Comscore Tracker

7 Fakta Fibrosis Paru, Penyebabnya Sering Kali Tidak Diketahui

Perawatan penting untuk mencegah penyakit semakin parah

Fibrosis paru adalah sekelompok penyakit paru-paru serius yang memengaruhi sistem pernapasan. Pada penyakit ini, dinding tipis pada kantung udara atau alveolus mengalami jaringan parut atau meninggalkan bekas luka dan mengalami penebalan. Ini membuat alveolus kesulitan melakukan tugasnya dalam membawa oksigen ke seluruh tubuh.

Fibrosis paru dapat menimbulkan kerusakan pada paru-paru yang memburuk secara bertahap seiring waktu. Karena jaringan paru-paru mengeras dan menjadi kaku, pengidapnya akan sulit bernapas, sehingga bisa menyebabkan sesak napas, bahkan saat melakukan aktivitas sehari-hari yang tidak menguras tenaga.

1. Penyebab fibrosis paru

7 Fakta Fibrosis Paru, Penyebabnya Sering Kali Tidak Diketahuiilustrasi sesak napas (pennmedicine.org)

Dilansir Healthline, fibrosis paru memiliki beberapa penyebab yang dapat dibagi menjadi beberapa kategori seperti penyakit autoimun, infeksi, paparan lingkungan, obat-obatan, idiopatik (tidak diketahui), dan genetika.

Sebagian besar kasusnya memiliki penyebab yang tidak diketahui secara pasti, yang disebut sebagai fibrosis paru idiopatik. Genetika juga berperan. Menurut Pulmonary Fibrosis Foundation, sekitar 3 hingga 20 persen orang dengan fibrosis paru idiopatik memiliki anggota keluarga dengan fibrosis paru. Ini disebut sebagai fibrosis paru familial atau pneumonia interstisial familial.

Fibrosis paru juga bisa terjadi akibat penyakit autoimun tertentu, seperti:

  • Artritis reumatoid
  • Lupus eritematosus
  • Skleroderma
  • Polimiositis
  • Dermatomiositis
  • Vaskulitis

Beberapa infeksi juga bisa menyebabkan fibrosis paru, seperti infeksi bakteri dan infeksi virus seperti hepatitis C, adenovirus, virus herpes, dan beberapa virus lainnya.

Paparan lingkungan seperti asap rokok, serat asbes, butiran debu, debu silika, gas tertentu, dan radiasi juga bisa mengakibatkan fibrosis paru-paru dan merusak organ tersebut.

Tidak hanya itu, obat-obatan tertentu juga dapat meningkatkan risiko fibrosis paru bila digunakan secara teratur. Oleh sebab itu, penggunaan obat tersebut memerlukan pemantauan ketat dari dokter. Beberapa obat yang dimaksud meliputi:

  • Obat kemoterapi, seperti siklofosfamid
  • Antibiotik, seperti nitrofurantoin (Macrobid) dan sulfasalazine (Azulfidine)
  • Obat jantung, seperti amiodarone (Nexterone)
  • Obat biologis seperti adalimumab (Humira) atau etanercept (Enbrel)

2. Gejala fibrosis paru

7 Fakta Fibrosis Paru, Penyebabnya Sering Kali Tidak Diketahuiilustrasi batuk kering, salah satu gejala fibrosis paru (myhealth1st.com.au)

Tanda dan gejala fibrosis paru bisa berbeda-beda tergantung penyebabnya, begitu pula tingkat keparahannya. Dilansir WebMD, ada dua gejala yang paling umum pada fibrosis paru, yakni:

  • Sesak napas: seseorang mungkin lebih mudah mengalami sesak napas saat berolahraga. Bila kondisi semakin parah, pengidap juga dapat mengalami kesulitan bernapas bahkan ketika tidak melakukan sesuatu yang sulit atau ketika melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Batuk kering: gejala ini juga biasa diderita pengidap fibrosis paru, dan batuk kering ini terasa sulit dihentikan serta akan memburuk dari waktu ke waktu.

Selain kedua gejala tersebut, tanda dan gejala lain yang mungkin timbul meliputi:

  • Rasa lelah dan tubuh menjadi lemah
  • Sakit dada
  • Sakit atau nyeri otot dan sendi
  • Clubbing, kondisi ujung jari tangan dan kaki menjadi lebih lebar dan bulat
  • Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya
  • Napas lebih cepat dan lebih pendek

3. Faktor risiko fibrosis paru

7 Fakta Fibrosis Paru, Penyebabnya Sering Kali Tidak Diketahuiilustrasi puntung rokok (unsplash.com/Pawel Czerwinski)

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko fibrosis paru. Akan tetapi, memiliki satu atau beberapa di antaranya tidak berarti seseorang akan mengembangkan penyakit ini. Mengutip Cleveland Clinic, faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko fibrosis paru antara lain:

  • Usia yang lebih tua: kebanyakan orang mengembangkan penyakit ini pada paruh kedua kehidupan, yakni sekitar usia 50 hingga 70 tahun.
  • Jenis kelamin laki-laki: fibrosis paru lebih banyak memengaruhi laki-laki. Namun, angka kasusnya pada perempuan dilaporkan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
  • Merokok: rokok memiliki zat-zat berbahaya yang dapat meningkatkan risiko terkena fibrosis paru.
  • Bekerja di sekitar debu atau asap: menghirup bahan kimia atau zat berbahaya secara teratur dapat merusak paru-paru. Petani, peternak, penata rambut, pemoles batu, dan pekerja logam mungkin berisiko lebih tinggi karena bahan kimia yang mereka hirup sehari-hari.

Baca Juga: 9 Gejala Awal Kanker Paru-Paru, Jangan Luput dari Perhatian!

4. Komplikasi fibrosis paru

7 Fakta Fibrosis Paru, Penyebabnya Sering Kali Tidak Diketahuiilustrasi kanker paru-paru, salah satu komplikasi fibrosis paru (pexels.com/Anna Tarazevich)

Mengutip Mayo Clinic, fibrosis paru bisa menyebabkan beragam komplikasi, seperti:

  • Tekanan darah tinggi di paru-paru (hipertensi pulmonal): beberapa bentuk hipertensi pulmonal adalah penyakit serius yang semakin memburuk dan kadang berakibat fatal.
  • Gagal jantung sisi kanan (cor pulmonale): kondisi serius ini terjadi ketika bilik kanan bawah jantung (ventrikel) harus memompa lebih keras dari biasanya untuk memindahkan darah melalui arteri pulmonalis yang tersumbat sebagian.
  • Kegagalan pernapasan: ini biasanya merupakan tahap akhir dari penyakit paru-paru kronis dan kondisi ini terjadi ketika kadar oksigen darah turun sangat rendah.
  • Kanker paru-paru: fibrosis paru yang berlangsung lama dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru.
  • Komplikasi paru-paru: beberapa komplikasi seperti pembekuan darah di paru-paru, paru-paru yang kolaps, atau infeksi paru-paru juga dapat terjadi saat fibrosis paru berkembang.

5. Cara mendiagnosis fibrosis paru

7 Fakta Fibrosis Paru, Penyebabnya Sering Kali Tidak Diketahuiilustrasi diagnosis fibrosis paru (careergirls.org)

Dalam mendiagnosis fibrosis paru, dokter mungkin akan menanyakan riwayat kesehatan dan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengamati gejala. Dokter dapat menggunakan stetoskop untuk mendengarkan suara bernapas.

Fibrosis paru bisa sangat mirip dengan beberapa penyakit paru-paru lain yang lebih umum, sehingga kadang membuat diagnosis menjadi sulit. Beberapa tes yang bisa dilakukan untuk menegakkan diagnosis fibrosis paru meliputi:

  • Tes darah: dilakukan untuk mengidentifikasi alasan gejala. Perkembangan penyakit yang telah didiagnosis juga dapat dilacak dengan tes laboratorium.
  • Tes pencitraan: rontgen dada atau CT scan dapat dengan jelas menunjukkan jaringan parut pada paru-paru.
  • Tes pernapasan: tes ini juga disebut tes fungsi paru, yang menggunakan perangkat berbeda untuk mengukur seberapa baik fungsi dan kapasitas paru-paru.
  • Oxygen desaturation study: mengukur kadar oksigen dalam darah selama sekitar 6 menit.
  • Biopsi: sampel jaringan paru-paru dapat diambil melalui sayatan kecil di tulang rusuk.

6. Pengobatan fibrosis paru

7 Fakta Fibrosis Paru, Penyebabnya Sering Kali Tidak Diketahuiilustrasi pengobatan fibrosis paru (freepik.com/DCStudio)

Fibrosis paru belum ada obatnya dan tidak dapat disembuhkan. Namun, pengobatan tetap penting untuk mengurangi gejala dan penyakit memburuk. Beberapa pengobatan yang bisa dilakukan meliputi:

  • Obat-obatan: pirfenidone (Esbriet) dan nintedanib (Ofev) dapat membantu memperlambat kerusakan paru-paru. Selain itu, dokter mungkin juga menyarankan obat untuk penyakit refluks gastroesofagus (GERD), yang sering terjadi pada orang dengan fibrosis paru.
  • Terapi oksigen: ini tidak akan menghentikan kerusakan paru-paru, tetapi dapat membantu pernapasan, meringankan masalah dari kadar oksigen dalam darah yang rendah, meningkatkan energi, dan membantu pengidap tidur lebih nyenyak.
  • Latihan pernapasan: perawatan ini dapat membantu paru-paru bekerja lebih baik dan untuk jangka waktu yang lebih lama.
  • Transplantasi paru-paru: ini mungkin direkomendasikan bila paru-paru sudah dalam kondisi yang sudah rusak parah.

7. Fibrosis paru mungkin tidak selalu dapat dicegah, tetapi risikonya dapat diturunkan

7 Fakta Fibrosis Paru, Penyebabnya Sering Kali Tidak Diketahuiilustrasi berhenti merokok (IDN Times/Nurulia R. Fitri)

Meskipun beberapa kasus fibrosis paru tidak dapat dicegah, tetapi faktor yang terkait dengan lingkungan dan perilaku masih dapat dikendalikan. Kamu bisa mencegahnya dengan langkah-langkah ini:

  • Tidak merokok atau berhenti merokok
  • Menghindari asap rokok atau tidak menjadi perokok pasif
  • Mengenakan masker atau alat pernapasan lain ketika bekerja di lingkungan yang erat dengan paparan bahan kimia berbahaya

Fibrosis paru adalah penyakit paru-paru serius yang dialami seumur hidup. Walaupun tidak ada obatnya, tetapi pengobatan tetap dibutuhkan guna mengurangi gejala dan memperbaiki kualitas hidup pengidap, serta mencegah kondisi memburuk dan menyebabkan komplikasi berbahaya.

Walaupun kadang tidak dapat dicegah, tetapi fibrosis paru yang disebabkan oleh faktor lingkungan dapat diminimalkan risikonya dengan menjaga kesehatan pernapasan. Perlu diketahui, diagnosis dan pengobatan dini dapat meningkatkan prospek jangka panjang bagi orang-orang dengan penyakit paru-paru, termasuk fibrosis paru.

Baca Juga: Belum Bisa Disembuhkan, Kenali 8 Fakta seputar Asbestosis

Topic:

  • Nurulia R. Fitri
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya