yang cenderung aneh. Tetapi tidak semua orang berpakaian eksentrik mengalami gangguan ini
  • Gaya bicara yang aneh, seperti pola bicara yang tidak jelas atau bertele-tele secara aneh selama percakapan

Sementara pada masa kanak-kanak, gejala yang terlihat mungkin termasuk:

  • Hubungan pertemanan dengan teman sebaya yang buruk
  • Kecemasan sosial atau cenderung melakukan isolasi sosial
  • Kurang berprestasi di sekolah
  • Hipersensitivitas
  • Pikiran dan bahasa yang aneh
  • Fantasi yang aneh

2. Orang dengan gangguan skizotipal bisa berisiko mengalami depresi hingga punya pikiran untuk bunuh diri

Kenali Gangguan Kepribadian Skizotipal, Sering Dianggap Eksentrikilustrasi depresi (pexels.com/Polina Zimmerman)

Selain gejala yang telah disebutkan sebelumnya, seseorang yang mengalami gangguan kepribadian skizotipal juga memiliki risiko untuk mengalami beberapa gangguan mental lain. Contohnya adalah depresi, kecemasan, skizofrenia, episode psikotik sementara yang muncul sebagai respons stres yang dialaminya, masalah dengan alkohol atau obat-obatan, masalah sosial, maupun percobaan bunuh diri.

Baca Juga: Nyata dan Harus Diwaspadai, 24 Penyebab Umum Gangguan Mental

3. Penyebab seseorang mengalami gangguan kepribadian skizotipal masih belum diketahui

Kenali Gangguan Kepribadian Skizotipal, Sering Dianggap Eksentrikilustrasi pria duduk sendiri mengenakan topeng (pexels.com/Abdulrahman Abu Shaer)

Sama seperti gangguan kepribadian lainnya, penyebab gangguan kepribadian skizotipal tidak diketahui secara pasti. Namun, beberapa faktor seperti genetik, perilaku, respons otak terhadap suatu peristiwa, dan lingkungan sering kali dikaitkan dalam pembentukan kepribadian seseorang, termasuk kepribadian skizotipal.

4. Psikiater atau psikolog dapat membantu mendiagnosis gangguan kepribadian skizotipal

Kenali Gangguan Kepribadian Skizotipal, Sering Dianggap Eksentrikilustrasi diagnosis pasien (pexels.com/SHVETS production)

Sering kali, orang yang mengalami gangguan kepribadian tidak menyadari bahwa mereka memiliki masalah. Mereka biasanya mulai mencari bantuan karena desakan orang terdekatnya atau karena adanya masalah lain yang dialaminya, seperti depresi, kecemasan, atau penyalahgunaan obat.

Ahli kesehatan mental seperti psikiater atau psikolog biasanya berperan dalam membantu diagnosis gangguan ini. Untuk menegakkan diagnosis, mereka mungkin akan memerlukan beberapa pemeriksaan, seperti:

  • Pemeriksaan fisik untuk menyingkirkan adanya kondisi medis lain yang memiliki ciri serupa, misalnya gangguan bipolar, skizofrenia, gangguan psikotik, dan lain-lain
  • Wawancara menyeluruh tentang gejala pasien
  • Riwayat pribadi dan medis pasien
  • Pemeriksaan gejala yang tercantum dalam DSM-5

5. Perawatan psikoterapi dan obat-obatan biasanya membantu mengatasi gangguan skizotipal 

Kenali Gangguan Kepribadian Skizotipal, Sering Dianggap Eksentrikilustrasi psikoterapi (pexels.com/Anthony Shkraba)

Perawatan gangguan kepribadian skizotipal biasanya menggunakan kombinasi antara psikoterapi dengan obat-obatan untuk meringankan gejala tertentu.

Psikoterapi dapat membantu pasien membangun kepercayaan diri dan belajar keterampilan membangun hubungan dengan orang lain. Psikoterapi dapat meliputi:

  • Terapi perilaku-kognitif: untuk mengatasi pola pikir menyimpang dan mempelajari keterampilan sosial
  • Terapi suportif: membantu mengembangkan keterampilan adaptif
  • Terapi keluarga: terapi yang melibatkan keluarga untuk meningkatkan komunikasi, kepercayaan, dan saling mendukung dalam keluarga

Nah, itulah beberapa fakta menarik tentang gangguan kepribadian skizotipal. Bila kamu atau orang di sekitarmu memiliki ciri atau gejala dari gangguan ini, sebaiknya konsultasikan ke ahli kesehatan mental untuk pemahaman yang lebih baik dan mendapat penanganan tepat.

Baca Juga: 7 Fakta Hoarding Disorder, Gangguan Suka Menimbun Barang Berlebihan

Dwi wahyu intani Photo Verified Writer Dwi wahyu intani

@intanio99

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya