Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Virus Marburg.
ilustrasi virus Marburg (unsplash.com/CDC)

Intinya sih...

  • Etiopia resmi mengakhiri wabah virus Marburg setelah 42 hari tanpa kasus baru.

  • Total 19 kasus tercatat, dengan tingkat kematian yang tergolong tinggi.

  • WHO menegaskan kewaspadaan tetap penting meski wabah telah dinyatakan selesai.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pada 26 Januari 2026, pemerintah Ethiopia secara resmi menyatakan wabah Marburg virus disease (MVD) telah berakhir. Keputusan ini diambil setelah dua periode inkubasi berturut-turut (total 42 hari) tanpa ditemukannya kasus baru, sesuai dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kasus terakhir meninggal dunia pada 14 Desember 2025.

Wabah ini bermula pada November 2025, ketika sejumlah kasus demam berdarah virus terkonfirmasi di Kota Jinka, wilayah selatan Etiopia. Pengujian molekuler oleh Ethiopian Public Health Institute (EPHI) memastikan bahwa penyebabnya adalah virus Marburg, menandai wabah Marburg pertama yang pernah dilaporkan di Ethiopia.

Secara keseluruhan, hingga 25 Januari 2026 tercatat 19 kasus, terdiri dari 14 kasus terkonfirmasi dan 5 kasus probable. Dari jumlah tersebut, 14 orang meninggal dunia. Angka ini mencerminkan betapa mematikannya virus Marburg, terutama ketika deteksi dan perawatan tidak dilakukan sejak dini.

Virus langka dengan risiko tinggi

Virus Marburg termasuk penyakit langka namun sangat berbahaya. Tingkat kematian kasus (case fatality rate) pada berbagai wabah sebelumnya berkisar antara 24–88 persen.

Penularan awal biasanya terjadi dari kelelawar buah ke manusia, lalu menyebar antarmanusia melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, permukaan terkontaminasi, atau praktik perawatan dan pemakaman yang tidak aman.

Gejala MVD muncul secara tiba-tiba setelah masa inkubasi 2–21 hari. Demam tinggi, sakit kepala hebat, nyeri otot, dan rasa lemas sering menjadi awal penyakit, diikuti gangguan pencernaan seperti muntah dan diare. Pada kasus berat, perdarahan dari berbagai organ dapat terjadi, disusul kegagalan organ dan kematian dalam waktu singkat.

Hingga kini, belum ada obat atau vaksin yang disetujui khusus untuk virus Marburg. Namun, perawatan suportif sejak dini seperti pemberian cairan, pengelolaan gejala, dan pemantauan ketat dapat meningkatkan peluang hidup pasien secara signifikan.

Respons cepat dan kewaspadaan ke depan

ilustrasi virus Marburg (commons.wikimedia.org/CDC/ Dr. Erskine Palmer, Russell Regnery, Ph.D.)

Keberhasilan Etiopia mengendalikan wabah ini berkat respons kesehatan masyarakat yang masif. Pemerintah membentuk gugus tugas nasional, mengaktifkan pusat operasi darurat, memperkuat surveilans, melakukan pelacakan kontak, hingga menunjuk rumah sakit khusus untuk perawatan pasien Marburg. Lebih dari 3.800 sampel diuji, dan 857 kontak dipantau hingga menyelesaikan masa observasi 21 hari.

WHO berperan penting dalam mendukung respons ini, mulai dari bantuan teknis, pengiriman perlengkapan darurat, hingga pendampingan komunikasi risiko dan pelibatan komunitas. Upaya ini membantu menekan penyebaran sekaligus melawan misinformasi dan stigma di masyarakat.

Meski wabah virus Marburg telah dinyatakan berakhir, tetapi risiko kemunculan kembali tetap ada, terutama dari reservoir alami virus. Karena itu, kapasitas deteksi dini, edukasi masyarakat, dan kesiapsiagaan layanan kesehatan perlu terus dipertahankan.

Referensi

"Marburg virus disease - Ethiopia." WHO. Diakses Januari 2026.

Editorial Team