ilustrasi bayi menjalani fototerapi di dalam inkubator (pexels.com/Luna Acieloo)
Penanganan tergantung pada tingkat keparahan:
Fototerapi (terapi utama). Bayi ditempatkan di bawah lampu khusus untuk memecah bilirubin. Ini adalah metode yang terbukti efektif, aman, dan terstandarisasi.
Pemberian ASI yang cukup. Menyusui lebih sering membantu mengeluarkan bilirubin melalui tinja dan mencegah dehidrasi.
Transfusi tukar (exchange transfusion). Ini dilakukan pada kasus berat untuk menurunkan kadar bilirubin dengan cepat.
Pemantauan rutin. Kasus ringan biasanya hanya membutuhkan observasi.
Bayi kuning adalah kondisi yang umum dan dalam banyak kasus tidak berbahaya. Namun, tetap ada potensi risiko serius jika kadar bilirubin tidak terkontrol. Karena itu, penting bagi orang tua untuk tidak hanya mengandalkan pengamatan visual, tetapi juga pemeriksaan medis yang tepat.
Pendekatan modern menekankan deteksi dini, pemantauan, dan intervensi yang terukur. Dengan penanganan yang tepat, hampir semua kasus bayi kuning dapat diatasi tanpa komplikasi. Kuncinya adalah memahami kapan kondisi ini normal dan kapan harus segera membawa bayi ke dokter.
Referensi
Alex R. Kemper et al., “Clinical Practice Guideline Revision: Management of Hyperbilirubinemia in the Newborn Infant 35 or More Weeks of Gestation,” PEDIATRICS 150, no. 3 (August 5, 2022), https://doi.org/10.1542/peds.2022-058859.
World Health Organization. “Newborn Health: Guidelines on Neonatal Jaundice.” Diakses April 2026.
Tina M. Slusher and Yvonne E. Vaucher, “Management of Neonatal Jaundice in Low- and Middle-income Countries,” Paediatrics and International Child Health 40, no. 1 (December 25, 2019): 7–10, https://doi.org/10.1080/20469047.2019.1707397.