Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Efek Samping Minum Jus Seledri secara Berlebihan
ilustrasi jus seledri (pixabay.com/Mirandi)
  • Jus seledri memang kaya akan nutrisi, tetapi konsumsi berlebihan bisa memicu efek samping serius.

  • Risiko meliputi gangguan ginjal, tekanan darah, hingga sensitivitas kulit terhadap matahari.

  • Batas aman umumnya sekitar 1 gelas (240–350 ml) per hari, tergantung kondisi individu.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang menganggap jus seledri sebagai minuman detoks yang bisa membersihkan tubuh, meningkatkan energi, bahkan memperbaiki kulit. Kandungan antioksidan, vitamin, dan mineralnya memang menjanjikan.

Namun, seperti banyak hal dalam kesehatan, lebih banyak tidak selalu lebih baik. Konsumsi berlebihan justru bisa membawa dampak yang tidak diharapkan, bahkan pada sesuatu yang terlihat alami dan sehat sekalipun.

Berapa banyak yang dianggap berlebihan?

Tidak ada angka tunggal yang berlaku untuk semua orang, tetapi secara umum:

  • 1 gelas (240–350 ml) per hari masih dianggap aman untuk kebanyakan orang.

  • Lebih dari 500–700 ml per hari secara rutin mulai masuk kategori berlebihan.

Seledri mengandung senyawa aktif seperti psoralen, natrium alami, dan oksalat yang dalam jumlah besar dapat menimbulkan efek tertentu pada tubuh.

Konsumsi berlebihan sayuran tinggi oksalat dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik tertentu.

Kalau termasuk orang yang rutin mengonsumsi jus seledri, ketahui apa saja potensi efek samping dari minum jus seledri secara berlebihan.

1. Gangguan ginjal (akibat oksalat)

ilustrasi batu ginjal (IDN Times/Aditya Pratama)

Seledri mengandung oksalat, senyawa alami yang dapat mengikat kalsium dan membentuk kristal dalam ginjal.

Dalam jumlah kecil, oksalat tidak berbahaya. Namun, jika dikonsumsi berlebihan, terutama dalam bentuk jus (yang terkonsentrasi), kadar oksalat dalam tubuh bisa meningkat signifikan.

Penumpukan oksalat ini dapat:

  • Meningkatkan risiko batu ginjal.

  • Memicu gangguan fungsi ginjal.

  • Memperberat kondisi pada individu dengan riwayat penyakit ginjal.

Studi menunjukkan, diet tinggi oksalat berkaitan dengan peningkatan risiko pembentukan batu ginjal, terutama pada individu yang sensitif.

2. Tekanan darah tidak stabil (terlalu rendah)

Seledri dikenal memiliki efek menurunkan tekanan darah, berkat kandungan phthalides dan kalium.

Efek ini bermanfaat bagi penderita hipertensi. Namun, jika dikonsumsi berlebihan, terutama dalam bentuk jus pekat, tekanan darah bisa turun terlalu rendah (hipotensi).

Gejalanya meliputi pusing, lemas, dan penglihatan kabur.

Penurunan tekanan darah yang berlebihan dapat mengganggu aliran darah ke organ vital.

3. Ketidakseimbangan elektrolit

ilustrasi jus seledri (freepik.com/Racool_studio)

Jus seledri mengandung natrium alami dalam jumlah cukup tinggi dibandingkan sayuran lain.

Jika dikonsumsi dalam jumlah besar, terutama tanpa variasi makanan lain, ini dapat menyebabkan:

  • Ketidakseimbangan natrium.

  • Gangguan cairan tubuh.

  • Beban tambahan pada ginjal.

Keseimbangan elektrolit sangat penting untuk fungsi saraf, otot, dan jantung. Ketidakseimbangan, bahkan yang ringan sekalipun, dapat memicu gejala yang mengganggu.

4. Sensitivitas kulit terhadap matahari (fotosensitivitas)

Seledri mengandung psoralen, senyawa yang dapat meningkatkan sensitivitas kulit terhadap sinar ultraviolet (UV).

Dalam jumlah kecil, efek ini tidak signifikan. Namun, konsumsi berlebihan dapat membuat kulit lebih rentan terhadap:

  • Sunburn (kulit terbakar matahari).

  • Iritasi.

  • Reaksi kulit lainnya.

Studi menunjukkan, paparan psoralen dalam jumlah tinggi dapat meningkatkan risiko fotosensitivitas, terutama jika disertai paparan sinar matahari langsung.

5. Gangguan pencernaan

Jus seledri dalam jumlah besar dapat mengganggu pencernaan. Efek yang mungkin muncul antara lain perut kembung, diare, dan ketidaknyamanan perut.

Hal ini terjadi karena:

  • Kandungan serat (meskipun lebih rendah dalam jus, tetap ada).

  • Senyawa aktif yang merangsang sistem pencernaan.

Perubahan drastis dalam pola makan, termasuk konsumsi jus tertentu dalam jumlah besar, dapat mengganggu keseimbangan sistem pencernaan.

6. Risiko interaksi obat

ilustrasi jus seledri (unsplash.com/Alex Lvrs)

Seledri memiliki efek farmakologis ringan, termasuk:

  • Diuretik (meningkatkan produksi urine).

  • Penurun tekanan darah.

Dalam jumlah besar, efek ini dapat berinteraksi dengan obat, seperti:

  • Obat antihipertensi.

  • Diuretik.

  • Obat pengencer darah.

Menurut penelitian, beberapa senyawa dalam seledri dapat memperkuat atau mengubah efek obat tertentu, yang berpotensi menimbulkan risiko jika tidak diawasi.

7. Reaksi alergi

Meskipun jarang, alergi terhadap seledri bisa terjadi. Gejalanya bisa meliputi:

  • Gatal.

  • Pembengkakan.

  • Reaksi anafilaksis (pada kasus berat).

Konsumsi dalam jumlah besar dapat meningkatkan risiko munculnya reaksi, terutama pada individu yang sensitif.

Alergi seledri termasuk salah satu alergi makanan yang perlu diwaspadai di beberapa populasi.

Jus seledri memang menawarkan manfaat kesehatan, tetapi bukan tanpa batas. Jumlah konsumsi yang wajar bisa menjadi bagian dari pola makan sehat. Namun jika dikonsumsi berlebihan, kamu bisa mengalami efek samping di atas. Menjadikan jus seledri sebagai pelengkap pola makan seimbang adalah langkah bijak untuk mendapatkan manfaat tanpa risiko.

Referensi

U.S. Department of Agriculture. “FoodData Central: Celery.” Diakses Maret 2026.

American Heart Association. “Low Blood Pressure.” Diakses Maret 2026.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. “Digestive Diseases.” Diakses Maret 2026.

Sc Noonan Bsc and Gp Savage PhD Nz Reg NutR, “Oxalate Content of Foods and Its Effect on Humans,” Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition 8, no. 1 (March 1, 1999): 64–74, https://doi.org/10.1046/j.1440-6047.1999.00038.x.

Eric N. Taylor, Meir J. Stampfer, and Gary C. Curhan, “Dietary Factors and the Risk of Incident Kidney Stones in Men,” Journal of the American Society of Nephrology 15, no. 12 (December 1, 2004): 3225–32, https://doi.org/10.1097/01.asn.0000146012.44570.20.

Flemming, Kelly D., Sara E. Hocker, and Ali Daneshmand, 'Electrolyte Disturbances and Acid-Base Imbalance', in Kelly D. Flemming (ed.), Mayo Clinic Neurology Board Review, 2 edn (New York, 2021; online edn, Oxford Academic, 1 Nov. 2021), https://doi.org/10.1093/med/9780197512166.003.0124, accessed 27 Mar. 2026.

Madhu A. Pathak and Prakash C. Joshi, “The Nature and Molecular Basis of Cutaneous Photosensitivity Reactions to Psoralens and Coal Tar,” Journal of Investigative Dermatology 80, no. 1 (June 1, 1983): S66–74, https://doi.org/10.1038/jid.1983.18.

EMA/EAACI. “Food Allergy Guidelines.” Diakses Maret 2026.

Elizabeth M Williamson, “Drug Interactions Between Herbal and Prescription Medicines,” Drug Safety 26, no. 15 (January 1, 2003): 1075–92, https://doi.org/10.2165/00002018-200326150-00002.

Editorial Team