Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Benarkah Menjemur Bayi Bisa Mengatasi Sakit Kuning? 

Benarkah Menjemur Bayi Bisa Mengatasi Sakit Kuning? 
ilustrasi menjemur bayi kuning (pexels.com/Oleksandr Canary Islands)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Bayi kuning (ikterus neonatorum) umumnya normal, tetapi perlu dipantau karena bisa berbahaya jika kadar bilirubin terlalu tinggi.

  • Menjemur bayi bukan terapi medis yang direkomendasikan, karena manfaatnya tidak konsisten dan risikonya nyata.

  • Fototerapi dan pemantauan medis adalah metode utama yang terbukti aman dan efektif.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Warna kekuningan pada kulit bayi baru lahir sering memicu kekhawatiran orang tua. Di banyak keluarga, respons pertama yang muncul bukan membawa bayi ke dokter, melainkan menjemurnya di bawah sinar matahari pagi. Praktik ini sudah berlangsung turun-temurun dan dipercaya mampu menghilangkan kuning secara alami.

Di satu sisi, keyakinan ini tidak sepenuhnya tanpa dasar. Sinar matahari memang mengandung spektrum cahaya yang secara teori dapat membantu memecah bilirubin. Namun, dalam praktik medis modern, pendekatan ini tidak lagi menjadi pilihan utama karena risikonya.

Memahami tubuh bayi serta bagaimana cara terbaik menanganinya menjadi kunci agar orang tua tidak salah langkah dalam menangani bayi kuning.

Table of Content

1. Mengapa bayi baru lahir tampak kuning?

1. Mengapa bayi baru lahir tampak kuning?

Bayi kuning atau ikterus neonatorum terjadi akibat penumpukan bilirubin dalam darah. Bilirubin adalah zat hasil pemecahan sel darah merah yang seharusnya diproses oleh hati dan dikeluarkan melalui tinja.

Pada bayi baru lahir, hati belum bekerja secara optimal. Akibatnya, bilirubin menumpuk dan menyebabkan kulit serta bagian putih mata tampak kekuningan. Kondisi ini diperkirakan terjadi pada sekitar 60 persen bayi cukup bulan dan 80 persen bayi prematur.

Sebagian besar kasus bersifat fisiologis (normal) dan akan membaik dalam 1–2 minggu. Namun, jika kadar bilirubin terlalu tinggi, kondisi ini bisa berbahaya karena berisiko menyebabkan kernikterus, yaitu kerusakan otak permanen.

2. Apakah bayi kuning perlu dijemur?

Ilustrasi menjemur bayi.
ilustrasi menjemur bayi (pexels.com/Наталья Водопад)

Teorinya, sinar matahari, terutama spektrum biru, memang dapat membantu memecah bilirubin di kulit. Namun, paparan sinar matahari tidak direkomendasikan sebagai terapi utama karena intensitas dan panjang gelombangnya tidak bisa dikontrol.

Bagi bayi, risiko dari sinar matahari antara lain:

  • Kulit bayi sangat sensitif terhadap ultraviolet (UV) membuatnya mudah terbakar (sunburn).
  • Risiko dehidrasi karena kehilangan cairan.
  • Paparan UV dini dikaitkan dengan risiko kanker kulit di masa depan.

Penelitian menegaskan bahwa paparan UV pada bayi harus dibatasi karena dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan kulit.

Ada pula risiko dari polusi udara, khususnya jika tinggal di area perkotaan dan/atau dekat dengan jalan raya yang padat kendaraan.

Di daerah dengan kualitas udara buruk, bayi bisa menghirup partikel halus seperti PM2.5. Studi menunjukkan, paparan polusi udara pada bayi berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan, termasuk sistem pernapasan dan perkembangan awal.

3. Cara yang lebih disarankan oleh para ahli

Pendekatan medis modern jauh lebih terukur dan aman. Cara yang lebih disarankan oleh para ahli untuk mengatasi bayi kuning di antaranya:

  • Fototerapi

Ini adalah terapi utama untuk bayi kuning dengan kadar bilirubin tinggi. Bayi ditempatkan di bawah lampu khusus dengan panjang gelombang tertentu yang efektif memecah bilirubin.

Fototerapi terbukti aman dan efektif, dengan kontrol penuh terhadap intensitas cahaya dan durasi paparan.

  • Pemberian ASI yang cukup

Frekuensi menyusui yang baik membantu mempercepat pengeluaran bilirubin dan mencegah dehidrasi.

  • Pemantauan dokter

Dokter akan memantau kadar bilirubin melalui pemeriksaan darah atau alat khusus. Ini penting untuk menentukan apakah bayi butuh intervensi lebih lanjut.

4. Tips jika orang tua tetap ingin menjemur bayi

Ilustrasi menjemur bayi kuning.
ilustrasi menjemur bayi kuning (pexels.com/Canary Islands)

Jika tetap ingin menjemur bayi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk meminimalkan risiko:

  • Pilih waktu pagi (sebelum jam 09.00).
  • Durasi singkat (5–10 menit).
  • Hindari paparan langsung terlalu lama.
  • Lindungi mata dan wajah bayi.
  • Pastikan kualitas udara baik (tidak berpolusi).

Namun perlu diingat, ini bukan pengganti pengobatan medis.

Menjemur bayi untuk mengatasi kuning adalah praktik yang berakar dari pemahaman lama, yang sebagian memiliki dasar ilmiah, tetapi tidak cukup kuat untuk dijadikan terapi utama. Dalam dunia medis modern, pendekatan yang lebih aman dan terukur seperti fototerapi jauh lebih diandalkan.

Bagi orang tua, keputusan terbaik adalah yang berbasis bukti. Menjemur bayi mungkin terlihat sederhana, tetapi tanpa kontrol yang tepat, manfaatnya terbatas dan risikonya nyata. Dalam kondisi seperti bayi kuning, konsultasi dengan dokter tetap menjadi langkah terbaik.

Referensi

Alex R. Kemper et al., “Clinical Practice Guideline Revision: Management of Hyperbilirubinemia in the Newborn Infant 35 or More Weeks of Gestation,” PEDIATRICS 150, no. 3 (August 5, 2022), https://doi.org/10.1542/peds.2022-058859.

Tina M. Slusher et al., “A Randomized Trial of Phototherapy With Filtered Sunlight in African Neonates,” New England Journal of Medicine 373, no. 12 (September 16, 2015): 1115–24, https://doi.org/10.1056/nejmoa1501074.

Balk, Sophie J. “Ultraviolet Radiation: A Hazard to Children and Adolescents.” PEDIATRICS 127, no. 3 (March 1, 2011): e791–817. https://doi.org/10.1542/peds.2010-3502.

Reinhard Kaiser et al., “Air Pollution Attributable Postneonatal Infant Mortality in U.S. Metropolitan Areas: A Risk Assessment Study,” Environmental Health 3, no. 1 (May 5, 2004): 4, https://doi.org/10.1186/1476-069x-3-4.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More