Comscore Tracker

Bisa Menyebabkan Kelumpuhan, Ini 5 Fakta seputar Mielitis Transversa

Gangguan autoimun adalah salah satu penyebabnya

Mielitis transversa atau transverse myelitis (TM) adalah kondisi peradangan pada sumsum tulang belakang. Sumsum tulang belakang merupakan bagian dari sistem saraf pusat, yang mengirimkan impuls dari otak ke saraf tubuh. Selain itu, sumsum tulang belakang juga membawa informasi sensorik kembali ke otak.

Menurut keterangan dari National Institute of Neurological Disorders and Stroke (NINDS), istilah ''mielitis'' mengacu pada radang sumsum tulang belakang, sementara istilah ''transversa'' mengacu pada pola perubahan sensasi, sering kali terdapat sensasi seperti pita di seluruh batang tubuh, dengan perubahan sensorik di bawahnya.

Dilansir Mayo Clinic, mielitis transversa sering kali merusak bahan penyekat yang menutupi serabut sel saraf (mielin). Akibatnya, pesan yang dikirim oleh saraf sumsum tulang belakang ke seluruh tubuh menjadi terganggu, yang nantinya bisa menyebabkan nyeri, kelemahan otot, kelumpuhan, masalah sensorik, atau disfungsi kandung kemih dan usus.

TM bisa menyerang individu pada semua kelompok usia, jenis kelamin, atau ras. Gangguan saraf ini biasanya terjadi antara usia 10 dan 19 tahun, serta 30 dan 39 tahun. Untuk mewaspadai kondisi ini, berikut ini deretan fakta seputar mielitis transversa yang perlu diketahui.

1. Apa penyebabnya?

Bisa Menyebabkan Kelumpuhan, Ini 5 Fakta seputar Mielitis Transversailustrasi penyebab mielitis transversa (osmosis.org)

Penyebab pasti TM tidak diketahui. Infeksi virus, bakteri, dan jamur yang memengaruhi sumsum tulang belakang bisa menjadi penyebabnya. Dalam kebanyakan kasus, gangguan inflamasi muncul sesudah sembuh dari infeksi. Virus yang terkait dengan TM meliputi:

  • Virus herpes, termasuk yang menyebabkan herpes zoster dan cacar air
  • Cytomegalovirus 
  • Virus Epstein-Barr
  • HIV
  • Enterovirus seperti poliovirus dan coxsackierus
  • Virus West Nile
  • Echovirus
  • Zika
  • Influenza
  • Hepatitis B
  • Gondongan, campak, dan rubela

Virus tersebut bisa memicu reaksi autoimun tanpa langsung menginfeksi sumsum tulang belakang.

Sementara itu, infeksi bakteri yang berkaitan dengan TM meliputi:

  • Penyakit Lyme
  • Sifilis
  • Tuberkulosis
  • Actinomyces
  • Pertusis
  • Tetanus
  • Difteri

Infeksi kulit akibat bakteri, gastroenteritis, dan jenis pneumonia bakterial tertentu juga bisa menyebabkan TM. Dalam kasus yang jarang, infeksi parasit dan jamur bisa menginfeksi sumsum tulang belakang. Selain itu, ada sejumlah kondisi peradangan yang tampaknya bisa menyebabkan TM, termasuk:

  • Multiple sclerosis, merupakan kelainan di mana sistem kekebalan tubuh menghancurkan mielin yang mengelilingi saraf di sumsum tulang belakang dan otak. TM bisa menjadi tanda pertama dari multiple sclerosis atau menunjukkan kekambuhan. TM sebagai tanda dari multiple sclerosis biasanya menyebabkan gejala hanya pada satu sisi tubuh.
  • Neuromyelitis optica (penyakit Devic), merupakan suatu kondisi yang menyebabkan peradangan dan hilangnya mielin di sekitar sumsum tulang belakang dan saraf di mata yang mengirimkan informasi ke otak. TM yang berkaitan dengan neuromyelitis optica biasanya memengaruhi kedua sisi tubuh. Selain TM, seseorang mungkin juga mengalami gejala kerusakan mielin saraf optik, termasuk nyeri pada mata dengan gerakan dan kehilangan penglihatan sementara. Ini bisa terjadi dengan atau terpisah dari gejala TM. Namun, beberapa orang dengan neuromyelitis optica tidak mengalami masalah yang berhubungan dengan mata, dan mungkin hanya mengalami episode TM yang berulang.
  • Gangguan autoimun, mungkin berkontribusi pada TM pada beberapa orang. Gangguan ini termasuk lupus, yang bisa memengaruhi banyak sistem tubuh, dan sindrom Sjogren, yang menyebabkan kekeringan parah pada mulut dan mata. TM yang berkaitan dengan gangguan autoimun mungkin merupakan tanda peringatan dari neuromyelitis optica. Neuromyelitis optica lebih sering terjadi pada orang dengan penyakit autoimun lainnya.
  • Vaksinasi, vaksinasi untuk penyakit menular terkadang dihubungkan sebagai pemicu yang mungkin. Namun, saat ini asosiasi tersebut tidak cukup kuat untuk menjamin pembatasan vaksin apa pun.
  • Sarkoidosis, merupakan suatu kondisi yang menyebabkan peradangan di banyak area tubuh, seperti sumsum tulang belakang dan saraf optik. Ini kemungkinan meniru neuromyelitis optica. Namun, biasanya gejala sarkoidosis berkembang lebih lambat. Penyebab sarkoidosis tidak diketahui.

2. Apa saja gejalanya?

Bisa Menyebabkan Kelumpuhan, Ini 5 Fakta seputar Mielitis Transversamielitis transversa atau transverse myelitis (hopkinsmedicine.org)

Tanda dan gejala TM umumnya berkembang selama beberapa jam hingga beberapa hari, dan terkadang berkembang secara bertahap selama beberapa minggu. TM biasanya menyerang kedua sisi tubuh di bawah area sumsum tulang belakang yang terkena. Namun, kadang hanya ada gejala pada satu sisi tubuh.

Tanda dan gejala khas TM meliputi:

  • Rasa sakit. Nyeri pada TM bisa dimulai secara tiba-tiba di punggung bawah. Selain itu, nyeri tajam dapat menyerang kaki atau lengan atau di sekitar dada atau perut. Gejala nyeri bervariasi berdasarkan bagian sumsum tulang belakang yang terpengaruh.
  • Sensasi abnormal. Beberapa orang dengan laporan TM mengalami sensasi mati rasa, kesemutan, dingin, atau terbakar. Beberapa orang sangat sensitif terhadap sentuhan ringan pakaian atau panas atau dingin yang ekstrem. Selain itu, pasien TM mungkin merasa seolah-olah ada sesuatu yang membungkus erat kulit dada, perut, atau kaki.
  • Kelemahan di lengan atau kaki. Beberapa orang melaporkan gejala berat di kaki, atau bahwa mereka tersandung atau menyeret salah satu kaki. Sementara pasien lainnya mungkin mengalami kelemahan parah atau bahkan kelumpuhan total.
  • Masalah kandung kemih dan usus. Ini mungkin termasuk perlu buang air kecil lebih sering, inkontinensia urine, kesulitan buang air kecil, dan sembelit.

Baca Juga: Penyebab Sakit Punggung Bagian Bawah Bisa Jadi karena Gangguan Saraf

3. Apa saja komplikasi yang bisa ditimbulkannya?

Bisa Menyebabkan Kelumpuhan, Ini 5 Fakta seputar Mielitis Transversailustrasi kursi roda (pexels.com/@marcus-aurelius)

Pasien TM umumnya hanya mengalami satu episode. Namun, komplikasi tetap bisa terjadi. Komplikasi TM yang mungkin terjadi yaitu:

  • Nyeri, salah satu komplikasi jangka panjang yang paling sering melemahkan dari gangguan saraf ini
  • Kekakuan, sesak napas, atau kejang yang menyakitkan di otot (spastisitas otot). Ini paling sering terjadi pada bokong dan tungkai
  • Kelumpuhan sebagian atau total pada lengan, kaki, atau bahkan keduanya. Ini mungkin bertahan setelah gejala pertama
  • Disfungsi seksual, yang merupakan komplikasi umum dari TM. Laki-laki mungkin mengalami kesulitan mencapai ereksi atau orgasme, sedangkan perempuan mungkin sulit mencapai orgasme
  • Depresi atau kecemasan, yang umum terjadi pada mereka yang mengalami komplikasi jangka panjang karena perubahan gaya hidup yang signifikan, stres akibat rasa sakit atau kecacatan kronis, dan dampak disfungsi seksual pada hubungan

4. Bagaimana cara dokter mendiagnosisnya?

Bisa Menyebabkan Kelumpuhan, Ini 5 Fakta seputar Mielitis Transversapemeriksaan MRI (beaumont.org)

Dalam proses diagnosis, dokter akan memeriksa riwayat kesehatan pasien dan melakukan pemeriksaan neurologis secara menyeluruh. Menurut keterangan dari NINDS, tes yang bisa membantu menegakkan diagnosis dan menyingkirkan kemungkinan penyebab lainnya meliputi:

  • Pencitraan resonansi magnetik (MRI): untuk menghasilkan tampilan penampang atau gambar tiga dimensi jaringan, termasuk otak dan sumsum tulang belakang. MRI tulang belakang hampir selalu memastikan adanya lesi di dalam sumsum tulang belakang, sementara MRI otak bisa memberikan petunjuk penyebab lain yang mendasari. Dalam beberapa kasus, computed tomography (CT), bisa digunakan untuk mendeteksi peradangan.
  • Tes darah: untuk menyingkirkan kemungkinan berbagai kelainan, termasuk infeksi HIV dan kekurangan vitamin B12. Darah diuji untuk mengetahui adanya autoantibodi (anti-aquaporin-4, anti-mielin oligodendrocite) dan antibodi yang berhubungan dengan kanker (antibodi paraneoplastik). Kehadiran autoantibodi (protein yang diproduksi oleh sel-sel sistem kekebalan) yang berhubungan dengan gangguan autoimun yang menunjukkan penyebab pasti dari TM.
  • Pungsi lumbal dan analisis cairan tulang belakang (juga disebut spinal tap): ini bisa mengidentifikasi lebih banyak protein daripada biasanya pada beberapa orang dengan TM dan peningkatan jumlah sel darah putih (leukosit) yang membantu tubuh untuk melawan infeksi.

Jika dari tes di atas tidak ada yang menunjukkan penyebab spesifik dari TM, maka orang tersebut diduga menderita TM idiopatik (penyebab spesifik tidak terindetifikasi).

5. Bagaimana pengobatannya?

Bisa Menyebabkan Kelumpuhan, Ini 5 Fakta seputar Mielitis Transversailustrasi pengobatan mielitis transversa (terumobct.com)

Perawatan TM dirancang untuk mengatasi infeksi yang bisa menyebabkan gangguan tersebut, mengurangi peradangan sumsum tulang belakang, dan mengelola serta mengurangi gejala.

Menurut keterangan dari NINDS, perawatan dan manajemen awal dari komplikasi TM meliputi:

  • Obat kortikosteroid intravena: bisa mengurangi pembengkakan dan peradangan di tulang belakang dan mengurangi aktivitas sistem kekebalan. Obat ini mungkin termasuk metilprednisolon atau deksametason. Obat-obatan ini juga bisa diberikan untuk mengurangi serangan TM berikutnya pada individu dengan gangguan yang mendasari.
  • Terapi pertukaran plasma (plasmapheresis): bisa digunakan untuk orang-orang yang tidak merespons dengan baik terhadap steroid intravena. Plasmapheresis adalah prosedur yang mengurangi aktivitas sistem kekebalan dengan membuang plasma (cairan di mana sel darah dan antibodi tersuspensi), dan menggantinya dengan cairan khusus, sehingga menghilangkan antibodi dan protein lain yang diduga menyebabkan reaksi inflamasi.
  • Imunoglobulin intravena (IVIG): merupakan pengobatan yang dianggap bisa mengatur ulang sistem kekebalan. IVIG merupakan injeksi antibodi yang sangat terkonsentrasi yang dikumpulkan dari banyak donor sehat yang mengikat antibodi, yang bisa menyebabkan gangguan tersebut dan mengeluarkannya dari sirkulasi.
  • Obat nyeri: bisa mengurangi nyeri otot yaitu meliputi asetaminofen, ibuprofen, dan naproksen. Nyeri saraf bisa diobati dengan obat antidepresan tertentu (seperti duloxetine), pelemas otot (seperti baclofen, tizanidine, atau cyclobenzaprine), dan obat antikonvulsan (seperti gabapentin pregabelin).
  • Obat antivirus: bisa membantu individu yang mempunyai infeksi virus pada sumsum tulang belakang.
  • Pengobatan bisa mengobati gejala dan komplikasi lain: termasuk inkontinensia, kontraksi otot yang menyakitkan yang disebut kejang tonik, kaku, disfungsi seksual, dan depresi.

Sesudah terapi awal, sangat penting untuk menjaga fungsi tubuh selama masa pemulihan. Ini mungkin membutuhkan penempatan pasien TM pada alat bantu pernapasan dalam skenario yang tidak umum, di mana pernapasan sangat terpengaruh.

Itulah deretan fakta medis seputar mielitis transversa, peradangan pada sumsum tulang belakang. Jika memiliki tanda atau gejala yang mengarah pada kondisi ini, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Semakin cepat penyakit ini terdiagnosis dan mendapat perawatan yang tepat, maka semakin besar juga peluang kesembuhannya. 

Baca Juga: Bisa Pengaruhi Sistem Saraf, Berikut Ini 7 Fakta Penting Tetanus

Eliza Ustman Photo Verified Writer Eliza Ustman

'Menulislah dengan hati, maka kamu akan mendapatkan apresiasi yang lebih berarti'

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya