Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi obat-obatan dalam kemasan.
ilustrasi obat-obatan (unsplash.com/Melany @ tuinfosalud.com)

Intinya sih...

  • Efek samping obat epilepsi yang paling umum antara lain mudah lelah, gangguan tidur, dan keluhan pencernaan.

  • Ada juga efek samping pada dampak kognitif dan psikologis, termasuk sulit berkonsentrasi, perasaan sedih berkepanjangan, dan risiko pikiran untuk menyakiti diri sendiri.

  • Ada juga perubahan fisik dan dampak jangka panjang, seperti rambut rontok, sensitivitas terhadap cahaya atau suara, serta risiko osteoporosis pada penggunaan obat jangka panjang.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Obat epilepsi atau yang dikenal sebagai anti-seizure medications (ASM) adalah andalan dalam mengontrol kejang. Bagi banyak orang dengan epilepsi, obat ini membantu mereka menjalani hidup yang lebih stabil, produktif, dan minim risiko kambuh. Bahkan, sekitar 70–80 persen pasien bisa mencapai kontrol kejang yang baik dengan terapi yang tepat.

Namun, seperti obat pada umumnya, obat epilepsi juga memiliki efek samping. Efek ini bisa ringan dan sementara, tetapi pada beberapa kasus juga bisa lebih serius. Jenis obat, dosis, usia pasien, hingga kondisi kesehatan lain ikut memengaruhi bagaimana tubuh merespons terapi.

Supaya lebih siap dan tidak panik saat mengalaminya, ketahui beberapa efek samping obat epilepsi yang perlu diketahui lewat paparan di bawah ini.

1. Efek samping yang paling umum

Sebagian besar pasien mengalami efek samping ringan, terutama pada awal pengobatan atau saat dosis dinaikkan. Tubuh biasanya butuh waktu untuk beradaptasi. Beberapa keluhan yang paling sering muncul antara lain:

  • Mudah lelah dan mengantuk.

  • Gangguan tidur.

  • Pusing atau merasa tidak seimbang.

  • Gangguan koordinasi.

  • Penglihatan kabur atau ganda.

Efek seperti pusing dan gangguan koordinasi bisa membuat aktivitas seperti mengemudi menjadi berisiko. Karena itu, penting untuk berhati-hati, terutama pada fase awal terapi.

Keluhan pencernaan juga cukup sering terjadi, misalnya:

  • Mual dan muntah.

  • Sembelit.

  • Nyeri atau tidak nyaman di perut.

Biasanya gejala ini muncul pada awal pengobatan dan bisa berkurang jika obat diminum setelah makan atau dengan pengaturan waktu minum yang tepat.

Perubahan suasana hati juga dilaporkan sebagian pasien, seperti mudah marah, cemas, atau merasa murung. Kadang kondisi ini disertai brain fog, yaitu perasaan seperti pikiran melambat atau sulit fokus.

2. Dampak kognitif dan psikologis

Beberapa obat antiepilepsi dapat memengaruhi fungsi kognitif. Pasien mungkin mengalami:

  • Sulit berkonsentrasi.

  • Mudah lupa.

  • Kesulitan mencari kata saat berbicara.

  • Pikiran terasa lambat.

Efek ini kadang terasa mirip dengan gejala epilepsi itu sendiri sehingga bisa menurunkan kualitas hidup bila tidak ditangani dengan baik.

Dari sisi psikologis, efek samping yang mungkin muncul, meliputi:

  • Gelisah.

  • Mudah tersinggung.

  • Perasaan sedih berkepanjangan.

Dalam kasus yang jarang namun serius, ada risiko munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Jika gejala seperti ini muncul, pasien harus segera berkonsultasi dengan dokter.

3. Perubahan fisik dan dampak jangka panjang

ilustrasi obat (unsplash.com/Christine Sandu)

Obat tertentu dapat memengaruhi berat badan. Misalnya, asam valproat sering dikaitkan dengan kenaikan berat badan, sementara obat lain bisa menyebabkan penurunan berat badan.

Efek fisik lain yang mungkin terjadi, meliputi:

  • Rambut rontok.

  • Ruam kulit.

  • Gusi membengkak.

  • Tremor atau tangan gemetar.

  • Sensitivitas terhadap cahaya atau suara.

Penggunaan jangka panjang, terutama obat generasi lama, seperti fenitoin, juga dapat meningkatkan risiko osteoporosis atau penurunan kepadatan tulang.

Masalah lain yang lebih jarang tetapi mungkin terjadi, meliputi gangguan fungsi seksual, gangguan berkemih, dan kelelahan berkepanjangan.

Pada anak-anak, terapi tertentu bisa berdampak pada pertumbuhan atau kemampuan belajar.

4. Risiko serius yang jarang terjadi

Walaupun jarang (kurang dari 1 persen), tetapi beberapa efek samping tergolong darurat medis. Reaksi alergi berat bisa ditandai dengan:

  • Ruam luas yang memburuk.

  • Demam tinggi.

  • Luka pada mulut atau mata.

Dalam kondisi tertentu, ruam bisa berkembang menjadi sindrom Stevens-Johnson yang berbahaya.

Gangguan darah seperti anemia atau trombosit rendah, gangguan fungsi hati, hingga pankreatitis juga bisa terjadi. Karena itu, dokter biasanya menyarankan pemeriksaan darah rutin selama terapi. Beberapa obat seperti karbamazepin juga dapat menyebabkan hiponatremia (kadar natrium rendah), yang bisa memicu kebingungan atau bahkan kejang.

5. Cara mengelola efek samping obat epilepsi

Kabar baiknya, efek samping tidak selalu permanen. Banyak yang membaik setelah tubuh menyesuaikan diri. Beberapa strategi yang bisa dilakukan, meliputi:

  • Menyesuaikan dosis sesuai petunjuk dokter.

  • Mengganti jenis obat jika perlu.

  • Mengatur waktu minum obat.

  • Cukup istirahat.

  • Menjaga hidrasi.

  • Berolahraga ringan untuk menjaga mood.

Jangan pernah menghentikan pengobatan sepihak karena dapat memicu kejang berat bahkan status epileptikus, kondisi darurat yang berbahaya. Mencatat efek samping dalam buku harian juga membantu dokter mengevaluasi terapi secara lebih personal.

Obat epilepsi memang bisa menimbulkan efek samping, tetapi manfaatnya dalam mengontrol kejang sering kali jauh lebih besar dibanding risikonya. Tidak semua orang mengalami efek samping, dan banyak yang bisa dikelola dengan baik melalui komunikasi rutin dengan dokter.

Tujuan utama terapi adalah menemukan keseimbangan antara kontrol kejang dan kualitas hidup. Dengan pendekatan yang tepat dan pemantauan teratur, pasien epilepsi tetap bisa menjalani hidup yang aktif dan bermakna.

Referensi

Epilepsy Action. Diakses pada Februari 2026. "Side Effects of Epilepsy Medicines."

Epilepsy New Zealand. Diakses pada Februari 2026. "Anti-Seizure Medication Side-Effects And Interactions."

Epsy. Diakses pada Februari 2026. "Seizure Medication Side Effects: What To Do About Them?"

Health Experience Insight. Diakses pada Februari 2026. "Side Effects of Epilepsy Medication."

Editorial Team