Comscore Tracker

7 Mitos tentang Autisme yang Banyak Beredar dan Dipercaya

Miskonsepsi tentang autisme ini harus diluruskan

Ada banyak kesalahpahaman yang beredar tentang individu dengan autisme. Kurangnya pemahaman ini dapat membuat orang-orang dengan autisme semakin sulit untuk mengenali kondisi mereka dan mengakses dukungan yang mereka butuhkan. Lebih jauh, kesalahpahaman ini dapat menyebabkan beberapa orang dengan autisme merasa terisolasi dan sendirian.

Untuk lebih memahami individu dengan autisme dan mendukung mereka, penting untuk memiliki informasi yang benar tentang kekuatan dan tantangan mereka. Tulisan ini akan membahas beberapa mitos umum tentang gangguan autisme. Inilah informasinya yang dikumpulkan dari laman Autism Association of Western Australia dan Kennedy Krieger Foundation.

1. Semua orang dengan autisme memiliki disabilitas intelektual

7 Mitos tentang Autisme yang Banyak Beredar dan Dipercayailustrasi anak sedang belajar (unsplash.com/Santi Vedri)

Beberapa orang dengan autisme memiliki disabilitas Intelektual, tetapi sebagian yang lain memiliki intelligence quotient (IQ) dalam kisaran rata-rata atau lebih tinggi. Perkiraan tingkat disabilitas intelektual pada individu dengan autisme sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh tes yang digunakan dan sampel orang yang terlibat.

Pada beberapa kasus, pengukuran IQ dilakukan pada proses penilaian awal autisme. Menentukan IQ pada saat individu masih anak-anak tentunya lebih sulit, dan mungkin hasilnya tidak akurat. Apa pun itu, sangat penting untuk tidak membatasi kesempatan seseorang dalam mendapatkan pendidikan dan interaksi sosial dengan membuat asumsi tentang kemampuan intelektual mereka.

2. Anak-anak dengan autisme tidak berbicara

7 Mitos tentang Autisme yang Banyak Beredar dan Dipercayailustrasi ayah dan anak sedang berbicara (pexels.com/Anete Lusina)

Beberapa anak dengan autisme mungkin mengalami keterlambatan bicara atau tidak menggunakan kata-kata untuk berkomunikasi. Namun, banyak juga orang dengan autisme yang memiliki kemampuan bicara yang sangat baik. Tak jarang, beberapa anak bahkan bisa berbicara lebih awal daripada teman sebayanya.

Penting untuk diingat bahwa meskipun seseorang anak tidak dapat berbicara, tetapi mereka tetap memiliki kapasitas, kebutuhan, dan hak untuk berkomunikasi, dan ini perlu didukung. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan guna mendukung seseorang dengan komunikasi yang kompleks untuk mengekspresikan diri secara efektif, membangun hubungan, mengambil bagian dalam kegiatan sosial, dan berpartisipasi dalam komunitas mereka. Intinya, mereka juga harus diperhatikan agar mendapatkan hak yang sama.

3. Autisme dapat disembuhkan saat anak tumbuh dewasa

7 Mitos tentang Autisme yang Banyak Beredar dan Dipercayailustrasi anak dengan autisme (pexels.com/Alexander Dummer)

Banyak orang mengira bahwa anak yang mengidap autisme mungkin bisa sembuh saat ia dewasa kelak. Sayangnya, para ahli sepakat bahwa tidak ada obat untuk menyembuhkan autisme.

Autisme adalah kondisi spektrum yang memengaruhi orang yang berbeda dengan cara yang berbeda, sehingga dampaknya juga dapat berubah saat orang tersebut melalui berbagai tahap kehidupan mereka.

Meskipun tidak mungkin untuk sembuh dari autisme, tetapi intervensi yang tepat seperti di bawah ini dapat membantu:

  • Memanfaatkan kekuatan dan mengatasi tantangan
  • Dukung individu mengasah keterampilan dan strategi meningkatkan komunikasi dan interaksi sosial, serta memodifikasi atau mengembangkan keterampilan yang telah ada
  • Mengurangi hambatan partisipasi

Dengan dukungan yang tepat, penyandang autisme dapat menjalani kehidupan yang bahagia dan produktif.

Baca Juga: 4 Jenis Autisme yang Perlu Diketahui Orang Awam

4. Orang dengan autisme tidak dapat membentuk hubungan dengan orang lain

7 Mitos tentang Autisme yang Banyak Beredar dan Dipercayailustrasi ibu dan anak (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Penyandang autisme mungkin mengalami gangguan pada interaksi sosial. Kendati demikian, ini bukan berarti mereka tidak dapat membentuk hubungan dengan orang lain. Individu dengan autisme ingin dan dapat memiliki hubungan yang baik dengan keluarga, teman, pasangan, dan anak-anak.

Terlepas dari keinginan seperti itu, sering kali sulit bagi penyandang autisme untuk menavigasi hubungan sosial dan memahami isyarat sosial. Selain itu, penting bagi orang-orang yang memiliki hubungan dengan penyandang autisme untuk memahami perspektif mereka. Misalnya, orang dengan autisme biasanya akan berbicara dengan blak-blakan dan tidak akan menutupi pikiran mereka dengan cara yang diharapkan dalam situasi sosial yang khas, yang dapat menyinggung orang lain.

5. Penyandang autisme paling cocok untuk pekerjaan yang memerlukan tugas berulang

7 Mitos tentang Autisme yang Banyak Beredar dan Dipercayailustrasi bekerja (unsplash.com/SCREEN POST)

Karena autisme merupakan gangguan spektrum, jadi tidak ada jenis pekerjaan khusus yang cocok untuk semua penyandang autisme. Meskipun banyak orang dewasa dengan autisme mungkin menikmati tugas yang berulang, tetapi keyakinan ini tidak bisa dipukul rata untuk semua penyandang autisme. 

Individu dengan autisme juga memiliki banyak kekuatan, bakat, dan keterampilan yang beragam yang akan menguntungkan pemberi kerja. Sayangnya, tingkat pengangguran diperkirakan antara 50 hingga 75 persen untuk orang dewasa dengan autisme. Alasannya, individu dengan autisme sering kekurangan keterampilan sosial yang diperlukan untuk sukses selama wawancara kerja.

6. Autisme adalah gangguan perilaku atau kesehatan mental

7 Mitos tentang Autisme yang Banyak Beredar dan Dipercayailustrasi konseling dengan psikolog atau psikiater (pexels.com/cottonbro)

Tak sedikit orang yang mengira bahwa autisme adalah gangguan perilaku atau kesehatan mental. Namun, sebenarnya, autisme adalah gangguan perkembangan.

Hanya saja, gangguan mental dapat terjadi bersamaan dengan autisme, seperti kecemasan atau depresi. Akan tetapi, intinya autisme sendiri bukanlah gangguan kesehatan mental.

7. Orang dengan autisme tidak merasakan berbagai emosi

7 Mitos tentang Autisme yang Banyak Beredar dan Dipercayailustrasi seorang anak merasa sedih (freepik.com/vh-studio)

Penyandang autisme mungkin mengalami kesulitan mengekspresikan perasaan mereka. Kendati demikian, orang dengan autisme sebenarnya mampu merasakan spektrum emosi yang penuh, bahkan meskipun mereka tidak selalu dapat mengekspresikan ini dengan cara yang mudah ditafsirkan oleh orang-orang di sekitar mereka.

Sebagai bagian dari tantangan komunikasi sosial, tak jarang penyandang autisme kesulitan mengenali dan menafsirkan emosi orang lain, yang dapat menambah kesalahpahaman tentang autisme dan emosi. Namun, ini sama sekali tidak menandakan kurangnya perasaan. Penting untuk diingat bahwa orang dengan autisme memiliki emosi, perhatian, dan kasih sayang sama seperti orang pada umumnya.

Semoga informasi ini dapat membantu meluruskan kesalahpahaman tentang autisme yang banyak beredar di tengah masyarakat. Pada intinya, penting untuk memperlakukan anak-anak dan orang dewasa dengan autisme sebagai individu dengan beragam bakat, kekuatan, dan kebutuhan.

Baca Juga: 7 Hal Penting yang Perlu Dipahami tentang Gangguan Bipolar dan Autisme

Topic:

  • Nurulia R. Fitri
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya